Luncurkan Produk Substitusi Impor INBIO, Proline Targetkan Penjualan Tahun Depan Naik 34 Persen

Foto : Pasardana.id

Pasardana.id - PT Prodia Diagnostic Line (Proline), salah satu anak perusahaan Prodia Group Companies yang bergerak di bidang manufaktur alat kesehatan (alkes), meluncurkan INBIO, sebuah produk yang merupakah unit pengembangan dan produksi imunologi yang akan menghasilkan tes-tes in vitro diagnostik imunologi. 

Direktur PT Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja mengungkapkan, pada tahun depan perseroan masih berencana untuk meluncurkan tiga produk lagi yang merupakan alat kesehatan substitusi Impor.

"Tahun depan kami berencana me-launching tiga produk substitusi impor lagi," ungkap Cristina di Kawasan Industri Jababeka Cikarang, Rabu (13/11).

Sejalan dengan arahan Presiden RI, Joko Widodo kepada Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan penggunaan produk alat kesehatan dalam negeri, menurut Cristina, saat ini merupakan momen yang baik bagi Proline untuk turut berkontribusi mengembangkan produk substitusi impor dalam negeri dan fokus memperbesar pasar perseroan di kancah nasional.

"Setelah peluncuran produk INBIO ini, kami akan fokus memperbesar pasar. Tahun depan, kami juga menargetkan 34 persen peningkatan sales," bebernya.

Lebih lanjut Cristina menerangkan, ketersediaan alat kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam upaya peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendukung Program Indonesia Sehat. Selain obat, alat kesehatan juga berfungsi untuk membantu menegakkan diagnosis dan meringankan penyakit.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini kebutuhan Alkes masih didominasi oleh produk impor sekitar lebih dari 90%. Oleh sebab itu, dibutuhkan upaya dalam mengurangi ketergantungan impor melalui pengembangan industri alat kesehatan dalam negeri. 

Terkait produk INBIO, dijelaskan fasilitas produksi INBIO akan mengembangkan berbagai produksi inovasi lokal Indonesia. INBIO ini nantinya akan memproduksi tes deteksi penyakit infeksius seperti dengue, malaria, leptospirosis, chikungunya, HIV, serta drugs of abuse test dan tes-tes lainnya.

Pengembangan dan optimasi produk INBIO akan dilakukan secara swadaya oleh Proline sehingga menghasilkan akurasi, sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. 

Proline telah resmi mendapatkan izin produksi imunologi pada tanggal 3 Oktober 2019. Imunologi adalah tes yang metode kerjanya menggunakan prinsip imunologi yaitu reaksi antara antibodi dan antigen yang bertujuan untuk mendeteksi awal adanya infeksi virus, atau gangguan kesehatan yang berkaitan dengan sistem imun. 

Dengan standar dan kualitas yang tinggi, INBIO dapat menghasilkan tes-tes diagnostik dengan harga yang lebih kompetitif sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2016, penggunaan alkes dalam negeri dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan sebesar 20-30% secara keseluruhan. 

Cristina menambahkan, pemilihan nama INBIO sendiri mengandung makna filosofis yang dalam. IN merujuk pada Indonesia dan BIO berasal dari bahasa Yunani berarti kehidupan.

"INBIO berarti hasil inovasi anak bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di bidang kesehatan,” tutur Cristina. 

INBIO mempunyai logo yang terinspirasi dari logo Proline. Pertemuan dua panah sejalan dengan filosofi logo Proline menggambarkan perpaduan sampel dan reagen, baik berupa antibodi atau antigen, memberikan hasil pemeriksaan bagi pengguna produk INBIO.

"Logo INBIO mengandung makna akurasi sebagai salah satu acuan kinerja produk, dan juga harapan Proline agar terus maju ke depan menjadi perusahaan produsen IVD terkemuka dan terpercaya di Indonesia,” tambah Cristina. 

Acara peluncuran INBIO ini dihadiri oleh Direktur Pengawasan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Sodikin Sadek; Komisaris Utama Prodia Grup, Andi Widjaja; Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk, Dewi Muliaty, dan jajaran manajemen Prodia lainnya, serta Ketua Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Ade Tarya Hidayat.