Sempat Tumbuh Rendah di 2018, Premi Asuransi Tahun 2019 Diprediksi Tumbuh Tinggi

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Premi market di Indonesia tumbuh rendah pada 2018. Ini disebabkan oleh adanya penurunan pada pertumbuhan premi asuransi jiwa.

Sebaliknya, premi Property & Casualty (P&C) tumbuh baik dan meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. Meskipun demikian, segmen P&C, menyumbang hanya seperempat dari total kumpulan premi (di luar asuransi kesehatan).

Melihat hal itu, Allianz Life Indonesia mengharapkan pertumbuhan yang lebih tinggi, dengan pertumbuhan premi sekitar 9% secara keseluruhan.

Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia Joos Louwerier mengatakan, pihaknya memulai tahun 2018 dengan sangat kuat, tetapi sepanjang tahun beberapa peristiwa berdampak pada pasar, seperti perang dagang antara AS dan Cina, kenaikan harga minyak dan kenaikan suku bunga AS.

“Ini berdampak pada pasar asuransi jiwa pada tahun 2018.  Namun, kami dapat mengatasi tantangan ini dengan pertumbuhan positif dengan memberikan solusi perlindungan yang inovatif dan layanan yang sangat baik. Allianz juga berkomitmen untuk mendukung pemerintah meningkatkan penetrasi keuangan dan memberikan perlindungan kepada lebih banyak masyarakat Indonesia (to insure more people),” tutur Louwerier, Jumat (12/7/2019).

“Top line dan Net Earned Premium Allianz Utama telah tumbuh dengan sangat baik tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, bencana alam (gempa bumi) telah menurunkan KPI kinerja keuangan 2018. Meskipun demikian, transformasi ritel digital kami berjalan dengan baik. Hal ini dapat diamati dari tingkat kepuasan nasabah kami, melalui pengukuran Net Promoter Score, yang meningkat secara signifikan. Oleh karena itu kami terus berkomitmen untuk selalu memberikan yang terbaik bagi para mitra bisnis dan nasabah,“ ujar President Director Allianz Utama Indonesia Peter van Zyl.

Pasar asuransi Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk mengejar ketinggalan. Premi per kapita mencapai EUR 50 pada tahun 2018 (setara dengan India) sementara penetrasi hanya 1,5%, (untuk perbandingan, penetrasi sudah mencapai 3,7% di Tiongkok).