ANALIS MARKET (29/6/2026): IHSG Masih dalam Fase Konsolidasi
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Jumat (26/06/26), dengan Dow Jones Industrial Average turun 0,09% menjadi 51.876,11, S&P 500 terkoreksi 0,05% menjadi 7.354,02, dan Nasdaq Composite melemah 0,24%.
Pelemahan pasar dipicu oleh aksi jual saham sektor teknologi dan bahan baku, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas pengeluaran infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang tinggi dan aksi ambil untung setelah reli panjang.
Meskipun demikian, sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti Microsoft, Salesforce, dan IBM berhasil mencatatkan kenaikan yang signifikan, sehingga menahan pelemahan indeks yang lebih dalam.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati (risk-off) di tengah meningkatnya kekhawatiran investor atas valuasi saham teknologi yang dianggap semakin mahal. Tekanan jual pada saham semikonduktor dan perusahaan yang terkait dengan infrastruktur AI memicu pelemahan di pasar global. Meskipun demikian, kondisi pasar di Wall Street tetap relatif positif dengan jumlah saham yang naik masih lebih banyak daripada saham yang turun, yang mencerminkan bahwa rotasi sektor masih berlangsung dan minat investor pada aset berisiko belum sepenuhnya hilang.
GEOPOLITIK: Perhatian investor tetap tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen pasar sedikit membaik setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani pakta perdamaian sementara yang membuka peluang untuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Perjanjian tersebut meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global, sehingga juga memberikan tekanan ke bawah pada harga minyak dunia dan membantu menjaga stabilitas sentimen pasar keuangan.
REGULASI & KEBIJAKAN: Para pelaku pasar terus memantau dengan cermat prospek kebijakan moneter Federal Reserve setelah data inflasi PCE AS dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar. Data tersebut mendorong investor untuk sedikit mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga Fed tahun ini. Selain itu, meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat menjadi salah satu faktor yang membatasi apresiasi aset berisiko.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,10% ke level 101,10. Pelemahan dolar terjadi meskipun pasar masih mengharapkan kebijakan The Fed tetap relatif ketat. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun bergerak stabil di level 4,39% dan tercatat turun 7bps sepanjang minggu setelah laporan inflasi PCE dirilis sesuai dengan ekspektasi. Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS 2 tahun turun ke level 4,10%, mencerminkan berkurangnya tekanan pada ekspektasi kenaikan suku bunga jangka pendek. Di pasar mata uang, pasangan USD/JPY sedikit turun ke level 161,74, sementara EUR/USD menguat 0,18% ke level 1,14. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun menjadi sekitar 2,61% meskipun inflasi inti Tokyo tercatat meningkat untuk pertama kalinya dalam delapan bulan terakhir.
PASAR EROPA & ASIA: Mayoritas pasar saham Eropa ditutup lebih rendah pada perdagangan Jumat (26/06/26). Indeks STOXX Europe 600 (EU600) turun 0,68% menjadi 635,88, tertekan oleh aksi jual saham teknologi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas valuasi sektor AI. Indeks DAX Jerman terkoreksi sekitar 1,3% ke level 24.671, menandai level terendahnya dalam dua minggu dan menghentikan reli dua hari sebelumnya. CAC 40 Prancis turun 0,5% ke level 8.385 karena tekanan penjualan yang berkelanjutan pada saham teknologi, sementara FTSE MIB Italia melemah 1,0% ke level 51.265. Di Inggris, FTSE 100 juga ditutup lebih rendah menyusul penurunan harga minyak dan aksi jual saham teknologi.
-Di Asia, sebagian besar pasar saham juga ditutup lebih rendah. Nikkei 225 Jepang anjlok 4,15% ke level 69.361, sementara TOPIX turun 1,32% menjadi 3.963 karena tekanan pada saham teknologi di tengah kekhawatiran atas pengeluaran infrastruktur AI yang besar. Di Tiongkok, Shanghai Composite turun 2,26% ke level 4.027 dan Shenzhen Component melemah 3,44% menjadi 15.782 karena aksi jual tajam saham teknologi. KOSPI Korea Selatan terkoreksi 5,81% ke level 8.411, menyusul pelemahan Wall Street dan aksi ambil untung. Sementara itu, indeks Straits Times Singapura turun 0,52% ke level 5.192.
KOMODITAS: Harga minyak melanjutkan koreksinya seiring dengan meredanya kekhawatiran atas gangguan pasokan global setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani pakta perdamaian sementara yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Minyak mentah WTI untuk pengiriman Agustus turun 2,86% menjadi USD69,86 per barel, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman September melemah 3,10% menjadi USD73,16 per barel.
-Kontrak emas berjangka untuk pengiriman Agustus menguat 0,92% atau naik USD37,10 menjadi USD4.084,70 per troy ounce, didukung oleh meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan kehati-hatian investor terhadap prospek pertumbuhan global. Sementara itu, harga batu bara termal turun di bawah USD145 per ton, sedangkan tembaga tetap di bawah USD6 per pound dan timah di Inggris turun menjadi USD51.100 per ton karena prospek permintaan yang memburuk dari sektor infrastruktur AI.
AGENDA HARI INI: Jepang (JP): Penjualan Ritel Mei YoY; Pembangunan Perumahan Mei YoY. Spanyol (ES): Tingkat Inflasi Awal Juni MoM; Tingkat Inflasi Awal Juni YoY. Britania Raya (GB): Kredit Konsumen Bank of England Mei; Persetujuan Hipotek Mei; Pemberian Pinjaman Hipotek Mei. Zona Euro (EA): Sentimen Ekonomi Juni.
INDONESIA: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh hingga 8% seiring dengan semakin kuatnya fondasi ekonomi nasional, reformasi fiskal yang sedang berlangsung, serta meningkatnya kontribusi dari investasi dan sektor swasta terhadap pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menilai bahwa ketahanan ekonomi domestik telah terbukti mampu menghadapi berbagai tekanan global, sehingga ruang untuk percepatan pertumbuhan tetap terbuka lebar karena berbagai mesin pertumbuhan ekonomi baru mulai beroperasi. Untuk mencapai target ini, pemerintah akan mendorong pertumbuhan secara bertahap menuju kisaran 6% sebelum meningkat lebih tinggi, didukung oleh sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Salah satu fokus utama pemerintah adalah memperkuat sektor ekspor melalui program pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk UMKM pengekspor dengan suku bunga maksimal 6% per tahun, yang bahkan dapat ditekan hingga 4% untuk mempercepat ekspansi ekspor nasional. Selain itu, reformasi di bidang perpajakan dan bea cukai terus diupayakan untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus menciptakan ruang fiskal yang lebih besar untuk mendukung pembangunan dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
-Selain itu, pemerintah menekankan bahwa proses restitusi pajak tidak mengalami perlambatan atau penangguhan. Hingga empat bulan pertama tahun 2026, pemerintah telah menyalurkan restitusi sekitar Rp160 triliun, setara dengan total restitusi yang dicapai dalam sembilan bulan tahun sebelumnya. Jika tren ini berlanjut, total restitusi sepanjang tahun diperkirakan mencapai sekitar Rp500 triliun. Peningkatan restitusi ini dinilai positif bagi dunia bisnis karena mampu meningkatkan arus kas perusahaan, terutama untuk sektor manufaktur dan eksportir, sekaligus mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi dan kepatuhan pajak. Pemerintah juga memastikan bahwa proses pengembalian pajak akan tetap dilaksanakan sesuai peraturan sambil menjaga akuntabilitas dan keberlanjutan fiskal negara.
-JCI ditutup lebih rendah sebesar 1,72% ke level 5.896,13. Investor asing kembali mencatat penjualan bersih sebesar Rp302,24 miliar, sehingga penjualan bersih kumulatif sepanjang tahun mencapai Rp85,96 triliun. Tekanan penjualan asing terutama terjadi di BMRI, EMAS, ASII, BRPT, dan TLKM, sementara arus masuk dana asing tercatat di BBCA, DSSA, BBRI, AMMN, dan ANTM. Meskipun aksi jual asing terus berlanjut, minat beli pada sejumlah saham berkapitalisasi besar membantu membatasi tekanan pada JCI.
“Secara teknis, pergerakan indeks masih dalam fase konsolidasi dengan pelaku pasar memantau kemampuan JCI untuk bertahan di area support 5.882 / 5.688 / 5.520, sementara resistance terdekat berada di kisaran 5.996 –6.013 / 6.097 / 6.221 –6.287,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalm riset Senin (29/6).





