BYAN|saham anjlok|pergerakan harga saham|PT Bayan Resources Tbk|PT Tiwa Abadi|Haji Isam|Dato Low Tuck Kwong|Andi Syamsuddin Arsyad|PT Tanur Jaya|PT Fajar Sakti Prima

Saham BYAN Kembali Ambruk, Force Majeure dan Isu Haji Isam Jadi Sorotan

Oleh: Harry

15 September 2026, 13:53
Saham BYAN Kembali Ambruk, Force Majeure dan Isu Haji Isam Jadi Sorotan

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id — Saham PT Bayan Resources Tbk (IDX: BYAN) kembali menjadi sorotan setelah melanjutkan tekanan jual pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/9/2026).

Kejatuhan saham emiten batu bara milik Dato Low Tuck Kwong tersebut terjadi di tengah sentimen negatif akibat deklarasi force majeure dan isu akuisisi oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Pada perdagangan sesi I, IHSG melemah 0,76% ke level 6.484.

Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama indeks, dengan BYAN termasuk yang paling mencolok.

Tekanan terhadap BYAN datang setelah perseroan mengumumkan kondisi force majeure atas kewajiban pasokan batu bara kepada sejumlah pelanggan.

Manajemen Bayan menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tiga anak usaha perseroan belum diterbitkan.

Ketiga anak usaha tersebut adalah PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima.

Dalam keterbukaan informasi, manajemen BYAN menyatakan bahwa ketiga anak usaha tersebut belum dapat memenuhi pasokan batu bara sesuai Coal Supply Agreement dengan pelanggan karena belum memperoleh persetujuan perubahan RKAB.

“Keadaan force majeure dikarenakan persetujuan atas perubahan RKAB 2026 belum diterbitkan kepada anak perusahaan, walaupun permohonan persetujuan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” tulis Jenny Quantero selaku Corporate Secretary Bayan Resources Tbk dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (15/9).

Manajemen juga menjelaskan bahwa persetujuan RKAB diperlukan agar ketiga perusahaan dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah.

Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi kemampuan BYAN dan anak usahanya dalam memenuhi kewajiban pasokan kepada pelanggan.

Tekanan terhadap saham BYAN sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Pada perdagangan Senin (14/9), saham BYAN anjlok 10,12% menjadi Rp11.100.

Dalam lima hari perdagangan, saham tersebut telah merosot sekitar 20,71% dari posisi Rp14.000 pada 8 September 2026.

Jika dibandingkan dengan penutupan 18 Agustus 2026 di level Rp17.275, harga saham BYAN bahkan telah terkoreksi sekitar 35,74%.

Selain persoalan operasional, sentimen pasar juga dibayangi rumor mengenai rencana akuisisi BYAN oleh kelompok usaha Haji Isam dengan harga yang disebut berada jauh di bawah harga pasar.

Rumor tersebut sebelumnya sempat membuat saham BYAN melonjak tajam, namun kemudian berbalik menjadi tekanan ketika pasar mempertanyakan valuasi dan potensi harga penawaran.

Sebelumnya, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (IDX: JARR) juga telah membantah adanya rencana pengambilalihan 62,2% saham BYAN oleh Haji Isam.

Dengan kombinasi sentimen force majeure, ketidakpastian persetujuan RKAB, serta rumor akuisisi yang belum terkonfirmasi, saham BYAN kini menghadapi tekanan jual yang semakin besar dan turut menyeret kinerja IHSG.

Berita Terkini

See More