ANALIS MARKET (26/2/2026): Antisipasi Kondisi yang Stabil dengan Volatilitas Terbatas untuk Harga dan Yield SBN Berdenominasi Rupiah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Fixed Income BNI Sekuritas menyebutkan, Harga Surat Utang Negara (SUN) ditutup mixed dengan kecenderungan menguat pada sesi perdagangan kemarin.

Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) tidak bergerak di level 5,72%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) turun sebesar 2 bp menjadi 6,41%.

Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) turun sebesar 2 bp ke level 6,43%.

Level yield curve 10-tahun masih berada di dalam weekly estimated range di kisaran 6,23%-6,48%.

Sedangkan volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp24,8 triliun kemarin, lebih rendah dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp40,0 triliun.

FR0108 dan FR0109 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp3,3 triliun dan Rp1,9 triliun.

Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp9,2 triliun.

Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menguat sebesar 0,17%, bergerak dari level Rp16.829/US$ di hari Selasa menjadi Rp16.800/US$ kemarin.

Adapun per Kamis (26/2) pagi ini, indikator global menunjukkan sentimen yang mixed.

Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia turun sebesar 1bp dari hari sebelumnya menjadi 81bp.

Sementara itu, yield curve US Treasury (UST) 5-tahun bertahan di 3,61% dan yield curve UST 10-tahun meningkat tipis sebesar 1bp menjadi 4,05%.

“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi kondisi yang stabil dengan volatilitas terbatas untuk harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0100, FR0080, FR0103, FR0108, FR0098, FR0083,” sebut Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Kamis (26/2).