Pariwisata Bali Dibuka Kembali, Luhut : Bukan Asal Buka, Ini Hari Yang Bersejarah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Provinsi Bali menggelar Deklarasi Program Kepariwisataan dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru dan Digitalisasi Pariwisata Berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Menko Luhut Binsar Pandjaitan mendukung Pemerintah Provinsi Bali yang kembali membuka kegiatan pariwisata untuk wisatawan domestik mulai hari ini, Jumat 31 Juli 2020.

Dirinya menyebut bahwa Bali dan pariwisata adalah dua entitas yang saling melekat dan tak terpisahkan.

"Pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang sangat komprehensif dalam penanganan covid 19 ini. Jadi saya ingin menginformasikan sekarang hampir semua sektor itu tertangani dengan baik, program-program bantuan, program-program stimulus itu dilakukan dengan baik," ujar Luhut dalam keterangannya, Jumat (31/7/2020).

Setelah membuka kunjungan untuk wisatawan domestik, rencananya Bali akan menerima wisatawan mancanegara pada 11 September 2020.

"Hari ini adalah hari bersejarah. Bali buka ini bukan asal dibuka. Semua berangkat dari berapa jumlah yang infeksi, berapa jumlah yang sembuh, berapa mortality rate-nya. Itu menjadi acuan," kata Luhut Pandjaitan di Nusa Dua, Bali, Kamis 30 Juli 2020.

Menko Luhut menuturkan, bahwa pariwisata merupakan salah satu bidang yang sangat diperhatikan oleh Pemerintah. Hal ini dikarenakan penerimaan negara melalui pariwisata sangat tinggi, juga dapat menciptakan lapangan kerja.

Tercermin dalam proporsi pariwisata Indonesia, yang mana BPS mencatat bahwa 60 persen wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia berwisata ke Bali. Pariwisata Bali juga menyumbang 28,9 persen devisa pariwisata nasional, yakni sebesar Rp75 triliun.

"Presiden berkali-kali mengingatkan kami para pembantunya, bahwa kami harus tangani pariwisata ini dengan benar. Nah untuk itu ada dua kunci yang menurut saya harus kita perhatikan, yaitu penanganan Covid-19 dan penanganan ekonomi," tuturnya.

Menurut Mantan Kepala Staf Kepresidenan ini, langkah tersebut harus dijalankan dengan seiring, karena penanganan Covid-19 yang benar tentu akan memberikan stimulus yang baik pula bagi perkembangan ekonomi Indonesia.

Ia melanjutkan, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini memang menjadi tantangan besar bagi sektor pariwisata, tak terkecuali Bali. Menurut dia, di Bali sudah ada beberapa daerah yang masuk zona hijau Covid-19.

"Ada masih yang (masuk zona kuning). Tapi tidak ada zona merah," katanya.

Dengan begitu, menurut Luhut Pandjaitan, sudah waktunya roda perekonomian dipulihkan.  Dirinya menambahkan, tidak kemungkinan Provinsi Bali akan ditutup jika terdapat lokasi yang menjadi zona merah.

"Jadi kerjasama kita itu penting. Jadi tidak boleh satupun merasa diri paling penting dalam masalah ini. Kita harus teamwork menyelesaikan ini. Masalah kesehatan ini penting, oleh karena itu protokol kesehatan jangan sampai ditawar-tawar. Kita semua harus bahu-membahu untuk menegakkan disiplin ini. Tanpa disiplin ini tadi, Covid-19 tidak akan terkendali dan akan berdampak bagi ekonomi," tandasnya.