See More

19 Agustus 2026, 16:52

19 Agustus 2026, 16:39

19 Agustus 2026, 16:33

19 Agustus 2026, 16:20

19 Agustus 2026, 16:14

19 Agustus 2026, 16:04
Artificial Intelligence (AI)|ancaman siber|kaspersky|Academic Partners Summit 2026|Global Research and Analysis Team (GReAT)
Oleh: Corri

Foto : istimewa
Pasardana.id — Kaspersky menggelar Academic Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8), yang mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi keamanan siber, dan akademisi untuk membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Mengusung tema “AI, Security, and Society: What’s Next for Our Digital Future?”, forum tersebut menyoroti peluang dan risiko AI di tengah pesatnya transformasi digital, khususnya di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.
Salah satu perhatian utama adalah kebutuhan sumber daya manusia (SDM) keamanan siber.
Meski kemampuan AI dalam menyerang maupun mempertahankan sistem digital semakin berkembang, penilaian manusia, pemikiran kritis, dan pengambilan keputusan etis dinilai tetap menjadi faktor penting.
Kaspersky mencatat, kawasan Asia-Pasifik menyumbang 60% dari kesenjangan talenta siber global, sementara 95% tim keamanan masih menghadapi kekurangan tenaga ahli.
Di Asia Tenggara, 65% pekerjaan keamanan siber mensyaratkan pengalaman kerja tiga tahun atau kurang.
Di Indonesia dan ASEAN, tantangan pengembangan talenta juga mencakup keterbatasan instruktur kompeten serta materi pelatihan berbahasa lokal.
Karena itu, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah dinilai penting untuk mencetak tenaga profesional keamanan siber.
“Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting,” ujar Evgeniya Russkikh, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, dalam siaran pers, Rabu (19/8).
AI Dorong Evolusi Malware
Forum tersebut juga membahas meningkatnya pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber.
Teknologi ini kini digunakan untuk mendukung phishing, pembuatan deepfake, pengembangan malware, pengintaian, penelitian kerentanan, pembuatan alat eksploitasi, hingga otomatisasi operasi siber.
Evolusi tersebut berlangsung cepat.
Pada 2022, AI terutama digunakan sebagai asisten pengetahuan untuk pengembangan malware.
Penggunaannya berkembang pada 2023-2024 untuk membantu penulisan kode, pengintaian, dan phishing, sebelum semakin terintegrasi dalam alur pengembangan malware pada 2025.
Kaspersky memperkirakan tahap berikutnya dapat mengarah pada malware bersifat agentic yang mampu menjalankan aktivitas secara lebih otonom.
“AI mengubah aspek ekonomi dan kecepatan kejahatan siber,” kata Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky.
Menurutnya, perkembangan tersebut membuat profesional keamanan siber, peneliti, dan pendidik perlu memahami cara AI digunakan oleh pelaku ancaman agar pertahanan dapat dipersiapkan menghadapi generasi serangan berikutnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Kaspersky menilai penerapan AI harus diimbangi dengan penguatan keahlian manusia, tata kelola, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan pertimbangan etis.
AI kini bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan kekuatan strategis yang berpotensi memengaruhi ekonomi, ketahanan nasional, dan keamanan Indonesia.
“Pentingnya berpikir kritis, ko-kreativitas dengan AI, kolaborasi terbuka, komunikasi yang baik, serta sikap yang tepat terhadap keamanan siber,” ujar Prof. Ridi Ferdiana, Direktur Direktorat Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada.
Kaspersky menegaskan, kolaborasi lintas sektor serta penguatan pendidikan dan SDM keamanan siber menjadi kunci agar transformasi digital Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik berlangsung aman, inklusif, dan berkelanjutan.