Privy|Rasio kewirausahaan Indonesia|ekosistem wirausaha|National Founders Connect 2026|Mata Garuda LPDP

Rasio Kewirausahaan Indonesia Masih Minim, Privy Ajak Alumni LPDP Bangun Bisnis dari Masalah Nyata

Oleh: Corri

01 Juli 2026, 13:48
Rasio Kewirausahaan Indonesia Masih Minim, Privy Ajak Alumni LPDP Bangun Bisnis dari Masalah Nyata

Foto : istimewa

Pasardana.id – Rasio kewirausahaan Indonesia saat ini masih berada di angka 3,29% dari total tenaga kerja, atau sekitar 4,9 juta wirausaha.

Angka ini berada di bawah sejumlah negara tetangga seperti Singapura (8,76%), Malaysia (4,74%), dan Thailand (4,26%).

Untuk mendorong perekonomian nasional dengan mencetak pertumbuhan wirausahawan baru, program untuk mempersiapkan talenta wirausahawan perlu digencarkan di berbagai kalangan termasuk bagi alumni penerima beasiswa LPDP.

Hal tersebut menjadi sorotan dalam National Founders Connect 2026 yang diadakan oleh Mata Garuda LPDP, organisasi resmi alumni penerima beasiswa LPDP yang mempertemukan founder, investor, inovator, dan pemimpin bisnis dan awardees LPDP.

Dalam sesi “Beyond Profit: Building Impact-Driven Businesses Across B2C & B2B Markets”, Founder dan CEO Privy, Marshall Pribadi yang telah membangun bisnis identitas dan kepercayaan digital Privy selama sepuluh tahun ini membagikan pengalamannya membangun bisnis yang berangkat dari kebutuhan nyata di masyarakat hingga dipercaya oleh 71 juta pengguna individu terverifikasi dan lebih dari 200.000 institusi serta perusahaan di Indonesia.

Marshall memaparkan, bahwa Privy berangkat dari upaya menjawab tantangan mendasar, yaitu memastikan kepercayaan dan keaslian identitas dalam transaksi digital.

"Menurut saya, bisnis yang bertahan lama bukanlah bisnis yang dibangun karena melihat peluang sesaat, melainkan bisnis yang mampu menyelesaikan masalah yang benar-benar dirasakan masyarakat. Ketika kita fokus menciptakan solusi yang relevan dan memberikan manfaat nyata, maka kepercayaan akan terbentuk, pengguna akan datang, dan bisnis memiliki fondasi yang kuat untuk terus bertumbuh," ujar Marshall, dalam keterangannya, Rabu (01/7).

Relevansi solusi tersebut terbukti seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Privy mencatat sebanyak lebih dari 156 juta dokumen ditandatangani secara elektronik serta mendeteksi dan mencegah lebih dari 122 juta upaya kecurangan digital, termasuk pemalsuan identitas berbasis AI, dan mencatat 138 juta dokumen diverifikasi melalui fitur Verifikasi Dokumen.

Privy juga menjadi satu-satunya institusi di Indonesia yang memberikan Certificate Warranty hingga Rp 1 miliar sebagai jaminan atas keaslian sertifikat elektronik yang diterbitkan melalui platformnya.

Marshall turut menyoroti bahwa banyak founders terlalu cepat berfokus pada pendanaan, padahal fondasi bisnis yang kuat dimulai dari pemahaman mendalam terhadap masalah yang ingin diselesaikan.

"Banyak founders yang berpikir bahwa langkah berikutnya adalah mencari investor. Padahal yang lebih penting adalah memastikan bahwa kita memahami masalah yang ingin diselesaikan dan memiliki komitmen untuk membangun solusinya. Ketika fondasi itu sudah kuat, investor biasanya akan datang sebagai partner untuk mempercepat pertumbuhan, bukan menjadi tujuan utama," jelasnya.

Pandangan tersebut turut diamini oleh Eddi Danusaputro, Managing Partner BNI Ventures, yang menegaskan, bahwa investor kini semakin selektif dalam melihat kemampuan startup menciptakan nilai yang nyata.

"Perusahaan yang mampu menjawab kebutuhan pasar dan menunjukkan arah pertumbuhan yang jelas akan memiliki daya tarik yang lebih kuat di mata investor," ungkap Eddi.

Privy sendiri telah membuktikan pendekatan ini melalui sejumlah pencapaian strategis: kemitraan dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai mitra resmi Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) di sistem Coretax selama dua tahun berturut-turut, peluncuran fitur Digital Identity untuk memperkuat kepercayaan digital, hingga rencana ekspansi Privy Personal Plan ke ranah global untuk mendorong adopsi ekosistem digital trust di lingkup nasional dan internasional.

Menutup sesi, Marshall mengajak para-alumni LPDP untuk mengambil peran lebih besar dalam mendorong kewirausahaan di Indonesia melalui kolaborasi.

"Indonesia memiliki banyak talenta hebat dan potensi yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kita menciptakan lebih banyak ruang kolaborasi agar orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bisa saling bertemu, bertukar ide, dan membangun solusi bersama. Dari kolaborasi seperti itulah inovasi yang mampu memberikan dampak besar biasanya lahir," tambah Marshall.

Melalui forum ini, Marshall berharap, semakin banyak alumni LPDP yang memanfaatkan bekal pendidikan dan jaringan mereka untuk membangun bisnis dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, sekaligus berkontribusi mendorong rasio kewirausahaan Indonesia agar semakin kompetitif di kancah global.

Berita Terkini

See More