Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (19/8/2026): IHSG Berpotensi Bullish

Oleh: Ria

19 Agustus 2026, 08:41
ANALIS MARKET (19/8/2026): IHSG Berpotensi Bullish

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Selasa (18/08/2026), dengan penjualan di pasar obligasi AS sebagai tekanan utama pada saham, khususnya sektor teknologi yang sensitif terhadap imbal hasil.

S&P 500 turun 0,69% menjadi 7.691,76, Dow Jones Industrial Average melemah 0,22% menjadi 53.343,40, sementara Nasdaq Composite mengalami koreksi terbesar, turun 1,33% menjadi 26.289,71.

Setelah menguat sepanjang Agustus, pasar mulai menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil jangka panjang dan harga minyak.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif di tengah rotasi keluar dari saham teknologi dan AI ke sektor defensif. Sektor teknologi S&P 500 adalah yang terlemah, turun 1,9%, sementara sektor kesehatan dan barang konsumsi pokok masing-masing menguat hampir 1,6% dan 1,1%. Investor juga mulai fokus pada keberlanjutan reli saham AI, khususnya menjelang laporan pendapatan Nvidia pada 26 Agustus dan Broadcom pada 2 September, yang dianggap penting untuk menentukan momentum pasar ke depan.

GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran tetap menjadi fokus utama setelah kedua pihak belum mencapai kesepakatan mengenai Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan dengan Iran dan blokade angkatan laut AS berlanjut, sementara Selat Hormuz dikatakan tetap terbuka. Ketidakpastian ini membuat kekhawatiran atas pasokan energi tetap tinggi dan mendorong harga minyak untuk terus naik.

REGULASI & KEBIJAKAN: Investor akan memperhatikan notulen rapat FOMC bulan Juli untuk mencari petunjuk tentang arah kebijakan moneter Fed. Tiga Presiden Federal Reserve regional sebelumnya menentang keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap, sehingga pasar akan memperhatikan apakah notulen tersebut menunjukkan pandangan yang lebih agresif terhadap kebijakan moneter di masa mendatang.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi AS kembali mengalami aksi jual, terutama pada tenor panjang. Imbal hasil obligasi Treasury AS 30 tahun sempat mencapai 5,335%, level tertinggi sejak Juni 2007, sebelum turun menjadi 5,290%, sementara imbal hasil 10 tahun naik mendekati 4,75%, level tertinggi dalam 20 bulan. Imbal hasil 2 tahun relatif stabil di 4,19%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik menjadi sekitar 2,95%, level tertinggi sejak 1996. Di pasar valuta asing, DXY bergerak di sekitar 99,5, Euro menguat menjadi US$1,160, sementara Yen melemah melewati JPY159,5 per dolar AS.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar melemah. FTSE 100 Inggris bergerak lebih tinggi, didukung oleh saham-saham energi. Indeks DAX Jerman turun 0,8% menjadi 26.152, CAC 40 Prancis melemah 0,8% menjadi 8.509, FTSE MIB Italia turun 1,1% menjadi 53.018, sementara STOXX Europe 600 terkoreksi 0,69% menjadi 651,90.

-Pasar Asia bergerak beragam. Nikkei 225 Jepang turun 2,54% menjadi 67.461, Shanghai Composite naik 0,19% menjadi 3.990,3, sementara Shenzhen Component turun 0,56% menjadi 14.622,5. Hang Seng relatif stabil, naik 0,1% menjadi 25.471, sementara KOSPI Korea Selatan turun 1,55% menjadi 6.870. Indeks BSE Sensex India turun 0,6%, FKLCI Malaysia naik 0,43%, dan STI Singapura melemah 1,16%.

KOMODITAS: Harga energi terus menguat, dengan Brent naik 0,49% menjadi di atas US$91/barel dan WTI menguat 0,97% menjadi di atas US$85/barel. Batubara termal relatif stabil di sekitar US$129,75/ton, naik 0,35%. Di sisi logam, emas turun 1,95% menjadi US$4.329/oz dan tembaga melemah 2,47% menjadi US$6,44/lb. CPO Malaysia naik 0,78% menjadi MYR4.574/ton, timah turun 0,75% menjadi US$55.770/ton, sementara nikel naik 0,24% menjadi sekitar US$16.790/ton.

INDONESIA: Pemerintah menargetkan penerimaan pajak tahun 2027 sebesar Rp2.591,4 triliun, naik 12,1% dari perkiraan tahun 2026, sementara belanja perpajakan diproyeksikan mencapai Rp632 triliun, naik 9,6%. Perlambatan pertumbuhan belanja perpajakan ini dinilai bukan mencerminkan pengurangan insentif, melainkan penajaman sasaran insentif agar lebih terfokus, terukur, dan memiliki batasan waktu. Dari sisi fiskal, defisit Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 ditargetkan sebesar Rp671,2 triliun atau 2,40% dari PDB, yang mengindikasikan konsolidasi fiskal yang cukup kuat. Selain itu, pemerintah diperkirakan akan lebih mengandalkan ekstensifikasi dan intensifikasi pajak untuk mengejar tambahan penerimaan sebesar Rp280,6 triliun pada tahun 2027 tanpa menaikkan tarif pajak. Penguatan sistem Coretax berbasis analitik data, perluasan basis pajak, dan pengawasan berbasis teknologi berpotensi meningkatkan frekuensi permintaan data, audit, serta sengketa pajak, yang pada akhirnya meningkatkan biaya kepatuhan bagi pelaku usaha. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% juga dinilai cukup ambisius, di mana CORE memproyeksikan kisaran pertumbuhan yang lebih realistis di angka 5,3%–5,6%.

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,75% di level 6.449,83 pada perdagangan hari Selasa (18/8), bergerak dalam rentang 6.448,26–6.490,65 sepanjang sesi. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp689,26 miliar di Pasar Reguler dan jual bersih sebesar Rp355,17 miliar di seluruh pasar. Arus masuk dana asing terutama tertuju pada saham ANTM, BBCA, INET, INDY, dan PSAB, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada saham ISAT, BBRI, DSSA, TPIA, dan ASII. Sementara itu, nilai tukar Rupiah melemah tipis ke kisaran Rp17.850 per dolar AS pada hari Selasa setelah perdagangan yang lesu pada sesi sebelumnya. Sentimen pasar tetap berhati-hati seiring dimulainya rapat kebijakan dua hari Bank Indonesia, dengan keputusan suku bunga yang dijadwalkan akan diumumkan hari ini.

-Secara teknikal, IHSG masih mempertahankan tren bullish jangka pendeknya dan berada di atas EMA10 (6.347,02), EMA20 (6.283,65), serta EMA50 (6.281,95). Pergerakan IHSG juga tetap berada di atas area support dinamis dan garis tren naik (uptrend line), sehingga momentum penguatan masih terjaga. Indikator RSI (14) berada di level 61,46—masih di atas level 50—yang mengindikasikan momentum bullish yang cukup kuat, meskipun indeks mulai mendekati area resistance. Jika IHSG mampu menembus area 6.490–6.500, potensi penguatan dapat berlanjut menuju kisaran 6.672–6.723 sebagai target resistance berikutnya. Sebaliknya, jika gagal menembus resistance tersebut, IHSG berpotensi mengalami koreksi (pullback) ke level 6.377, lalu 6.347 (EMA10), dengan support yang lebih kuat di kisaran 6.283–6.282 (EMA20–EMA50).

“Selama IHSG bertahan di atas area 6.347–6.377, bias teknikal tetap bullish; dengan demikian, strategi dapat difokuskan pada buy on weakness sembari memantau konfirmasi rebound di area support, sementara penembusan ke bawah EMA10 perlu dicermati sebagai indikasi awal melemahnya momentum,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (19/8).

Berita Terkini

See More