ANALIS MARKET (06/2/2026): Antisipasi Volatilitas Harga dan Yield SBN Berdenominasi Rupiah
Pasardana.id – Riset harian fixed income BNI Sekuritas menyebutkan, harga Surat Utang Negara (SUN) ditutup bervariatif pada sesi perdagangan kemarin (05/2).
Berdasarkan data PHEI, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) naik sebesar 1 bp ke level 5,64%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) tidak berubah di level 6,29%.
Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) naik sebesar 2 bp ke level 6,33%.
Level yield curve 10-tahun masih berada di dalam weekly estimated range di kisaran 6,21%-6,40%.
Adapun volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp31,2 triliun kemarin, lebih tinggi dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp28,1 triliun.
FR0071 dan FR0082 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp4,0 triliun dan Rp3,5 triliun. Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp3,9 triliun.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada 4Q25 terhadap 4Q24 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,39% (YoY), lebih tinggi dibandingkan estimasi 5,10% oleh para ekonom yang disurvei Bloomberg.
Secara full-year 2025, ekonomi Indonesia tumbuh tumbuh 5,11% pada 2025, laju pertumbuhan tertinggi sejak 2022 (BPS, Bloomberg).
Di sisi lain, Lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service mempertahankan peringkat utang Indonesia di level investment grade Baa2, namun menurunkan outlook Indonesia dari Stable menjadi Negative.
Moody’s menyampaikan bahwa perubahan ini mencerminkan menurunnya prediktabilitas penyusunan kebijakan, yang berisiko menurunkan efektivitas kebijakan dan kekhawatiran terkait tata kelola. (Moody’s, Bloomberg)
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah sebesar 0,39%, bergerak dari level Rp16.777/US$ di hari Rabu menjadi Rp16.842/US$ kemarin.
Dari eksternal, US Bureau of Labor Statistics melaporkan job opening di bulan Desember 2025 tercatat sebesar 6,5 juta lowongan kerja, turun 386 ribu dibandingkan bulan sebelumnya.
Angka tersebut merupakan yang terendah sejak September 2020 dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,2 juta lowongan kerja (BLS, Tradingeconomics).
Data CME FedWatch Tools terkini menunjukkan para market participant mengantisipasi pemangkasan FFR oleh the Fed yang lebih awal pasca rilis data pasar tenaga kerja AS.
Per Jumat (06/2) pagi ini, indikator global menunjukkan sentimen yang cenderung mixed.
Yield curve US Treasury (UST) 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 9bp dan 8bp dari hari sebelumnya menjadi 3,74% dan 4,21%.
Namun, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia meningkat 3bp menjadi 80bp, seiring dengan penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s dari Stable menjadi Negative.
Selain CDS 5-tahun Indonesia, penurunan outlook tersebut juga dapat berdampak terhadap pelemahan Rupiah, yang jika terjadi pelemahan signifikan berpotensi mendorong penerbitan SRBI yang lebih agresif oleh Bank Indonesia.
Namun demikian, perubahan outlook tidak serta-merta berujung pada penurunan peringkat.
Pada fase awal pandemi COVID-19, S&P merevisi outlook peringkat utang Indonesia menjadi Negative pada April 2020 dan mempertahankannya dalam periode yang cukup panjang sebelum mengembalikannya ke Stable pada tahun 2022, tanpa disertai penurunan peringkat.
Data DJPPR per 4 Februari menunjukkan porsi investor asing atas SBN Rupiah yang dapat diperdagangkan berada di level Rp884,0 triliun atau 13,2% dari total outstanding.
Dalam beberapa tahun terakhir, porsi investor asing masih dalam tren penurunan dari 14,9% (Desember 2023), 14,5% (Desember 2024), dan 13,4% (Desember 2025).
“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi peningkatan volatilitas untuk harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0100, FR0068, FR0103, FR0108, FR0098, FR0106,” terang Head of Fixed Income BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Jumat (06/2).

