Menko Luhut Akui Industri Penerbangan Tanah Air Perlu Banyak Pembenahan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Persoalan harga tiket pesawat yang mahal tidak akan selesai hanya dengan menurunkan harga tiket berbiaya murah (Low Cost Carrier/LCC) menjadi 50 persen dari Tarif Batas Atas (TBA) pada jam-jam tertentu. Hal tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan pada Selasa (2/7/2019).

Menurut pria kelahiran Sumatra Utara, 72 tahun silam, terdapat sejumlah permasalahan di industri  penerbangan  Tanah Air yang perlu dibenahi.

"Sebenarnya LCC selama ini tidak ditata dengan benar, di negara-negara lain sudah punya bandara sendiri, terminal sendiri untuk pesawat LCC, itu supaya beban biaya lebih murah," ujar Luhut.

Luhut mencontohkan, usia penggunaan pesawat oleh maskapai penerbangan Amerika Serikat (AS) bisa lebih panjang jika dibandingkan dengan maskapai Indonesia. Maskapai Indonesia, menurut dia, lebih sering memperbaharui armadanya sehingga membuat beban biaya jadi lebih tinggi.

"Tapi pemeliharaannya (pesawat maskapai AS) bagus, sehingga beban biayanya mereka jadi lebih rendah," imbuhnya.

Maka dari itu, dirinya menekankan kepada maskapai dalam negeri perlu melakukan berbagai efisiensi biaya operasional. Tidak melulu terkait bandara dan armada pesawat saja, efisiensi juga bisa dilakukan dari sisi pembelian avtur.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam Rapat Koordinasi (Rakor) mengatakan penurunan harga tiket pesawat LCC hanya untuk penerbangan dengan jam keberangkatan pukul 10.00-14.00 (waktu setempat) yang diberlakukan pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Sedangkan pemilihan waktu tersebut dilakukan dengan pertimbangan okupansi yang masih rendah. Selain itu, pemberian diskon juga diberikan untuk kursi kelas tiket tertentu.

"Yang jelas kami berkomitmen sekian persen dari total kapasitas penumpang di pesawat akan kami alokasikan kursinya untuk penerbangan murah," tandas Susiwijono.