Tekanan Terhadap Rupiah Mereda, Harga SUN Diperdagangan Senin Kemarin Bergerak Naik

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pergerakan harga Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan hari Senin, 18 Maret 2019 kemarin, mengalami kenaikan seiring dengan meredanya tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Dalam riset yang dirilis Selasa (19/3/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, kenaikan harga Surat Utang Negara (SUN) yang terjadi pada perdagangan kemarin (18/3), masih didorong oleh faktor perubahan nilai tukar mata uang Rupiah yang menguat terhadap Dollar Amerika.

“Penguatan nilai tukar Rupiah ini disebabkan para pelaku pasar yang merespon positif terhadap neraca perdagangan yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan kemarin dimana neraca perdagangan surplus sebesar US$330 juta. Selain itu, minat investor pada pasar keuangan juga didorong oleh beberapa sentimen positif dari eksternal diantaranya meredanya perang dagang antara Amerika dan China serta jelang diadakannya FOMC Meeting pada pekan ini,” jelas I Made.

Baca juga : Imbal Hasil US Treasury Bertenor 10 Tahun Turun Terbatas pada Perdagangan Senin Kemarin

Lebih lanjut diungkapkan, perkembangan hubungan antara Amerika dan China mulai mereda, dilihat dari kedua negara telah membuat kesepakatan dagang yang lebih konkrit dimana China akan menerapkan aturan baru untuk melindungi nilai investasi asing serta tidak diwajibkannya transfer teknologi.

Hal ini membuat para pelaku pasar merespon positif dan menciptakan iklim yang nyaman bagi dunia usaha.

Disisi lain, para pelaku pasar juga melihat bahwa Bank Sentral Amerika menunjukan sinyal untuk menahan suku acuannya.

Hal ini disampaikan pada pernyataan The Fed dimana output industrial Amerika Serikat hanya naik sebesar 0,1% sedangkan konsensus mempredikasi peningkatan output industrial Amerika dapat mencapai hingga 0,4%.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa perekonomian Amerika masih belum pulih seutuhnya, maka kami menilai The Fed berpeluang besar akan menahan suku bunganya.

“Dari sentimen-sentimen positif tersebut, para pelaku pasar cenderung menginvestasikan modalnya ke negara-negara berkembang, salah satunya termasuk Indonesia,” ujar I Made.

Lebih rinci diungkapkan, perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi berkisar antara 10 hingga 55 bps yang berdampak terhadap adanya perubahan tingkat imbal hasil yang berkisar antara 5 hingga 6,3 bps dengan rata - rata mengalami penurunan imbal hasil sebesar 2,4 bps.

Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan yang mengalami kenaikan harga tertinggi didapati pada tenor 15 tahun sebesar 56 bps sehingga mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 6,3 bps di level 8,054%, dan diikuti oleh Surat Utang Negara seri acuan bertenor 20 tahun yang mengalami kenaikan harga sebesar 47 bps yang berdampak kepada turunnya tingkat imbal hasil sebesar 4,8 bps di level 8,158%.

Selanjutnya, didapati Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 5 tahun, keduanya mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 36 bps dan 22 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil  sebesar 5,1 bps sehingga masing-masing berada di level 7,702% dan 7,280%.

Sementara itu, dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, harganya masih terlihat mengalami kenaikan.

Adapun harga dari seri INDO24 dan INDO29 mengalami rata-rata kenaikan masing-masing sebesar 22 bps dan 51 bps yang mendorong oleh turunnya imbal hasil masing-masing sebesar 4,7 bps di level 3,636% dan 6,2 bps di level 4,067%.

Sedangkan untuk harga dari seri INDO44 dan INDO49 juga turut mengalami kenaikan masing-masing sebesar 59 bps dan 86 bps yang mengakibatkan turunnya tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 3,5 di level 4,938% dan 5,2 bps di level 4,826%.