Survei Sun Life: Inflasi Bikin 83% Rumah Tangga Asia Kesulitan Bayar Pengeluaran Bulanan
Oleh: Corri

Foto : istimewa
Pasardana.id - Sun Life Asia meluncurkan Financial Resilience Index ketiga: Asia menghadapi kenaikan biaya hidup, mengungkap wawasan baru tentang dampak krisis biaya hidup di Asia, Rabu (10/6).
Di saat inflasi tinggi terus berdampak pada perekonomian global, laporan tahun ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya hidup terus menekan keluarga, melemahkan ketahanan finansial, dan membuat rumah tangga kurang siap menghadapi masa depan.
Anggaran sangat terbatas, lebih dari delapan di antara sepuluh responden survei (83%) mengatakan bahwa mereka lebih sulit memenuhi biaya bulanan akibat inflasi.
Temuan ini menyoroti dampak inflasi di dunia nyata akibat masalah geopolitik dan ekonomi makro, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan guncangan harga minyak yang diakibatkannya, sehingga memperketat anggaran keluarga.
Kenaikan biaya hidup sehari-hari menjadi tekanan paling mendesak bagi rumah tangga di Asia, di mana harga bahan makanan memengaruhi 95% penduduk, diikuti oleh biaya utilitas (94%), bahan bakar transportasi (92%), bahan bakar masak (91%), dan layanan kesehatan (91%).
Menurut hampir separuh (48%) dari responden survei, kenaikan biaya adalah hambatan terbesar untuk mengendalikan keuangan mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan keuangan di tahun 2026 sangat dipengaruhi oleh kemampuan membayar.
Menurut lebih dari delapan di antara sepuluh (83%) responden, semakin sulit menutupi pengeluaran bulanan mereka.
Akibatnya, rumah tangga melakukan pengorbanan jangka pendek untuk menyeimbangkan keuangan.
Namun kompromi tersebut mengorbankan keamanan finansial jangka panjang dan kemampuan untuk menghadapi tantangan di masa depan.
"Hal yang menonjol tahun ini adalah kuatnya tekanan biaya sekaligus dampaknya terhadap perubahan perilaku keuangan. Biaya hidup yang meningkat memaksa masyarakat berpikir ulang tentang cara mengelola keuangan sehari-hari karena harga makanan, bahan bakar, dan tagihan rumah tangga semakin menekan anggaran.Akibatnya, banyak orang menjadi lebih berfokus pada keputusan keuangan jangka pendek, dan perubahan ini mulai memengaruhi ketahanan keuangan mereka," terang David Broom, Chief Client and Distribution Officer di Sun Life Asia, seperti dilansir dalam siaran pers, Rabu (10/6).
Lebih Sedikit Keluarga yang Sangat Siap Menghadapi Tekanan Keuangan
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, persentase rumah tangga dengan ketahanan finansial yang kuat turun dari 32% pada 2025 menjadi 25% tahun ini.
Karena cadangan keuangan keluarga kian menipis, hanya 13% menyatakan bahwa mereka benar-benar merasa aman tentang situasi keuangan mereka, turun dari 19% tahun lalu.
Hal ini semakin menegaskan besarnya dampak keuangan di Asia.
Untuk mengatasi peningkatan pengeluaran sehari-hari, masyarakat membuat perencanaan keuangan jangka pendek dan membuat keputusan yang mengganggu stabilitas keuangan jangka panjang.
Keputusan jangka pendek menjadi penyebab utama penurunan ketahanan keuangan di Asia; satu dari empat responden menarik tabungan, 27% mengurangi atau melewatkan pengeluaran penting, dan 10% menunda iuran pensiun.
Mengelola pengeluaran sehari-hari menjadi prioritas utama bagi 53% responden selama 12 bulan ke depan, lebih penting daripada menabung, investasi, atau perencanaan jangka panjang.
Lebih dari separuh (55%) responden tidak memiliki rencana keuangan atau hanya merencanakan keuangan sampai setahun ke depan, 61% responden tidak akan mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa dukungan keuangan dari luar seandainya kehilangan pekerjaan atau sakit.
Literasi Keuangan Mendorong Kepercayaan Diri
Meskipun tekanan biaya hidup terasa di seluruh Asia, dampaknya tidak dirasakan secara merata. Literasi keuangan menjadi faktor pembeda utama.
Mereka yang memiliki pengetahuan dan keahlian keuangan lebih kuat akan jauh lebih mungkin percaya diri terhadap situasi keuangan mereka dan tetap optimis menatap masa depan meskipun saat ini mengalami tantangan.
Rumah tangga yang memiliki tingkat literasi keuangan lebih tinggi cenderung lebih percaya diri (hingga 48 poin persentase), lebih cenderung merasa optimis (hingga 43 poin), dan lebih jarang mengalami stres (hingga 14 poin).
Perbedaan ini juga tercermin dalam perilaku, karena rumah tangga yang kemampuan finansialnya lebih kuat cenderung memiliki perencanaan masa depan dan mempertahankan kebiasaan keuangan jangka panjang, sedangkan rumah tangga lain tetap berfokus pada pengeluaran jangka pendek.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, akses ke informasi keuangan telah jauh lebih berkembang, termasuk meningkatnya penggunaan alat AI generatif dalam pengambilan keputusan keuangan.
Sekitar dua pertiga (60%) responden mengatakan bahwa mereka rutin menggunakan alat GenAI untuk mendapatkan saran keuangan dibandingkan 18% responden pada tahun 2025.
Namun, akses lebih besar terhadap informasi belum konsisten menghasilkan tingkat kepercayaan diri dan kesiapan finansial yang lebih baik di seluruh kelompok masyarakat.
Literasi keuangan yang kuat tetap menjadi faktor pembeda utama dalam cara rumah tangga bereaksi terhadap tekanan ekonomi.
Di masa yang penuh gejolak, ketahanan keuangan rumah tangga menjadi semakin tidak merata di Asia.
Meskipun tekanan biaya memengaruhi rumah tangga di semua tingkat pendapatan, perbedaan pengetahuan keuangan dan akses terhadap bimbingan juga memengaruhi cara mereka meresponi.
Mereka yang lebih terinformasi cenderung tetap percaya diri dan tetap berfokus pada tujuan jangka panjang meskipun menghadapi tekanan terus-menerus.
Broom mengatakan, "Bila keputusan keuangan menjadi lebih bersifat jangka pendek, orang-orang berisiko kehilangan fokus terhadap hasil jangka panjang. Sekalipun akses terhadap informasi dan perangkat semakin mudah, mengambil keputusan keuangan yang kompleks tetap membutuhkan bimbingan. Di sinilah peran penting nasihat keuangan profesional dalam membantu masyarakat mengubah pilihan jangka pendek menjadi rencana jangka panjang."





