Tiket Konser Jadi Ladang Penipuan, Privy Dorong Digital ID untuk Tutup Celah Aksi Calo
Oleh: Corri

Foto : istimewa
Pasardana.id – Penipuan berkedok tiket konser dari pihak ketiga atau “calo” yang menyebabkan kerugian finansial kembali mencuat.
Salah satunya terjadi pada tiket konser BTS World Tour ARIRANG di Jakarta.
Setelah tiket habis terjual dalam hitungan menit, para calo yang membeli tiket dalam jumlah besar menjual kembali tiketnya dengan harga berlipat, mendorong maraknya penipuan karena penjualan di luar kanal resmi.
Sejumlah korban mengalami kerugian mulai dari Rp2,5 juta hingga puluhan juta rupiah akibat membeli tiket yang ternyata tidak valid karena dijual ke lebih dari satu pembeli dan penjual yang menghilang penjual begitu pembayaran diterima.
Merespon fenomena ini, Founder & CEO Privy, Marshall Pribadi mengatakan, kasus penipuan serupa merupakan kejadian berulang dan menggambarkan urgensi peran infrastruktur identitas digital dalam ekosistem tciketing yang masih perlu dibenahi.
“Saat ini, platform tiket resmi telah mewajibkan memasukkan nomor KTP saat pembelian. Namun, input nomor KTP secara manual tidak memverifikasi bahwa orang yang menginput adalah benarbenar pemilik identitas tersebut. Sehingga para oknum masih bisa menimbun tiket menggunakan identitas pihak lain sebagai gerbang awal penipuan. Artinya, penipuan tiket konser ini bukan hanya soal kriminalitas, namun juga cerminan kurangnya infrastruktur yang dapat memverifikasi identitas digital secara sah di ranah ekosistem ticketing. Ketika pembelian tiket diintegrasikan dengan identitas digital yang terveirifkasi, satu Digital ID hanya bisa membeli tiket untuk satu NIK yang sama. Calo yang mencoba membeli tiket dalam jumlah banyak dengan menggunakan identitas orang lain tidak akan bisa melewati proses verifikasi ini,” jelas Marshall, dalam keterangan tertulis, Jumat (03/7).
Lebih dari sekedar mencegah calo, Marshall menjelaskan bahwa integrasi dengan identitas digital juga memungkinkan penyelenggara menerapkan filter yang selama ini sulit dilakukan seperti pembatasan pembelian usia untuk acara tertentu, atau pembatasan domisili untuk memastikan tiket tersedia bagi audiens yang tepat.
“Dengan begitu, penggunaan identitas digital mendorong ekosistem ticketing lebih aman, nyaman, dan akuntabel,” imbuh Marshall.
Untuk diketahui, sejumlah negara pun tengah mengeksplorasi integrasi identitas digital pada ekosistem ticketing seperti Korea Selatan – negara asal BTS – dimana salah satu platform tiket InterparkTriple bersama agensi band musik seperti HYBE dan fintech Toss mengembangkan sistem verifikasi biometrik wajah yang diterapkan sejak tahap pembelian, bukan hanya saat masuk venue untuk memastikan satu pembelian benar-benar terikat pada satu identitas asli.
Begitu juga dengan negara tetangga Singapura yang sedang menjajaki integrasi platform penjualan tiket yaitu Ticketmaster dengan Singpass sebagai identitas digital nasional.
Namun sayangnya, integrasi ini belum terimplementasi di Indonesia.
Privy Dorong Implementasi Digital ID di Ekosistem Ticketing
Infrastruktur inilah yang telah dihadirkan Privy melalui fitur Digital ID sebagai solusi identitas digital terverifikasi melalui dua layanan utama: PrivyHub dan Login with Privy.
PrivyHub berperan sebagai trusted gateway atau portal layanan terverifikasi di dalam aplikasi Privy, tempat pengguna dapat menemukan dan mengakses merchants lintas industri tanpa berpindah aplikasi.
Sementara itu, Login with Privy memungkinkan pengguna login atau mendaftar di aplikasi dan website merchants menggunakan Privy ID yang telah terverifikasi, dengan tetap memastikan persetujuan pengguna.
“Dalam konteks ticketing, kedua fitur digital identity Privy tersebut memungkinkan setiap pembelian tiket terikat pada satu individu yang telah diverifikasi dan memungkinkan pengecekan biometrik, sehingga menghindari adanya pemalsuan identitas pada pembelian tiket. Ketika pembelian tiket konser ataupun akivitas lainnya terikat pada identitas digital yang terverifikasi, calo tidak bisa lagi membeli massal menggunakan identitas orang lain, dan penjualan tiket ilegal dari pihak ketiga dapat diminimalisir karena identitas setiap pihak yang bertransaksi bisa dibuktikan,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Marshall mengatakan, pihaknya akan segera mendorong integrasi identitas digital terverifikasi melalui fitur Privy Digital ID pada ekosistem ticketing.
Terlebih saat ini, sejumlah platform dari berbagai sektor telah membuktikan efektivitas layanan Privy Digital ID.
“Mulai dari platform investasi emas digital seperti Treasury yang mencatat 16.000 pengguna terverifikasi melalui Login with Privy. Begitu juga dengan media massa Kompas dan Tempo, platform EdTech Belajarlagi, dan platform visa digital SPUN yang menggunakan fitur tersebut untuk mempercepat onboarding pengguna terverifikasi. Keberhasilan di berbagai industri ini menjadi landasan kuat bagi industri ticketing untuk mewujudkan ekosistem ticketing yang lebih aman,” ujar Marshall.
Selain itu, sebagai satu-satunya Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) yang memberikan Certificate Warranty hingga Rp1 miliar, Privy tidak berhenti pada verifikasi identitas.
“Jaminan ini memberikan perlindungan finansial apabila terbukti terjadi kerugian akibat penyalahgunaan identitas pada sertifikat elektronik yang diterbitkan Privy, sehingga setiap transaksi yang melibatkan identitas digital oleh Privy bukan hanya aman, namun juga dijamin,” ungkap Marshall.





