ANALIS MARKET (12/7/2019) : Pasar Obligasi Berpotensi Kembali Menguat

Foto : Ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi kemarin (11/7), merespon positif berita dari Powell, baik dari testimoni maupun dari Minutes Meeting yang keluar kemarin.

Namun yang menarik dari penguatan harga obligasi, bukanlah harga obligasi jangka panjang yang mengalami kenaikkan signifikan, namun obligasi jangka pendek yang naik tinggi.

“Hal ini menurut kami menunjukkan bahwa para pelaku pasar dan investor saat ini cukup senang dengan berita yang beredar, khususnya kans pemotongan tingkat suku bunga The Fed. Namun demikian, mereka melihat hal ini sebagai sesuatu yang harus dicermati lebih lanjut,” jelas analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (12/7/2019).

Lebih lanjut analis Pilarmas menyebutkan, para pelaku pasar jangan sampai terbuai dengan sentiment sesaat saja.

Pasalnya, dipenghujung akhir pekan yang cerah ini, kita akan mulai cerita dari risalah Bank Sentral Eropa yang dimana para pembuat kebijakan dari Bank Sentral Eropa yang telah bertemu pada bulan Juni lalu, telah siap untuk memberikan lebih banyak stimulus untuk ekonomi Kawasan Eropa.

Tentu hal ini memberikan indikasi bahwa mungkin akan dilakukan penurunan tingkat suku bunga bulan ini.

Sejumlah laporan yang telah masuk mengenai ekonomi Eropa telah memburuk, dan dapat memberikan peluang pemberian stimulus lebih cepat daripada sebelumnya.

Mario Draghi menyampaikan bahwa apabila prospek perekonomian tidak membaik, maka hal itu sudah cukup untuk kami mengambil sebuah tindakan.

"Ada kesepakatan yang lebih luas, mengingat ketidakpastian yang semakin tinggi yang kemungkinan akan bertambah luas di masa depan, Dewan Pemerintah telah siap untuk memudahkan sikap kebijakan moneter lebih lanjut," jelas analis Pilarmas.

Pada akhirnya risalah ini kurang lebih sama seperti risalah The Fed kemarin, sehingga tentu hal ini memberikan implikasi positif terhadap emerging market ke depannya, karena pelonggaran kebijakan moneter akan mulai terjadi.

Mario juga mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa bersedia untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga lebih lanjut atau berpotensi untuk mengubah pembelian asset jika itu diperlukan.

Pada bulan September nanti juga ada rencana untuk memberikan pemberi pinjaman dengan tambahan uang tunai namun dalam bentuk pinjaman jangka Panjang.

Pejabatan Bank Sentral Eropa juga mengatakan bahwa inflasi terlihat menjauh dari target inflasi Dewan Pemerintahan.

Fokus selanjutnya, akan beralih kepada pertemuan pada tanggal 24 – 25 Juli, dimana diharapkan dapat menetapkan kebijakan serta memperbaharui proyeksi ekonomi mereka.

Sebagai informasi, Mario akan meninggalkan Bank Sentral Eropa pada bulan Oktober nanti, Mario mungkin akan dikenang sebagai Presiden Bank Sentral Eropa yang tidak pernah menaikkan tingkat suku bunganya.

Dan saat ini, Christine Lagarde sedang dalam proses untuk menggantikan posisi tersebut.

Sementara itu, Gubernur The Fed, Jerome Powell dihadapan Komite Perbankan Senat hari Kamis (11/7) kemarin mengatakan, bahwa Bank Sentral Amerika memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter karena hubungan antara inflasi dan tingkat penggangguran mulai terlihat lemah.

Dibawah tekanan dari Trump untuk menurunkan tingkat suku bunga bunga, mungkin telah menjadi alasan kuat bagi Powell untuk menurunkan tingkat suku bunga pada pertemuan Bank Sentral Amerika akhir bulan ini untuk mengimbangi pelemahan yang berasal dari global, khususnya dalam bidang manufacture dan ketegangan perdagangan yang masih terus berlanjut hingga hari ini.

Adapun pemaparan The Fed di hari kedua di hadapan Kongres berjalan dengan baik, Powell juga mengatakan bahwa ekonomi Amerika berada di saat yang baik.

Saat ini, para pelaku pasar dan investor berharap bahwa akan ada penurunan 25 bps pada pertemuan The Fed tanggal 30 – 31 Juli nanti,

"Dan hal itu kami melihat bahwa sangat mungkin terjadi. Mengapa demikian? Karena data inflasi Amerika yang keluar hari ini terlihat bahwa secara YoY telah terjadi penurunan dari sebelumnya 1.8% menjadi 1.6%, atau semakin menjauh dari target The Fed sebelumnya yaitu 2%.

Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi para pembuat kebijakan The Fed untuk mengambil keputusan.

Beralih dari sana, berita hangat kembali hadir dari Trump vs Xi. Trump mengeluh bahwa China belum meningkatkan pembelian produk pertanian dari Amerika, sebuah janji yang telah diucapkan oleh Xi Jinping pada KTT G20 pada bulan lalu.

Xi dan Trump sepakat untuk memulai kembali pembicaraan mengenai perdagangan tersebut, dan Trump mengatakan bahwa Ia akan menunda tarif tambahan pada barang barang impor China.

Trump juga mengklaim bahwa Xi telah setuju untuk membeli sejumlah produk pertanian Amerika dalam jumlah besar.

"Kami menilai bahwa masalah ini semakin pelik. Di satu sisi mereka mulai gencatan senjata disatu sisi Amerika ikut campur mengenai masalah yang terjadi di Hong Kong. Hal ini yang membuat China semakin marah terhadap Amerika. Kami berharap bahwa Amerika tidak mencampur-adukkan semua permasalahan saat ini. Jangan sampai masalah yang sudah ada sebelumnya mengenai perang dagang dan belum selesai sampai hari ini, masih harus ditambahkan lagi dengan permasalahan 'kepoh-nya' Amerika terhadap hal yang terjadi di Hong Kong.

“Kami merekomendasikan wait and see dengan potensi beli dengan volume terbatas,” jelas analis Pilarmas.