See More

21 Oktober 2026, 17:21

21 Oktober 2026, 16:36

21 Oktober 2026, 16:34

21 Oktober 2026, 15:52

21 Oktober 2026, 15:06

21 Oktober 2026, 15:03
Mirae Asset Sekuritas Indonesia|saham murah|Standalone Market|indeks MSCI|Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|PT Pegadaian (Persero)|Gadai Efek
Oleh: Harry

Foto: dok. Mirae Asset Sekuritas
Pasardana.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengingatkan investor agar lebih selektif dalam memilih saham di tengah volatilitas pasar global dan ketidakpastian terkait usulan perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI menjadi Standalone Market.
Pesan tersebut disampaikan dalam Media Day Oktober 2026 bertajuk “Navigating Uncertainty: A New Perspective on Indonesia’s Market” yang digelar secara daring, Selasa (20/10).
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan global dan tantangan ekonomi dalam negeri.
Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga tinggi, serta kenaikan harga energi berpotensi menekan mata uang negara berkembang dan meningkatkan volatilitas arus modal.
Tekanan tercermin pada rupiah yang berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS pada pertengahan Oktober 2026.
Di dalam negeri, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah.
Sementara itu, inflasi September 2026 tercatat 3,28% dan diperkirakan Mirae Asset mencapai 4% pada akhir tahun, terutama akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga pangan.
“Fundamental ekonomi Indonesia masih relatif resilien, tetapi tekanan terhadap daya beli dan risiko inflasi tetap perlu dicermati,” ujar Rully.
Ia melanjutkan, perhatian pasar juga tertuju pada usulan MSCI yang hingga kini belum menjadi keputusan final.
Proses konsultasi masih berlangsung, sementara otoritas pasar modal melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, dan kualitas pasar.
Menurut Rully, konsistensi pelaksanaan reformasi dan hasil yang dapat diverifikasi menjadi kunci menjaga kepercayaan investor, terutama di tengah kekhawatiran terhadap potensi perubahan aliran dana asing.
Ketidakpastian tersebut turut meningkatkan volatilitas pasar.
Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 11,6% dalam sehari setelah pengumuman terkait MSCI.
Investor asing juga masih mencatatkan tekanan jual bersih yang signifikan sepanjang tahun berjalan.
Rully menilai, koreksi harga saham memang dapat membuka peluang investasi, tetapi valuasi murah tidak menjamin pemulihan segera.
Investor perlu mencermati arus dana asing, kemajuan reformasi pasar, dan kemampuan emiten mempertahankan kinerja fundamental.
Saham Consumer Tak Seragam, MIDI hingga CMRY Dicermati
Di kesempatan yang sama, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Putu Chantika Putri Dhammayanti, menilai saham sektor consumer juga perlu diseleksi secara cermat karena tekanan pasar tidak berdampak seragam pada setiap emiten.
Pada 16 Oktober 2026, ketika IHSG terkoreksi 11,6%, indeks sektor consumer non-cyclicals turun 10,1%.
Saham MIDI merosot 12,4%, sedangkan AMRT terkoreksi 14,9%.
Menurut Chantika, tekanan tersebut perlu dilihat dalam konteks ketidakpastian MSCI dan potensi perubahan arus dana asing, bukan semata-mata sebagai cerminan perubahan fundamental perusahaan.
Perbedaan kinerja saham sepanjang tahun berjalan juga menunjukkan pentingnya seleksi.
Hingga 16 Oktober 2026, MAPI masih mencatatkan kenaikan 13,3% secara year-to-date (YtD), sedangkan AMRT dan UNVR masing-masing terkoreksi sekitar 46,6% dan 46,5%.
Chantika mengingatkan, valuasi di bawah rata-rata historis tidak otomatis menjamin pemulihan harga saham.
Investor perlu mempertimbangkan perubahan pola konsumsi, tekanan biaya, kemampuan menjaga margin, prospek pertumbuhan laba, serta ketahanan volume penjualan di tengah pemulihan konsumsi yang belum merata.
“Investor perlu melihat apakah perusahaan masih mampu menjaga volume penjualan, mempertahankan profitabilitas, dan memiliki katalis pertumbuhan yang jelas,” jelasnya.
Dalam risetnya, Mirae Asset tetap mencermati saham MIDI, MAPI, dan CMRY dengan mempertimbangkan ketahanan volume serta prospek kinerja masing-masing perusahaan.
Pendekatan ini menekankan seleksi berbasis fundamental, bukan asumsi bahwa seluruh saham consumer akan pulih secara bersamaan.
Mirae Asset Gandeng Pegadaian untuk Gadai Efek
Selain membahas kondisi pasar, Mirae Asset memperkenalkan layanan referral Gadai Efek melalui kerja sama dengan PT Pegadaian sebagai alternatif akses likuiditas berbasis portofolio investasi.
Head of Business Development Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Simon Gunawan Sinaga, menjelaskan bahwa nasabah dapat mengajukan pinjaman dengan menjaminkan efek yang memenuhi kriteria, seperti saham tertentu atau obligasi pemerintah, tanpa harus langsung menjual aset investasinya.
“Melalui layanan referral Gadai Efek, kami mendukung akses nasabah terhadap solusi likuiditas dengan tetap mengedepankan edukasi risiko dan kejelasan peran masing-masing pihak,” ujar Simon.
Dalam skema tersebut, Mirae Asset bertindak sebagai mitra referral yang membantu pemeriksaan awal dokumen dan ketersediaan efek.
Adapun verifikasi, penilaian agunan, serta keputusan pemberian pinjaman sepenuhnya menjadi kewenangan Pegadaian.
Efek yang dijaminkan tetap tercatat atas nama nasabah, tetapi diblokir selama menjadi agunan.
Nasabah juga perlu memahami risiko penurunan nilai efek yang dapat memicu kewajiban penambahan agunan atau pelunasan sebagian.
Jika kewajiban tidak dipenuhi, agunan berpotensi dijual.
Melalui Media Day Oktober 2026, Mirae Asset menegaskan pentingnya strategi investasi yang selektif dan terukur dengan mempertimbangkan dinamika pasar, fundamental perusahaan, serta risiko investasi, termasuk dalam memanfaatkan alternatif likuiditas berbasis portofolio.