Volume SUN Diperdagangan Rabu Kemarin Senilai Rp22,16 Triliun dari 46 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Kamis (18/7/2019) menyebutkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (17/7), senilai Rp22,16 triliun dari 46 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp7,41 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,64 triliun dari 63 kali transaksi di harga rata - rata 106,65% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0080 senilai Rp1,73 triliun dari 104 kali transaksi di harga rata - rata 102,20%.

Sedangkan volume perdagangan terbesar pada Surat Berharga Syariah Negara didapati pada Project Based Sukuk seri PBS021 senilai 2,4 triliun dari 2 kali transaksi dan diikuti oleh seri PBS003 sebesar Rp500,00 miliar untuk 2 kali perdagangan. 

Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp545,00 miliar dari 37 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Sukuk Wakalah Medco Power Indonesia II Tahun 2019 Seri  A(SWMEDP02A) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp80 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,09% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Indofood Sukses Makmur VIII Tahun 2017 (INDF08) senilai Rp51 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 101,70%.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup melemah, pada level 13983 per dollar Amerika, mengalami pelemahan sebesar 48,00 pts (0,34%) dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Bergerak mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 13920,00 hingga 13983,00 per dollar Amerika, pelemahan nilai tukar rupiah seiring dengan pergerakan mata uang regional yang juga cenderung mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika. Mata uang Peso Filipina (PHP) memimpin pelemahan mata uang regional sebesar 0,45% diikuti oleh pelemahan mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,34% dan Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,30%.

Adapun yang mengalami penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Dollar Hongkong yang menguat terbatas sebesar 0,04% terhadap Dollar Amerika.

Sementara itu, pasar surat utang global ditutup dengan arah perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan.

Imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun ditutup turun terbatas di level -0,294% sementara itu imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor yang sama juga mengalami penurunan terbatas di level 0,753% di tengah penurunan imbal hasil surat utang Amerika untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun yang terbatas pada level 2,055% dan 2,566%.