Menkop Ajak Fintech Bangun Warung Tradisional Mendunia

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengatakan warung-warung tradisional dan usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) kini bisa memperoleh bantuan pendanaan dari start-up dan fintech.

Dengan demikian, diharapkan warung-warung di Indonesia dapat berkembang.

Seperti diketahui, saat ini kendala utama UMKM adalah pendanaan. Sebab tidak semua pelaku usaha tersentuh oleh layanan pendanaan perbankan.

Dia juga akan mendorong start-up dan fintech untuk tidak hanya memberikan bantuan dalam hal pendanaan. Tapi juga pembinaan sehingga produk yang dihasilkan akan memperoleh nilai lebih.

"Sekarang regulasi sudah memungkinkan untuk kerjasama dengan fintech, bank pun begitu, jadi kami buat model kerjasama kemitraan. Jadi kami mau ajak Tokopedia, OVO, warung pintar sahara untuk bisa sama-sama bina UMKM kita sehingga bukan hanya bisa dapatkan pembiayaan," kata dia, di Acara Gerakan Warung Pintar, di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (14/12/2019).

Menurutnya, jika produk yang dihasilkan kualitasnya meningkat maka otomatis pasar atau penjualan pun akan meningkat. Bahkan, akan dengan mudah tembus ke pasar global yang pada akhirnya ikut mendorong pertumbuhan ekspor.

"Perbaiki produk, bisa didistribusikan sehingga akses pasar meluas. Kita libatkan juga anak muda terjun langsung kembangkan bisnis," tandasnya.

Menurutnya, warung merupakan salah satu UMKM dan memang perlu untuk dibangun konektivitasnya lewat jaringan suplai barang. Teknologi yang semakin maju saat ini seharusnya dapat memudahkan hal tersebut.

"Infrastruktur internet pemerintah juga sudah lakukan di berbagai daerah, jadi sekarang hampir seluruh nasional sebenarnya sudah terkoneksi," jelas dia.

Untuk itu, lanjutnya, strategi yang dirancang Kemenkop UKM untuk mendorong UMKM adalah dengan memperluas akses pasar warung tradisional. Sehingga nantinya warung tidak hanya sekedar berjualan di kampung, tapi juga mampu menawarkan dagangannya melalui online.

"Digitalisasi jadi satu target bagi kita. Tentu tidak semua, karena sebagian besar warung-warung ini yang hidup di kampung-kampung itu sebenarnya masuk dalam kategori ekonomi subsistance. Tapi ada dari anak muda di level mikro ini yang sebenarnya bisa keluar dari kampungnya, naik kelas sehingga bisa mencapai market yang lebih besar," pungkasnya.