IHSG Tembus 5.000, Jika Laporan Keuangan Semester I/2016 Emiten Ciamik

foto : istimewa

Pasardana.id - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyentuh level 5.000. Namun dengan syarat, laporan keuangan semester I-2016 dari 526 emiten naik dibanding periode sebelumnya.

Direktur  Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat mengatakan, kinerja perusahaan terbuka tersebut bisa mendongkrak IHSG pertengahan tahun ini. Melengkapi laporan keuangan kuartal I lalu yang masih bagus.

"Harusnya nih, ini kan sudah laporan keuangan, April sudah, harusnya Maret sudah keluar juga, tinggal mereka diperkuat lagi dengan laporan keuangan Juni. Kalau keuangan Juni oke, saya kira optimis ya bisa mencapai index di atas 5.000," ujarnya kepada Pasardana.id, di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/6/2016).

Samsul menjelaskan, khusus emiten sektor energi kemungkinan sudah memiliki tingkat produktivitas yang baik melalui refracturing. Ini merupakan metode efektif untuk meningkatkan umur sumur minyak dan meningkatkan kinerja keuangan.

"Fundamentalnya laporan keuangan. Di samping itu, mungkin mereka punya refracturing sudah selesai, mereka punya sudah selesai, itu kemungkinan membantu," kata Samsul.

Asal tahu saja, rata-rata laba komprehensif emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) di sepanjang 2015 mencatatkan peningkatan 8,60% dibandingkan setahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan tahunan emiten 2015, rata-rata pertumbuhan laba komprehensif emiten di 2015 tercatat sebesar Rp591,81 miliar dibandingkan Rp544,94 miliar di 2014.

BEI juga mencatat, sejak 2005 sampai dengan 2015, rata-rata pertumbuhan laba komprehensif emiten di BEI mengalami pertumbuhan 16,35% setiap tahunnya. Selain itu, di sepanjang 2015, sebanyak 74,3% emiten mampu membukukan keuntungan.

Total laba komprehensif emiten industri dasar dan kimia mencatatkan kenaikan tertinggi yakni sebesar 67,9% jika dibandingkan sektor lainnya. Di sisi lain, kinerja keuangan sektor pertambangan di tahun ini mampu membukukan laba Rp3,44 triliun jika dibandingkan di 2014 yang tercatat mengalami kerugian Rp1,03 triliun karena dampak dari penurunan harga komoditas dunia di tahun tersebut.

Berdasarkan kontribusi terhadap total laba komprehensif, penyumbang terbesar laba komprehensif emiten di 2015 adalah emiten dari sektor keuangan dengan persentase sebesar 41,31%. Disusul oleh emiten sektor konsumsi sebesar 13,08%; dan sektor infrastruktur, sarana dan prasarana, dan transportasi sebesar 12,34%.