Bayar Utang, WIKA Tawarkan Surat Utang Senilai Total Rp2,5 Triliun

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Wijaya Karya Tbk (IDX: WIKA) akan melakukan penawaran umum dua jenis surat utang dengan total nilai Rp2,5 triliun mulai tanggal 9 hingga 10 Februari 2022.

Mengutip prospektus surat utang emiten konstruksi BUMN itu yang diunggah pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/1/2022), disebutkan bahwa surat utang itu terdiri dari Obligasi berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap II tahun 2022 senilai Rp1,75 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap II tahun 2022 senilai Rp750 miliar.

Rencananya, seluruh dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang jangka pendek.

Sedangkan dana hasil penerbitan sukuk akan digunakan membiayai proyek infrastruktur dan gedung.

Untuk memuluskan rencana penerbitan surat utang itu, telah ditunjuk BNI Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas selaku penjamin emisi obligasi.

Oleh ketiga anggota bursa pelat merah itu, penawaran surat utang tersebut dijamin dengan kesanggupan penuh atau full commitment.

Pada saat penawaran umum, obligasi dengan peringkat idA dari Pefindo ini ditawarkan dalam tiga seri.

Seri A senilai Rp593,95 miliar berbunga 6,5 persen dan akan jatuh tempo setelah tiga tahun sejak penerbitan.

Seri B senilai Rp425,15 miliar dengan bunga 7,75 persen dan akan jatuh tempo lima tahun setelah penerbitan.

Seri C senilai Rp730 miliar dengan bunga 8,3 persen dan akan jatuh tempo 7 tahun sejak penerbitan.

Senada, Sukuk dengan peringkat idAsy juga ditawarkan dalam tiga seri.

Seri A senilai Rp412,9 miliar dengan nisbah 54,166 persen dan jatuh tempo tiga tahun sejak penerbitan.

Seri B senilai Rp176,05 miliar dengan nisbah 64,58 dari pendapatan yang dibagihasilkan dan jatuh tempo lima tahun sejak penerbitan.

Seri C senilai Rp161,05 miliar dengan nisbah 69,166 persen dari pendapatan yang dibagihasilkan dan jatuh tempo 7 tahun sejak diterbitkan.

Khusus terkait bagi hasil sukuk, perseroan wajib menjaga pendapatan yang dibagihasilkan sebesar Rp90 miliar per tahun. Pendapatan tersebut bersumber dari laba kotor atas proyek infrastruktur dan gedung.