Volume SUN Diperdagangan Akhir Pekan Lalu Senilai Rp17,66 Triliun dari 37 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Senin (18/3/2019) mengungkapkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan hari Jumat, tanggal 15 Maret 2019 lalu, mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp17,66 triliun dari 37 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan.

Adapun Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,49 triliun dari 130 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp2,68 triliun dari 41 kali transaksi.

Sementara itu, untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp660,00 miliar dari 16 kali transaksi dan diiringi dengan volume Project Based Sukuk seri PBS019 sebesar Rp173,50 miliar untuk 6 kali transaksi.

Disisi lain, volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan lebih besar daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,16 triliun dari 40 seri obligasi korporasi yang ditransaksikan.

Adapun untuk Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap I Tahun 2019 Seri A (ISAT03ACN1) menjadi obligasi koporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp143 miliar dari 9 kali transaksi dan diikuti oleh Sukuk Ijarah Berkelanjutan III Indosat Tahap I Tahun 2019 Seri A (SIISAT03ACN1) senilai Rp125 miliar dari 8 kali perdagangan.

Selanjunya, untuk obligasi korporasi dengan volume Rp100 miliar dari 4 kali transaksi didapati pada perdagangan Obligasi I Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2016 Seri A (IIFF01A).

Sementara itu, pada perdagangan di akhir pekan kemarin (15/3), nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami penguatan sebesar 16 pts (0,11%) di level 14262,00 per Dollar Amerika.

Pergerakan nilai tukar Rupiah pada awal sesi perdagangan mengalami pelemahan kemudian perlahan-lahan menguat hingga akhir sesi perdagangan dan bergerak pada kisaran 14258 hingga 14315 per Dollar Amerika.

Adapun nilai tukar Rupiah tersebut bergerak ditengah beragamnya nilai tukar mata uang regional. Mata uang Rupee India memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,30% dan diikuti oleh penguatan mata uang Baht Thailand (THB) dan mata uang Renminbi China (CNY) masing-masing sebesar 0,16% dan 0,13%.

Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) yang melemah sebesar 0,19% diiringi dengan pelemahan mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,09% dan mata uang Yen Jepang (JPY) yang melemah sebesar 0,04% terhadap mata uang Dollar Amerika.

Adapun Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan sebesar 4 bps pada level 2,591%.

Hal ini juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami kenaikan sebesar 3 bps sehingga berada pada level 3,013%.

Pelemahan imbal hasil US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami penguatan, dimana indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 76 bps sehingga berada pada level 7688,53 sedangkan untuk indeks DJIA juga turut mengalami kenaikan sebesar 54 bps sehingga berada pada level 25848,87.

Sementara itu untuk obligasi Inggris (Gilt) ditutup mengalami kenaikan di semua tenornya, baik pada tenor 5, 10 dan 30 tahun, masing-masing sebesar 0,943%, 1,215%, dan 1,716%.

Sedangkan untuk obligasi Jerman (Bund) mengalami penurunan untuk semua tenornya baik itu bertenor 10, 20, dan 30 tahun masing-masing sebesar 0,084%, 0,453%, 0,745%.