Surat Berharga Negara (SBN)|indeks MSCI|nilai tukar rupiah|Mirae Asset Sekuritas|Rully Arya Wisnubroto|Jessica Tasijawa

Mirae Asset Wanti-wanti! Status RI Terancam Turun Kelas, Saham dan SBN Bisa Tertekan

Oleh: Harry

16 Oktober 2026, 14:02
Mirae Asset Wanti-wanti! Status RI Terancam Turun Kelas, Saham dan SBN Bisa Tertekan

Foto: dok. Mirae Asset Sekuritas

Pasardana.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai usulan MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi membawa dampak jangka panjang bagi pasar modal domestik, mulai dari tekanan jual saham, berkurangnya likuiditas, hingga meningkatnya premi risiko investasi.

MSCI memulai konsultasi atas usulan tersebut pada 15 Oktober 2026, menyusul kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, dan dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi.

Keputusan final dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan reklasifikasi tersebut berpotensi membuat saham-saham Indonesia keluar dari indeks Emerging Market yang menjadi acuan berbagai produk investasi global.

Kondisi ini dapat memicu penjualan oleh investor pasif dan penyesuaian portofolio investor institusional aktif.

“Risikonya bukan hanya berapa besar dana asing yang berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan klasifikasi ini dapat mempersempit basis investor institusional, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi risiko yang diminta investor untuk berinvestasi di saham Indonesia,” ujar Rully dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10).

Meski demikian, Mirae Asset menilai skenario tersebut belum pasti.

Periode konsultasi masih memberikan kesempatan bagi otoritas untuk memperbaiki transparansi kepemilikan saham, pengawasan perdagangan terkoordinasi, serta penerapan aturan free float yang kredibel dan konsisten.

Menurut Rully, investor global akan mencermati pelaksanaan reformasi yang konkret dan dapat diverifikasi, bukan sekadar komitmen regulator.

Di tengah volatilitas pasar, Mirae Asset menyarankan investor lebih selektif dan tidak terburu-buru masuk kembali ke pasar secara agresif.

Investor dengan posisi kas memadai dapat mempertimbangkan pembelian saham secara bertahap, terutama emiten dengan kepemilikan investor institusional asing relatif rendah dan eksposur terbatas terhadap tekanan jual terkait MSCI.

Saham sektor komoditas juga dapat dicermati dengan mempertimbangkan likuiditas dan karakteristik masing-masing emiten.

Tekanan MSCI Berpotensi Merembet ke SBN

Dampak ketidakpastian MSCI juga berpotensi menjalar ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui perubahan sentimen dan arus modal asing.

Memburuknya persepsi risiko dapat menekan rupiah, meningkatkan premi risiko, serta mendorong investor mengurangi kepemilikan aset domestik.

Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan tekanan pasar keuangan domestik masih perlu diwaspadai.

Yield SBN tenor 10 tahun dilaporkan mencapai 7,33% saat pembukaan pasar, sementara rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS.

Jessica juga menyoroti kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,24% ketika yield US Treasury sebelumnya turun.

Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan adanya tekanan domestik tambahan, termasuk risiko nilai tukar.

Jika sentimen MSCI memburuk dan memicu arus keluar modal, konversi dana ke valuta asing berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.

Peningkatan persepsi risiko juga dapat mendorong investor meminta yield SBN lebih tinggi, sementara pelemahan rupiah berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia.

Meski demikian, Mirae Asset menilai yield SBN saat ini menarik untuk diakumulasi secara bertahap, terutama pada tenor pendek.

Pertimbangannya, selisih yield US Treasury dan obligasi pemerintah Indonesia (UST-INDOGB spread) kembali melebar hingga di atas 200 basis poin.

Namun, investor tetap perlu mewaspadai pelemahan rupiah dan ketidakpastian arus modal.

Mirae Asset menyarankan pendekatan selektif dengan preferensi pada SBN tenor pendek hingga menengah, mengingat obligasi berdurasi panjang lebih sensitif terhadap perubahan yield.

Perkembangan MSCI, stabilitas rupiah, serta pergerakan arus dana asing dan domestik akan menjadi faktor penting dalam menentukan strategi investasi selanjutnya.

Berita Terkini

See More