ANALIS MARKET (07/10/2026): IHSG Momentum Bullish
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada hari Selasa (06/10/26), didukung oleh meredanya kenaikan imbal hasil obligasi serta penguatan saham-saham sektor teknologi dan AI.
Indeks S&P 500 naik 0,58% dan Nasdaq 100 naik 0,45% hingga mencapai rekor tertinggi baru, sementara Dow Jones menguat 253 poin.
Sentimen membaik setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turun menjadi 5,26% dari level tertinggi dalam 24 tahun di angka 5,33%, meskipun imbal hasil tetap tinggi di tengah kekhawatiran inflasi, defisit fiskal AS, dan peningkatan penerbitan utang korporasi.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif seiring meredanya tekanan di pasar obligasi dan harga energi. Penurunan harga minyak membantu mengurangi kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Sektor teknologi menjadi pendorong utama, dengan saham AMD naik 2,8%, Amazon 1,9%, Microsoft 0,8%, Alphabet 0,3%, dan Nvidia 0,1%. Investor juga memantau perkembangan investasi AI, termasuk potensi putaran pendanaan senilai US$30 miliar untuk OpenAI dan rencana Alphabet untuk mengakuisisi kapasitas energi nuklir dari Constellation Energy.
GEOPOLITIK: Risiko geopolitik tetap menjadi perhatian pasar menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk laporan mengenai peningkatan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Namun, sentimen sedikit membaik setelah sejumlah kapal tanker berhasil melewati jalur tersebut dan muncul tanda-tanda pemulihan arus ekspor minyak Timur Tengah. Arab Saudi juga melaporkan pemulihan kapasitas pipa East-West menjadi 5,8 juta barel per hari.
REGULASI & KEBIJAKAN: Di Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi terus mendorong kebijakan fiskal ekspansif meskipun yen melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat. Takaichi berjanji untuk menurunkan pajak konsumsi atas produk makanan dan memastikan pendanaan pemerintah tanpa menerbitkan obligasi tambahan. Sementara itu, pasar AS tetap memantau arah kebijakan The Fed di tengah meredanya tekanan inflasi akibat penurunan harga minyak.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 2 tahun turun menjadi 4,81%, sedangkan yield tenor 10 tahun berada di level 5,26% setelah sebelumnya sempat mencapai 5,33%, dengan kenaikan lebih dari 110 bps sejak awal tahun (year-to-date). Indeks DXY melemah ke level 101,8, sementara Yen terdepresiasi melampaui level JPY158 per Dolar. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 2 tahun naik menjadi 1,93% dan yield tenor 10 tahun mencapai sekitar 3,12%, mendekati level tertinggi dalam tiga dekade terakhir.
PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa sebagian besar menguat seiring meredanya tekanan di pasar obligasi dan harga minyak. Indeks DAX naik 0,8% menjadi 25.449, FTSE MIB naik 0,9% menjadi 51.261, FTSE 100 naik 0,4% menjadi 10.542, dan CAC 40 naik 0,4% menjadi 7.865. Indeks EU600 juga menguat 0,48% ke level 636,64.
-Bursa saham Asia bergerak variatif; Nikkei 225 naik 1,05% menjadi 70.684 dan Hang Seng naik 1,0% menjadi 24.281, didorong oleh reli saham-saham teknologi global. Shanghai Composite naik 0,31%, STI Singapura naik 0,66%, dan FKLCI Malaysia naik 0,10%. Sebaliknya, indeks KOSPI turun 0,89% akibat aksi ambil untung dan tingginya imbal hasil obligasi global.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas bervariasi. Harga minyak Brent berada di level US$101,11 per barel (naik 0,77%), sementara minyak mentah berada di kisaran US$89,4 per barel setelah sempat turun di bawah US$87. Harga batu bara naik 1,47% menjadi sekitar US$152 per ton akibat pengetatan pasokan global. Harga emas menguat 0,60% ke atas level US$4.164 per ons, sedangkan harga tembaga naik 0,13% menjadi sekitar US$664,95 per pon. Harga minyak sawit Malaysia melemah 1,14% menjadi MYR4.340 per ton, timah turun 0,24% menjadi US$54.184 per ton, dan nikel melemah 0,20% menjadi US$15.682 per ton akibat pasokan yang melimpah.
AGENDA HARI INI:
-Amerika Serikat (AS): Pidato Gubernur The Fed Logan, suku bunga hipotek 30 tahun MBA, serta perubahan stok minyak mentah dan bensin berdasarkan data EIA.
-India (IN): Keputusan suku bunga RBI.
-Jerman (DE): Produksi industri bulanan bulan Agustus.
-Inggris Raya (GB): Indeks harga rumah Lloyds (bulanan dan tahunan) bulan September.
-Prancis (FR): Neraca perdagangan bulan Agustus.
INDONESIA: Pemerintah menargetkan investasi nasional sekitar Rp2.900 triliun pada tahun 2027 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sebesar 6% (YoY), dengan sekitar 40% atau Rp1.160 triliun berasal dari hilirisasi. Fokus utama mencakup mineral dan batu bara, serta ekspansi ke komoditas logam, kehutanan, pertanian, perkebunan, serta kelautan dan perikanan. Pemerintah telah menyiapkan hilirisasi untuk 28 komoditas di 8 sektor, dengan kebutuhan investasi hingga tahun 2040 diperkirakan mencapai sekitar US$618 miliar. Realisasi hilirisasi pada semester I-2026 mencapai Rp300,1 triliun, tumbuh 6,9% (YoY) dan berkontribusi sebesar 29,7% terhadap total investasi nasional yang sebesar Rp1.010,6 triliun.
-Selain itu, DPR RI mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja pada 6 Oktober 2026, yang memperketat aturan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menghapus pengali pesangon 0,5x, sehingga batas minimum menjadi 1x, bergantung pada penyebab pemutusan hubungan kerja dan masa kerja. Perusahaan juga tidak dapat dengan mudah melakukan PHK dengan alasan efisiensi. Aturan baru ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan pekerja sekaligus memberikan kepastian hukum bagi dunia usaha.
-IHSG ditutup menguat 1,21% di level 6.192,93 pada perdagangan hari Selasa (6/10), meskipun investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp597,49 miliar di pasar reguler. Secara year-to-date (YTD), akumulasi penjualan bersih asing mencapai Rp109,45 triliun, dengan aliran dana asing terutama masuk ke saham TPIA, BBRI, TINS, ANTM, dan PTBA, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada saham GOTO, BMRI, TLKM, PACK, dan AADI. Nilai tukar Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.910 per Dolar AS pada hari Selasa, sedikit menguat dibandingkan sesi sebelumnya. Pergerakan Rupiah masih dipengaruhi oleh sikap wait-and-see investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting pekan ini, termasuk Cadangan Devisa bulan September, Indeks Keyakinan Konsumen, dan Penjualan Ritel bulan Agustus.
-Secara teknikal, IHSG berhasil menembus garis tren resistance dan diperdagangkan di atas EMA10. Indikator RSI (14) kembali naik ke level 43, seiring kembalinya momentum bullish. Jika IHSG berpeluang menguat kembali, indeks dapat melanjutkan pengujian ke level 6.263 (EMA 20), kemudian ke kisaran 6.328–6.334. Sebaliknya, jika kembali melemah, IHSG akan kembali ke level support di 6.173/6.120 dan menguji level 6.095.
“Kami menyarankan investor untuk melakukan akumulasi dan menahan posisi (hold), namun tetap berhati-hati terhadap kemungkinan pembalikan arah tren,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (07/10).




