Laba Tumbuh 84%, TUGU Sebut Hasil Kelola Risiko Investasi

foto : istimewa

Pasardana.id PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) mencatatkan laba bersih sebesar Rp458,7 miliar, atau meningkat 84,1% dari tahun sebelumnya. 

Hasil kinerja itu ditopang oleh penempatan investasi yang tepat.  

Presiden Direktur TUGU, Indra Baruna menjelaskan, kinerja yang bagus di tahun 2019 tidak terlepas dari upaya perseroan untuk senantiasa mengelola risiko dengan prinsip kehati-hatian baik dari aspek underwriting maupun dalam pengelolaan investasi. 

“Hasil Investasi konsolidasian mengalami peningkatan sebesar 85,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Hasil ini disumbangkan oleh peningkatan dana kelolaan dan suku bunga rata-rata investasi deposito, keuntungan kenaikan nilai efek-efek, serta peningkatan komposisi portofolio investasi instrumen keuangan dalam mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat,” papar dia dalam siaran pers, Selasa (30/6/2020).

Sementara itu, sampai dengan periode Desember 2019 pencapaian Premi Bruto secara konsolidasian sebesar Rp6,4 triliun naik 26,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp5,1 triliun.  

“Peningkatan premi tersebut dikontribusikan terutama dari produk aviasi, kebakaran, aneka dan rekayasa hingga kendaraan bermotor,” lanjut Indra. 

Sedangkan kinerja Hasil Underwriting konsolidasian naik dari Rp720,7 miliar menjadi Rp922,2 miliar atau naik 28%.

Pada induk perusahaan, kinerja Hasil Underwriting juga mengalami peningkatan dimana pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat sebesar Rp552,2 miliar, atau meningkat menjadi Rp656,8 miliar atau naik 18,9%.

“Untuk meningkatkan Hasil Underwriting, kami telah melakukan pemetaan akun - akun yang memiliki Hasil Underwriting yang baik untuk dipertahankan. Kami juga memaksimalkan kapasitas retensi untuk risiko-risiko baik tersebut,” kata Indra menambahkan.

Tercatat, di akhir tahun buku konsolidasian 2019, emiten asuransi tersebut memiliki total aset senilai Rp20,7 triliun atau meningkat 18,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat Rp17,4 triliun.

Sedangkan ekuitas perseroan meningkat 11,5% dari Rp7,4 triliun menjadi Rp8,3 triliun, dengan disertai tingkat Risk Based Capital (RBC) 434% yang berada jauh di atas ketentuan batas minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu sebesar 120%.