ANALIS MARKET (20/10/2026): Wait and See!
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada hari Senin (26/10/19), dengan penguatan pada saham-saham teknologi yang menopang indeks S&P 500 dan Nasdaq, di tengah tekanan pada saham-saham perbankan.
Indeks S&P 500 naik 0,41% menjadi 7.690,73, Nasdaq Composite menguat 1,11% menjadi 26.430,89, sementara Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,07% menjadi 51.966,03.
Saham Micron, Intel, dan Amazon memimpin pemulihan setelah aksi jual di sektor AI pada minggu sebelumnya; hal ini mencerminkan kembalinya minat beli investor, meskipun pasar masih dibayangi oleh kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi AI dan risiko pendanaannya.
SENTIMEN PASAR: Sentimen investor terhadap saham-saham teknologi mulai membaik, namun belum merata di seluruh pasar. Aksi beli kembali muncul setelah koreksi tajam pekan lalu, yang dipicu oleh kemajuan yang dicapai produsen cip asal Tiongkok serta meningkatnya tekanan utang pada penyedia layanan komputasi awan (cloud computing), yang menyebabkan penyesuaian harga (repricing) di sektor AI. Investor kini menjadi semakin selektif dan menuntut bukti bahwa belanja infrastruktur AI yang masif dapat menghasilkan pendapatan serta arus kas yang sepadan. Di sisi lain, saham perbankan AS masih berada di bawah tekanan menyusul laporan kinerja keuangan pekan lalu. Perhatian pasar kini tertuju pada musim laporan laba kuartal ketiga (Q3)—terutama dari Netflix, Meta Platforms, dan Tesla—yang diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai kinerja bisnis serta prospek belanja teknologi.
GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah terus menjadi risiko utama bagi pasar energi, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal komersial di sekitar Semenanjung Arab dan aktivitas kelompok Houthi di Yaman yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran. Iran memperingatkan bahwa mereka telah menyiapkan respons baru jika terjadi serangan lanjutan dari AS dan Israel, sementara Arab Saudi dilaporkan berhasil mencegat sejumlah rudal di wilayah Laut Merah. Kondisi ini juga menghambat kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz, dengan arus pasokan turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari, dibandingkan dengan perkiraan 20 juta barel per hari pada minggu sebelumnya. Di Eropa, gejolak di Prancis memperburuk ketidakpastian politik dan meningkatkan kekhawatiran mengenai kondisi fiskal negara tersebut.
REGULASI & KEBIJAKAN: Pasar tengah menantikan keputusan Federal Reserve pekan depan, dengan ekspektasi bahwa suku bunga akan dipertahankan. Probabilitas keputusan tersebut diperkirakan sekitar 83%, sementara peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan Desember berada di kisaran 75%; hal ini mencerminkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat membatasi ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Sementara itu, Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa inflasi inti dalam ekonomi Jepang telah mendekati target 2%, yang mengisyaratkan bahwa normalisasi kebijakan masih dalam pertimbangan. Pemerintah Jepang juga menegaskan kembali komitmennya untuk mengelola penerbitan utang secara cermat guna menjaga disiplin fiskal dan stabilitas keuangan.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Dolar AS menguat, dengan indeks DXY mendekati level 102, terutama akibat melemahnya euro di tengah gejolak politik Eropa. Yen Jepang relatif stabil di kisaran JPY158 per Dolar AS. Di pasar obligasi AS, imbal hasil (yield) Treasury tenor 2 tahun naik 7 bps menjadi 4,78%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun naik menjadi 5,13%, sejalan dengan penyesuaian ekspektasi suku bunga dan tekanan jual pada obligasi. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun turun tipis menjadi 1,90%, dan imbal hasil tenor 10 tahun melemah ke kisaran 2,90%, mendekati level terendahnya dalam lima minggu terakhir.
PASAR EROPA & ASIA: Bursa saham ditutup melemah di tengah gejolak politik Prancis dan kenaikan imbal hasil obligasi. Indeks FTSE 100 Inggris turun lebih dari 1%, mengakhiri tren penguatan selama tiga sesi berturut-turut, sementara indeks DAX Jerman terkoreksi sekitar 1,2% ke level 25.320. Indeks CAC 40 Prancis turun 1,1% menjadi 7.868, sementara indeks STOXX Europe 600 melemah 0,80% menjadi 639,56.
-Asia: Bursa regional bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,62% menjadi 64.917, sedangkan indeks KOSPI Korea Selatan menguat 1,76% menjadi 5.768 didorong oleh aksi beli investor institusional. Indeks Shanghai Composite naik 0,39% menjadi 3.730,9 dan indeks Shenzhen Component bertambah 0,13% menjadi 11.817,4. Sebaliknya, indeks BSE Sensex India turun sekitar 1,1% menjadi 73.853, indeks Straits Times Singapura melemah 0,07% menjadi 5.412, dan indeks KLCI Malaysia turun 0,75% menjadi sekitar 1.596. Indeks Hang Seng Hong Kong tercatat naik 0,5% menjadi 24.187 pada penutupan perdagangan hari Jumat, 16 Oktober.
KOMODITAS: Harga energi tetap tinggi akibat risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Minyak WTI naik 2,22% menjadi US$103,66/barel, sementara minyak Brent tercatat di kisaran US$109/barel, turun 0,55% berdasarkan data perdagangan yang tersedia. Harga emas melemah 0,60% menjadi US$4.141/ons seiring dengan langkah investor yang memantau perkembangan pasokan energi serta menantikan keputusan The Fed. Di sektor logam industri, tembaga naik 0,03% menjadi US$657,55/lb, didorong oleh data ekonomi Tiongkok yang lebih kuat dari perkiraan, sementara nikel menguat 1,08% menjadi US$15.529/ton seiring dengan aksi investor yang menutup posisi jual (short positions). Timah naik 0,90% menjadi US$50.839/ton (19 Oktober). Sementara itu, harga batu bara termal berada di kisaran US$151/ton (19 Oktober), dan minyak kelapa sawit Malaysia melemah 0,46% menjadi MYR4.515/ton.
AGENDA HARI INI:
-Britania Raya (GB): Tingkat Pengangguran bulan Agustus.
-Jerman (DE): Indeks Sentimen Ekonomi ZEW bulan Oktober.
-Amerika Serikat (AS): Izin Mendirikan Bangunan (awal) bulan September dan Pembangunan Perumahan Baru (Housing Starts) bulan September.
INDONESIA: Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengeluarkan seluruh saham dengan Konsentrasi Kepemilikan Saham yang Tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan integritas pasar agar IHSG dapat mencerminkan kondisi pasar yang wajar dengan lebih baik. Meskipun tidak lagi memengaruhi pergerakan indeks, saham yang diklasifikasikan sebagai HSC tetap dapat diperdagangkan di bursa.
-Selain itu, realisasi investasi di sektor hilirisasi untuk periode Januari–September 2026 mencapai Rp480 triliun, tumbuh 11,3% secara tahunan (YoY) dan berkontribusi sebesar 31,2% terhadap total investasi nasional yang mencapai Rp1.539,2 triliun. Pada kuartal III-2026, investasi hilirisasi meningkat menjadi Rp179,9 triliun, dengan sektor mineral mendominasi melalui nilai kumulatif sebesar Rp335,1 triliun. Investasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp357,6 triliun, atau 75% dari total investasi, sementara 78% dari investasi tersebut berlokasi di luar Pulau Jawa. Pemerintah akan terus mendorong hilirisasi untuk memperkuat industrialisasi, meningkatkan transfer teknologi, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
-Dari sisi fiskal, pemerintah memperkirakan belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal IV-2026 akan mencapai sekitar Rp1.300 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp1.200 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kementerian Keuangan menegaskan bahwa efisiensi anggaran akan difokuskan pada optimalisasi pelaksanaan program, bukan dengan memangkas belanja, termasuk melalui perbaikan tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah juga akan melanjutkan program-program prioritas serta bantuan pangan untuk mendukung konsumsi masyarakat, sembari menjaga defisit anggaran negara tahun 2026 di angka 2,58% terhadap PDB, sejalan dengan proyeksi pemerintah.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,64% ke level 4.996,61 pada perdagangan hari Senin (19/10/26). Investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp2,28 triliun di pasar reguler, atau Rp1,72 triliun secara keseluruhan pasar, sementara transaksi tunai dan negosiasi justru mencatatkan nilai beli bersih (net buy) sebesar Rp558,40 miliar. Akumulasi nilai jual bersih asing sepanjang tahun berjalan (year-to-date) mencapai Rp116,44 triliun. Tekanan jual asing terbesar terjadi pada saham BBRI, BBCA, TLKM, BMRI, AADI, BRIS, PTBA, ERAA, ADMR, dan ULTJ, sedangkan aliran dana asing masuk ke saham BBNI, INDF, MAPA, UNTR, EMAS, MEDC, INKP, ANTM, TAPG, dan INCO. Nilai tukar Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp18.040 per Dolar AS pada hari Senin, tertekan oleh penguatan Dolar AS di tengah pelemahan Euro serta meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina.
-Secara teknikal, IHSG kembali bergerak turun namun sempat mengalami rebound tipis dari titik terendahnya. Indikator RSI (14) turun ke level 14,82, yang menunjukkan kondisi oversold (jenuh jual) dan membuka peluang terjadinya rebound teknikal. Jika IHSG mampu bangkit kembali di atas level 4.999, terdapat potensi penguatan menuju level resistensi terdekat di kisaran 5.100 – 5.185; jika level tersebut berhasil ditembus, indeks berpeluang untuk menguji kembali level 5.332. Namun, apabila tekanan jual terus berlanjut, indeks berpotensi untuk terus melemah menuju area 4.456 (FR 161,80%) hingga kisaran 4.173/4.000.
“Para investor disarankan untuk tetap berhati-hati, menerapkan strategi selektif dengan melakukan pembelian saat harga melemah, serta menunggu konfirmasi pembalikan tren sebelum melakukan akumulasi secara lebih agresif,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (20/10).




