LPS : Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi, Akses Masyarakat Ke Inklusi Keuangan Perlu Terus Ditingkatkan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Akses masyarakat Indonesia terhadap jasa keuangan atau inklusi keuangan dinilai masih menjadi fokus utama untuk terus ditingkatkan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pasalnya, saat ini inklusi keuangan Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara, seperti; Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Filipina.

Padahal, sektor jasa keuangan memiliki peran yang penting dalam berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi ke depan, sektor jasa keuangan dibutuhkan untuk membiayai kebutuhan investasi sehingga perlu dilakukan upaya pendalaman inklusi keuangan,  baik dari pasar keuangan maupun institusi keuangan,” jelas Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Destry Damayanti di Hotel Atlet Century Park Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Lebih lanjut Destry menegaskan, isu pendalaman keuangan menjadi hal penting, yang perlu diangkat, mengingat kondisi sektor keuangan Indonesia masih didominasi oleh perbankan (115 bank umum dan 1.593 BPR) yang menguasai 77,15 persen pangsa pasar aset.

Sementara pasar modal Indonesia, baik ekuitas, maupun obligasi masih relatif tertinggal dibandingkan negara lain.

“Untuk itu, diperlukan perbaikan dari sisi demand (investor), supply (instrumen), infrastruktur pasar dan kebijakan yang kondusif, serta memperkuat regulasi untuk melindungi hak-hak investor dan jaminan penegakan hukum, serta menyederhanakan perizinan usaha dan investasi keuangan,” jelasnya.

Ditambahkan, meskipun peran dan keberhasilan sektor keuangan dalam menumbuhkan ekonomi berbeda-beda, namun diperlukan sektor keuangan yang efektif dan efisien untuk menumbuhkan perekonomian yang berkualitas.