ANALIS MARKET (14/7/2026): Momentum Bullish Mulai Menguat
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Senin (13/07/26), dipicu oleh aksi jual saham teknologi dan semikonduktor di tengah munculnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks S&P 500 turun 0,8% menjadi 7.515,34, Nasdaq Composite melemah 1,6% menjadi 25.873,18, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,3% menjadi 52.498,64.
Tekanan terberat datang dari saham AI dan semikonduktor, dengan Nvidia turun 3,5%, Broadcom -4,0%, AMD -4,2%, Intel -6,1%, dan SK Hynix ADR anjlok 8,6% setelah debut kuatnya di Nasdaq minggu lalu.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar bergeser ke arah penghindaran risiko seiring dengan meningkatnya kekhawatiran atas prospek pengeluaran infrastruktur AI dan memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Aksi jual saham teknologi dipicu oleh koreksi tajam pada saham semikonduktor Korea Selatan setelah muncul kekhawatiran bahwa permintaan AI mulai melambat dan valuasi di sektor tersebut dianggap terlalu tinggi. Di sisi lain, lonjakan harga minyak akibat ketegangan AS-Iran membawa kembali risiko inflasi global, mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Fokus pasar minggu ini tertuju pada rilis data inflasi AS (CPI dan PPI) serta dimulainya musim pendapatan kuartal kedua, yang diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz menyusul serangkaian serangan baru antara AS dan Iran. Iran juga menegaskan bahwa mereka akan membatasi pengiriman hingga stabilitas regional dipulihkan. Eskalasi ini mendorong premi risiko geopolitik lebih tinggi lagi, memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global.
REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga stabilitas harga dan siap bertindak lebih agresif jika tekanan inflasi kembali meningkat. Gubernur Fed Christopher Waller menyatakan bahwa data inflasi tinggi lainnya akan dianggap sebagai sinyal kuat bahwa tekanan harga terus berlanjut. Sementara itu, pasar juga mengamati dengan saksama kesaksian Ketua Fed Kevin Warsh di Kongres minggu depan, yang diharapkan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang arah kebijakan moneter di masa depan.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) sedikit menguat menjadi sekitar 101, didukung oleh meningkatnya permintaan aset safe-haven karena ketegangan geopolitik. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik menjadi 4,59%, tertinggi dalam hampir dua bulan, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS 2 tahun meningkat menjadi 4,30%, mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun tajam menjadi sekitar 2,70% setelah pemerintah mendorong dana pensiun domestik untuk meningkatkan kepemilikan obligasi pemerintah mereka. Yen Jepang melemah menjadi sekitar 162 per dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak beragam. DAX Jerman naik 0,2%, CAC 40 Prancis menguat 0,3%, dan FTSE MIB Italia naik 0,4% didukung oleh kenaikan di sektor energi bersamaan dengan lonjakan harga minyak. Sementara itu, FTSE 100 Inggris bergerak relatif datar dan STOXX Europe 600 sedikit turun sebesar 0,01%.
-Pasar Asia didominasi oleh pelemahan. KOSPI Korea Selatan anjlok 8,95% karena penjualan besar-besaran di saham semikonduktor, sementara Nikkei 225 Jepang turun 1,92%. Shanghai Composite melemah 2,06% dan Shenzhen Component turun 3,48% seiring dengan meningkatnya sentimen penghindaran risiko. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong masih berhasil menguat 0,2%, sementara BSE Sensex India ditutup sedikit lebih tinggi berkat kenaikan di sektor teknologi.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas bervariasi dengan kenaikan yang mendominasi sektor energi. Brent melonjak lebih dari 9% menjadi sekitar US$83/barel, sementara WTI naik hampir 9% menjadi sekitar US$78/barel setelah AS memberlakukan kembali blokade terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Sebaliknya, emas turun lebih dari 2% menjadi sekitar US$4.020/ounce karena kenaikan imbal hasil obligasi AS mengurangi daya tarik logam mulia tersebut. Batubara termal Australia melemah di bawah US$130/ton karena permintaan yang lemah dari India yang berkelanjutan. Tembaga turun menjadi sekitar US$6,16/lb, sementara CPO Malaysia pulih di atas MYR4.500/ton didukung oleh pelemahan ringgit dan kenaikan harga minyak nabati global. Harga timah turun menjadi sekitar US$52.000/ton karena kekhawatiran atas prospek pengeluaran AI, sementara nikel bertahan di sekitar US$16.530/ton, mendekati level terendahnya sejak akhir Desember karena ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.
INDONESIA: S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit kedaulatan Indonesia di BBB dengan prospek Stabil serta peringkat jangka pendek A-2. S&P menilai bahwa pelemahan kondisi fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara, dipicu oleh harga energi yang tinggi, suku bunga global, pelemahan rupiah, dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Lembaga tersebut memproyeksikan bahwa fundamental Indonesia akan membaik seiring dengan kenaikan harga komoditas, pemulihan pendapatan negara, dan implementasi kebijakan yang lebih konsisten, termasuk optimalisasi pengelolaan sektor sumber daya alam. S&P juga menegaskan kembali keyakinannya bahwa pemerintah akan menjaga defisit APBN di bawah 3% dari PDB sebagai jangkar utama kebijakan fiskal. Konfirmasi peringkat ini menjadi sentimen positif bagi pasar karena mencerminkan kepercayaan lembaga pemeringkat terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.
-Di sisi lain, komunitas bisnis memproyeksikan bahwa sektor industri Indonesia akan membaik secara bertahap pada paruh kedua tahun 2026, meskipun masih dibayangi oleh ketidakpastian global yang berasal dari dinamika geopolitik. Apindo menyatakan bahwa pelaku bisnis terus menerapkan optimisme yang hati-hati, seiring dengan mulai meredanya tekanan dari harga energi dan biaya logistik. Namun, sejumlah indikator domestik masih menunjukkan moderasi dalam aktivitas industri, yang tercermin dalam PMI Manufaktur Juni yang berada di angka 46,9, penurunan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menjadi 52,90, serta melemahnya Indeks Penjualan Riil (IPR). Selain itu, permintaan ekspor yang lemah dan rantai pasokan global yang belum pulih tetap menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, meskipun prospek ekonomi Indonesia tetap didukung oleh stabilitas makro dan kredibilitas fiskal, percepatan pemulihan sektor riil masih sangat bergantung pada stabilitas geopolitik, peningkatan permintaan global, penguatan daya beli domestik, percepatan investasi, deregulasi, dan kepastian kebijakan pemerintah.
-JCI ditutup lebih tinggi sebesar 1,92% ke level 6.037,84 setelah bergerak dalam kisaran 5.898,15 – 6.037,84. Meskipun indeks menguat, investor asing masih mencatat penjualan bersih sebesar Rp412,50 miliar di pasar reguler dan Rp437,66 miliar di semua pasar (all market), sehingga penjualan bersih kumulatif tahun berjalan (YTD) mencapai Rp91,00 triliun. Aksi penjualan asing terutama terjadi di BBCA, MAPI, ASII, TINS, dan DEWA, sementara pembelian bersih tercatat di TPIA, BRPT, BMRI, BRMS, dan BUMI. Di pasar valuta asing, Rupiah melemah 0,43% menjadi Rp18.158 per dolar AS, memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut seiring dengan meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset safe-haven karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran atas kenaikan harga energi.
-Secara teknis, JCI berhasil menembus resistensi terdekatnya serta kembali bergerak di atas EMA10 dan EMA20, menunjukkan bahwa tekanan jual mulai mereda dan membuka peluang untuk kelanjutan tren naik jangka pendek. Selama mampu bertahan di atas area breakout, JCI berpotensi untuk melanjutkan penguatannya menuju kisaran 6.121 – 6.171. Jika mampu menembus area tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju resistensi dinamis EMA50 di sekitar 6.285. Sementara itu, support terdekat berada di 5.987 dan 5.949, dengan support kuat berikutnya di 5.898 jika tekanan jual kembali meningkat. RSI (14) naik ke 50,9 dan berhasil kembali di atas level 50, menunjukkan bahwa momentum bullish mulai menguat.
“Kami menyarankan investor untuk tetap mengikuti tren dengan menerapkan trailing stop untuk mengunci keuntungan yang telah terbentuk. Penambahan posisi (averaging up) dapat dilakukan secara bertahap jika JCI mampu mempertahankan momentumnya di atas area breakout dan melanjutkan penguatannya menuju resistensi 6.121 – 6.171,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (14/7).




