Sambil Monitor Harga Avtur, Garuda Indonesia Kaji Penyesuaian Harga Tiket

Foto : istimewa

Pasardana.id - Maskapai penerbangan milik BUMN, Garuda Indonesia (IDX: GIAA), terus memantau pergerakan harga avtur dan mengkaji penyesuaian harga tiket, setelah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan restu kepada operator penerbangan untuk menaikkan tarif.

"Garuda Indonesia tentunya akan menyikapi kebijakan tersebut secara cermat dan seksama, dengan mengedepankan pemenuhan kebutuhan masyarakat atas aksesibilitas layanan penerbangan," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam keterangan resminya, Kamis (11/8/2022).

Irfan mengungkapkan, pihaknya masih terus mengkaji dan memonitor pergerakan harga avtur dalam kebutuhan penyesuaian harga tiket.

“Penerapan kebijakan Kementerian Perhubungan KM 142 Tahun 2022 tentang besaran biaya tambahan (surcharge) yang disebabkan adanya fluktuasi bahan bakar (fuel surcharge), perusahaan tentunya mempertimbangkan fluktuasi harga bahan bakar avtur terhadap kebutuhan penyesuaian harga tiket. Kami percaya pentingnya keselarasan upaya untuk tumbuh dan pulih bersama di tengah situasi pandemi yang berkepanjangan menjadi esensi penting guna memastikan ekosistem industri transportasi udara dapat terus bergerak maju memaksimalkan momentum pemulihan. Oleh karenanya, kiranya komitmen ini yang harus terus dijaga oleh seluruh pihak,” beber Irfan.

Dirinya pun memastikan, bahwa pihaknya senantiasa patuh terhadap ketentuan dan kebijakan harga tiket pesawat, khususnya yang mengacu pada aturan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) maupun kebijakan penunjang dalam kaitan komponen harga tiket lainnya.

Sementara itu, pengamat penerbangan, Gatot Rahardjo menyikapi dengan positif langkah Garuda Indonesia tersebut, dan seharusnya bisa diikuti oleh semua maskapai.

Sebab, jika melihat perkembangan global, harga avtur sebenarnya masih fluktuatif, yaitu trennya tidak hanya naik, namun terkadang turun.

Seperti pada bulan ini, harga avtur turun jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

"Dari data yang ada, harga Avtur pas Juli 2022 rata-rata Rp18.431 per liter sedangkan di Agustus ini rata-rata Rp15.5740 per liter. Harga ini kan turun, lalu kenapa para operator lainnya mulai menaikkan tarifnya. Seharusnya, demi menjaga daya beli masyarakat yang mulai tumbuh, kenaikan harga tiket harus disikapi dengan cermat dan bijak," beber dia.

Gatot juga menyarankan kepada pemerintah, daripada memberikan biaya tambahan (surcharge) kepada maskapai, sebaiknya pemerintah menghitung ulang Total Operating Cost (TOC) masing-masing pesawat dengan menggunakan kondisi saat ini, termasuk melihat rata-rata load factor-nya.

Selanjutnya, bisa dibuat formulasi baru terkait tarif penerbangan, disesuaikan dengan TOC dan rata-rata load factor saat ini.

"Kalau sudah dilakukan dan disetujui oleh maskapai, tidak diperlukan lagi fuel surcharge karena tarifnya sudah baru. Jika ada yang melanggar, ya seharusnya ditindak tegas sesuai aturan," tukasnya.