See More

30 Juli 2026, 16:35

30 Juli 2026, 15:38

30 Juli 2026, 14:43

30 Juli 2026, 14:36

30 Juli 2026, 14:25

30 Juli 2026, 14:13
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (28/07/2026). S&P 500 naik 0,21% menjadi 7.428,78 dan Dow Jones Industrial Average menguat 1,03% menjadi 52.747,32, didorong oleh penurunan harga minyak dan laporan pendapatan perusahaan yang solid.
Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 0,22% menjadi 24.876,91 karena tekanan jual pada saham semikonduktor.
Aksi jual dipicu oleh kekhawatiran atas pengeluaran investasi AI yang tinggi setelah saham Nvidia jatuh tajam menyusul laporan rencana pendanaan proyek pusat data OpenAI senilai sekitar US$250 miliar, yang memicu rotasi dana dari sektor chip ke saham defensif seperti barang konsumsi pokok dan perawatan kesehatan.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati menjelang dua katalis utama, yaitu keputusan suku bunga Fed dan laporan pendapatan Microsoft dan Meta yang akan dirilis pada hari Rabu. Investor akan mengamati panduan pengeluaran modal perusahaan teknologi besar untuk menilai keberlanjutan investasi AI di tengah meningkatnya kekhawatiran atas pengembalian investasi yang tidak pasti. Di sisi lain, musim pendapatan sejauh ini tetap solid, dengan hampir 90% perusahaan yang melaporkan melampaui ekspektasi. Konsensus pertumbuhan pendapatan S&P 500 kuartal kedua diperkirakan sekitar 34% YoY, tetap menjadi dukungan utama pasar.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mereda sementara setelah Amerika Serikat dan Iran mempertahankan jeda dalam konflik. Penurunan harga minyak mencerminkan meredanya kekhawatiran atas gangguan pasokan energi. Meskipun demikian, Presiden Donald Trump kembali memperingatkan bahwa serangan militer terhadap Iran dapat dilanjutkan jika proses negosiasi gagal mencapai kesepakatan.
REGULASI & KEBIJAKAN: Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan ini, meskipun beberapa pelaku pasar masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi kembali meningkat. Investor juga akan memperhatikan konferensi pers Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek kebijakan moneter di masa depan, terutama setelah ia menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas harga dan melakukan peninjauan kerangka kebijakan moneter.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) sedikit melemah menjadi sekitar 101,3 setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi 15 bulan. Penurunan harga energi mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun turun menjadi 4,59%, sementara imbal hasil 2 tahun turun menjadi 4,29%, mencerminkan peningkatan permintaan aset safe haven. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun bertahan di sekitar 2,77% menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Jepang, sementara nilai tukar USD/JPY berada di sekitar 163,7 per dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar menguat. DAX Jerman naik 0,5% menjadi 25.492, didukung oleh laporan pendapatan perusahaan yang positif dan penurunan harga minyak. CAC 40 Prancis menguat 0,6%, sementara STOXX Europe 600 naik 0,35%. Sebaliknya, FTSE MIB Italia turun 0,7% karena tekanan pada saham energi dan kekhawatiran atas pengeluaran AI, sementara FTSE 100 Inggris menguat 0,9% ke level tertinggi sejak akhir Februari.
-Pasar Asia ditutup beragam dengan tekanan berat pada sektor teknologi. Hang Seng Hong Kong naik 0,4% menjadi 25.311, mengungguli pasar regional. Sebaliknya, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 3,95% dan TOPIX turun 2,52%, sementara KOSPI Korea Selatan merosot 10,84% karena aksi jual besar-besaran saham semikonduktor seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Di Tiongkok, Shanghai Composite turun 1,16% dan Shenzhen Component melemah 4,52%, didorong oleh pelemahan di sektor chip.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas cenderung beragam pada perdagangan Selasa (28/07/2026). Harga WTI turun lebih dari 4% menjadi US$83/barel, sementara Brent juga melemah lebih dari 4% menjadi sekitar US$88/barel, didorong oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah. Harga batu bara termal berada di sekitar US$130/ton (-0,04%). Di sisi logam mulia, emas turun 1,42% menjadi sekitar US$4.018/oz karena penguatan dolar AS menjelang keputusan The Fed, sementara tembaga melemah 0,58% menjadi di bawah US$6,3/lb. CPO Malaysia turun 0,66% menjadi di bawah MYR4.650/ton, menyusul pelemahan minyak nabati global. Sementara itu, harga timah naik 1,04% menjadi US$54.341/ton, sedangkan nikel turun 1,88% menjadi sekitar US$16.945/ton akibat aksi ambil untung setelah mengalami kenaikan dalam beberapa minggu terakhir.
AGENDA HARI INI:
-Amerika Serikat (AS): Perubahan Stok Minyak Mentah API, Suku Bunga Hipotek 30 Tahun MBA, Perubahan Stok Minyak Mentah EIA, dan Perubahan Stok Bensin EIA.
-Tiongkok (CN): Pertemuan Politbiro.
INDONESIA: Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku bisnis masih menerapkan strategi tunggu dan lihat pada paruh kedua tahun 2026 dan menunda ekspansi baru di tengah ketidakpastian permintaan domestik dan global. Meskipun proyek investasi yang sedang berjalan terus berlanjut, APINDO menganggap peningkatan iklim bisnis melalui penyederhanaan regulasi, reformasi perizinan, dan kepastian hukum yang lebih besar sebagai faktor kunci dalam memulihkan kepercayaan investor. Selain itu, APINDO juga mendesak percepatan penyelesaian berbagai kendala industri, seperti pasokan bahan baku, harga gas industri, garam, dan gula industri, untuk meningkatkan daya saing, mendorong investasi, dan melestarikan penciptaan lapangan kerja.
-Sementara itu, Asosiasi Produsen Minyak Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) untuk program B50 wajib akan meningkat menjadi 16–17 juta ton pada tahun 2027 seiring dengan implementasi penuh kebijakan tersebut.Peningkatan konsumsi domestik diperkirakan berpotensi mengurangi volume ekspor CPO di tengah produksi nasional yang masih cenderung stagnan. Namun, untuk tahun 2026, kebutuhan CPO tambahan masih diperkirakan sekitar 14,5 juta ton, sehingga belum memberikan tekanan signifikan pada pasokan nasional. Sementara itu, ekspor CPO Indonesia hingga Mei 2026 masih mencatat pertumbuhan 9,3% YoY, menunjukkan bahwa permintaan global tetap kuat.
-JCI ditutup turun 0,89% pada level 6.130,59 pada perdagangan Selasa (28/07), setelah bergerak dalam kisaran 6.130,59 – 6.199,44. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan aksi jual investor asing, yang mencatat penjualan bersih sebesar Rp788,57 miliar di Pasar Reguler dan Rp1,07 triliun di seluruh pasar. Arus masuk dana asing terutama diarahkan ke TINS, BRPT, BBCA, GGRM, dan RAJA, sementara tekanan jual terbesar tercatat di BMRI, BBRI, TPIA, ANTM, dan BUMI. Sementara itu, Rupiah melemah hingga mendekati Rp18.100/US$, tertekan oleh penguatan dolar AS menjelang keputusan suku bunga The Fed. Di dalam negeri, sentimen investor juga diselimuti ketidakpastian menyusul pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, yang mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati.
-Secara teknis, JCI melanjutkan candlestick bearish dan ditutup tepat di area retracement Fibonacci 38,20% (6.130), sekaligus di bawah EMA10 (6.175) dan sedikit di atas EMA20 (6.120). Kondisi ini menunjukkan momentum jangka pendek kembali melemah setelah gagal mempertahankan kekuatan sebelumnya. RSI (14) turun ke 50,7, mencerminkan berlanjutnya pelemahan momentum bullish mendekati wilayah netral, membuka kemungkinan koreksi lebih lanjut jika tekanan jual berlanjut. Jika level Fibonacci 38,20% di 6.130 gagal bertahan, JCI berpotensi terus melemah menuju area 6.050 – 6.040, kemudian menguji 5.987 dan FR 61,80% di sekitar 5.930 sebagai support berikutnya. Sebaliknya, jika berhasil bertahan di atas 6.130 dan memantul kembali, JCI perlu menembus kembali EMA10 di 6.175, kemudian 6.199 – 6.220 sebagai resistensi terdekat.
“Kami menyarankan investor untuk menunggu dan melihat sambil memantau pergerakan JCI di sekitar area support 6.130. Investor yang telah memperoleh keuntungan disarankan untuk menerapkan trailing stop atau mengambil keuntungan secara bertahap jika JCI menembus level tersebut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (29/7).