Volume SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp15,50 Triliun dari 39 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Rabu (14/8/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (13/8), mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya.

Volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp15,50 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,14 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0082 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp7,54 triliun dari 135 kali transaksi.

Adapun untuk obligasi Negara seri FR0078 didapati volume sebesar 1,24 triliun dari 60 kali transaksi.

Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp419,69 miliar dari 2 kali transaksi.

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Selasa tanggal 13 Agustus 2019 senilai Rp1,11 triliun dari 68 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (TUFI04ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp132,50 miliar dari 7 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap I Tahun 2018 Seri A (BEXI04ACN1) dan Obligasi Berkelanjutan I Bank BJB Tahap II Tahun 2018 Seri A (BJBR01ACN2) masing-masing senilai Rp85,00 miliar dari 1 kali transaksi dan Rp80,00 miliar dari 2 kali perdagangan. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14325,00 per dollar Amerika yang melemah sebesar 75,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika bergerak sepanjang sesi perdagangan.  Adapun nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14260—14333 per Dollar Amerika.

Pelemahan rupiah tersebut diikuti oleh sebagian besar pelemahan mata uang regional, dimana yang memimpin pelemahan mata uang regional yaitu Peso Filipina (PHP) sebesar 1,09% dan diikuti oleh mata uang Rupee India (INR) dan Rupiah Indonesia (INR) yang masing-masing melemah sebesar 0,76% dan 0,52%.

Sementara itu, penguatan mata uang regional terbesar didapati pada mata Yen Jepang (JPY) sebesar 0,11% terhadap Dollar Amerika.

Di sisi lain, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan masing-masing pada level 1,683% dan 2,153%.

Adapun kenaikan imbal hasil US Treasury tersebut seiring dengan penurunan indeks saham utamanya.

Untuk indeks NASDAQ terpantau mengalami penguatan sebesar 195 bps di level 8016,36 dan indeks DJIA naik sebesar 144 bps di level 26279,91.

Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) dan surat utang Inggris (Gilt) untuk tenor 10 tahun ditutup mengalami penurunan masing-masing di level –0,612% dan 0,489%.