Bali International Airshow 2024 Diharapkan Dapat Meningkatkan Kerjasama di Bidang Aviasi

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan berharap, penyelenggaraan Bali International Airshow 2024 dapat meningkatkan kerja sama bilateral antara Indonesia dengan negara di Asia Pasifik.

Juga Eropa, dan Amerika dalam investasi di bidang aviasi.

Selain itu, Bali International Airshow 2024 diharapkan mampu memajukan banyak bandar udara di Indonesia dengan mendatangkan investasi dalam bentuk pembangunan dan pengembangan bandar udara.

Serta meningkatkan pembelian jumlah pesawat terbang baik untuk komersial, untuk pertahanan, maupun untuk kebutuhan industri lainnya.

“Saya yakin jika ini dilaksanakan dengan perencanaan yang baik tentunya hal itu akan dapat dihindari. Saya berharap, bisa menghadirkan sesuatu yang baik untuk kebesaran Indonesia, memajukan ekonomi dan teknologi Indonesia,” ujar Menko Luhut lewat keterangannya, Senin (5/12).

Untuk mewujudkan harapannya itu, Menko Luhut meminta agar dilakukan persiapan dan perencanaan yang matang untuk menggelar acara yang akan diselenggarakan di kawasan Pulau Bali, Indonesia.

Kata Luhut, sebelumnya Indonesia pernah menyelenggarakan event internasional ini, yakni di tahun 1986 di Bandar Udara Kemayoran dan tahun 1996 di Bandar Udara Soekarno Hatta.

Dia mengatakan, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik, apalagi di tahun 2024 mendatang, perlu diwaspadai traffic udara akan menjadi lebih padat.

“Jadi, harus dihitung pelaksanaannya nanti jangan sampai mengganggu kelancaran traffic udara di Bali. Luas parking space (area parkir) yang menurut hemat saya pengalaman di Soekarno Hatta dan Singapura itu memerlukan persiapan parking space yang luas,” ujarnya.

Adapun diselenggarakannya Bali International Airshow 2024 ini sejalan dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan memiliki 673 bandar udara.

Hal ini mengakibatkan Indonesia membutuhkan transportasi udara untuk mobilitas baik untuk barang (kargo) dan masyarakatnya.

Oleh karena itu, diperlukan suatu tempat atau kesempatan yang dapat mempertemukan para pelaku bisnis di bidang aviasi.

Juga mendukung pemerintah untuk mempromosikan perdagangan Indonesia secara lokal dan mancanegara.

“Pertama, Angkasa Pura harus siap dengan fasilitas perbandaraan belajar dari pengalaman di Soekarno-Hatta tahun 1996 lalu yang memang cukup padat. Jadi harus mulai dilihat di (bandara) Bali karena runway-nya cuma satu, dan juga jangan sampai menganggu air traffic,” pungkas Luhut.