Volume SUN Diperdagangan Senin Kemarin Sebesar Rp9,50 Triliun dari 34 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Selasa (02/4/2019) mengungkapkan, volume perdagangan Obligasi Negara yang dilaporkan menurun jika dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya, yakni sebesar Rp9,50 triliun dari 34 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan.

Adapun untuk volume perdagangan Surat Utang Negara dengan volume tertinggi didapati pada seri FR0078 sebesar Rp2,01 triliun dari 47 kali transaksi dan kemudian dilanjutkan dengan Surat Utang Negara dengan seri FR0068 dan FR0077 masing-masing sebesar Rp1,85 triliun dari 87 kali perdagangan dan Rp1,37 triliun dari 28 kali transaksi.

Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, volume Project Based Sukuk terbesar didapati pada seri PBS014 senilai Rp230,80 miliar dari 10 kali transaksi dan diiringi oleh volume Project Sukuk Negara seri PBS012 dan seri PBS006 masing-masing sebesar Rp172,96 miliar dari 13 kali transaksi dan Rp100,00 miliar untuk 5 kali perdagangan.

Disisi lain, pada perdagangan awal pekan kemarin (01/4), volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan meningkat dari perdagangan sebelumnya sebesar Rp1,62 triliun dari 73 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan IV BFI Finance Indonesia Tahap I Tahun 2018 Seri B (BFIN04BCN1) senilai Rp398,00 miliar dari 10 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap VIII Tahun 2019 Seri A (SMFP04ACN8) dan Obligasi Berkelanjutan I Bank BRI Tahap II Tahun 2016 Seri C (BBRI01CCN2) masing-masing senilai Rp135,30 miliar dari 5 kali transaksi dan Rp78,00 miliar untuk 12 kali transaksi.

Adapun, selanjutnya didapati seri Obligasi Berkelanjutan III Federal International Finance Tahap V Tahun 2019 Seri A (FIFA03ACN5) dengan volume perdagangan sebesar Rp75,00 miliar dari 1 kali transaksi.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika menguat sebesar 16 pts (0,11%) di level 14225,00 per Dollar Amerika.

Penguatan nilai tukar Rupiah tersebut sempat melemah di pertengahan sesi namun menguat kembali hingga akhir sesi perdagangan dan bergerak pada kisaran 14225,00 hingga 14245,00 per Dollar Amerika.

Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional terhadap mata uang Dollar Amerika.

Adapun mata uang Rupiah Indonesia (IDR) dan mata uang Won Korea Selatan (KRW) keduanya memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,11% dan diikuti oleh mata uang Dollar Singapura (SGD) sebesar 0,10% dan mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,09%.

Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami penurunan terbesar didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,11% dan diikuti pelemahan mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,01% terhadap mata uang Dollar Amerika.

Disisi lain, imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup mengalami penurunan terbatas yang berada pada level 2,492%, hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penurunan terbatas yang berada pada level 2,886% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak menguat.

Indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 129 bps sehingga berada pada level 7828,91 dan untuk indeks DJIA juga ditutup dengan mengalami penguatan sebesar 127 bps sehingga berada pada level 26258,42.

Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan sehingga berada di level 1,047% sedangkan untuk tenor 30 tahun meningkat sehingga berada pada level 1,591%.

Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun mengalami kenaikan di level –0,024% sedangkan untuk tenor 30 tahun mengalami penurunan di level 0,622%.