New Normal, Garuda Indonesia Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik

Foto : istimewa

Pasardana.id - Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah mengusulkan adanya kenaikan tarif di tengah kebijakan jaga jarak atau physical distancing yang diterapkan di pesawat akibat pandemi Virus Corona. Tidak hanya itu, keterisian pesawat diusulkan menjadi 70 persen.   

"Sekarang muncul angka 70 persen, kenapa karena kursi tengah yang kita kosongin. Di bisnis class berdua jadi sendirian. Ya memang kita minta pengertian, mereka yang mau pergi berduaan, nanti saja nempel-nempel kalau sudah turun," ujar Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra, melalui diskusi online, Jakarta, Senin (8/6/2020).

Menurut Irfan, aturan ini akan berdampak terhadap beban operasional maskapai. Maka, mesti ada penghitungan ulang untuk penetapaan harga pokok produksi (HPP) yang akan berdampak terhadap biaya tiket.

Dikatakan Irfan, kenaikan harga tiket pesawat nantinya tidak akan dilakukan sembarangan. Kenaikan tetap akan mempertimbangkan kondisi masyarakat saat ini yang diharuskan untuk melakukan sejumlah tes sebelum melakukan penerbangan.

"Gini, soal harga tidak ada juga gunanya dinaikin, terus orang tidak mau naik. Tapi kan semua orang menyadari hari ini kan semuanya jadi susah. Pesawat kita kosongin tengahnya. Tentu saja ada implikasi bagi perusahaan dan perusahaan harus memastikan bagaimana caranya beroperasi terus, saya tidak ngatakan untung, tapi beroperasi terus," jelasnya.

Meski begitu, Irfan memastikan kenaikan harga yang diusulkan maskapai perseroan pelat merah ini masih akan terjangkau oleh masyarakat.

"Kami tidak mau nekat gila-gilaan menetapkan harga," tuturnya.

Terkait permintaan kenaikan tarif tersebut, maskapai pelat merah tersebut sedang mengajukan permohonan kepada regulator atau Kementerian Perhubungan. Hingga kini, belum ada keputusan pasti kapan pemberlakuan tarif baru bisa diterapkan.

"Kita memang sedang diskusi, kita juga tidak mau menggunakan kesempatan ini untuk mencari untung sebesar besarnya karena tidak mungkin untung besar juga. Kita diskusi, adakah kemungkinan dinaikkan harganya untuk dinaikkan? (menutup) bolong-bolong yang ini. Pun kalau diizinkan regulator kita tidak mau naik gila-gilaan. Yang pantas saja," tandasnya.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan pernah berencana merevisi aturan terkait TBA dan TBB tiket pesawat, yakni Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019, di tengah pandemi corona.

Pada April lalu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan sedang mengkaji kenaikan tarif untuk angkutan penumpang niaga berjadwal.

"Kami menghitung seolah-olah satu penumpang menjadi (membayar) dua (tiket). Jadi (kenaikan tarif) hampir dua kali lipat," ujar Novie di Jakarta, Minggu (12/4/2020) silam.