ANALIS MARKET (27/6/2026): Wait and See
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan hari Rabu (26/8/26), di mana para investor cenderung bersikap hati-hati menjelang laporan keuangan Nvidia, yang dipandang sebagai indikator penting bagi keberlanjutan momentum di sektor kecerdasan buatan (AI).
Dow Jones Industrial Average turun 0,21% menjadi 53.463,88, S&P 500 melemah 0,02% menjadi 7.675,70, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,08% menjadi 26.130,20.
Saham Nvidia turun 1,6% menjelang rilis laporan kuartalannya, sementara sektor kesehatan menjadi sektor terlemah dalam indeks S&P 500.
Di sisi lain, saham Meta dan Apple masing-masing menguat sekitar 1,1%.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati setelah inflasi tahunan AS pada bulan Juli naik menjadi 3,7%—sedikit di atas perkiraan sebesar 3,6%—sementara ekonomi AS tumbuh 1,5% pada kuartal kedua. Data ini meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve menjelang pertemuan bulan September. Investor kini akan memantau data ekonomi mendatang serta pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, di Jackson Hole pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai prospek suku bunga.
GEOPOLITIK: Perhatian pasar tetap tertuju pada perkembangan di Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz. Iran dan Oman dilaporkan telah mencapai kesepakatan mengenai pengelolaan wilayah Selat Hormuz beserta pendapatannya. Perkembangan ini memunculkan harapan akan normalisasi aktivitas di sepanjang jalur perdagangan strategis tersebut dan membantu meredakan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia.
REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve kembali menjadi fokus utama pasar menjelang pertemuan kebijakan bulan September. Peluang kenaikan suku bunga dalam pertemuan tersebut masih diperkirakan berada di kisaran 38,1% berdasarkan data CME FedWatch. Kondisi ini menjadikan komunikasi kebijakan The Fed semakin penting, khususnya pidato Kevin Warsh di Jackson Hole, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan bank sentral terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah kebijakan moneter selanjutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury bergerak naik; yield tenor 2 tahun naik 4 basis poin (bps) menjadi 4,22%, sementara yield tenor 10 tahun naik menjadi 4,65%. Indeks Dolar AS bergerak di atas level 99. Di pasar Asia, Yen Jepang menguat ke kisaran JPY159 per Dolar AS, sedangkan yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berada di sekitar 2,88%—mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade—di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak variatif. Indeks FTSE 100 Inggris relatif stabil setelah mengakhiri reli enam hari, sementara indeks DAX Jerman ditutup pada level 26.316, didorong oleh sektor perbankan, industri, dan teknologi. Indeks CAC 40 Prancis naik 0,3% menjadi 8.462, indeks FTSE MIB Italia menguat 0,3% menjadi 52.883, sedangkan indeks STOXX Europe 600 relatif stabil dengan penurunan tipis sebesar 0,01%.
-Pasar Asia secara umum menguat. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,62% menjadi 66.262, Shanghai Composite menguat 0,59% menjadi 3.912,5, dan Shenzhen Component naik 0,69% menjadi 13.841,3. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,6% menjadi 25.653, sementara KOSPI Korea Selatan menguat 0,97% menjadi 6.808. Sebaliknya, indeks Sensex India melemah sekitar 0,2% akibat tekanan pada saham-saham sektor TI.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas bervariasi. Harga minyak Brent berada di level US$87,43 per barel, naik 1,29%, sementara harga WTI bergerak di bawah US$81,78 per barel. Harga batu bara berada di atas US$131 per ton, mendekati level tertinggi dalam tiga minggu. Harga emas melemah 0,79% menjadi sekitar US$4.621 per ons, sedangkan harga tembaga bergerak di kisaran US$6,61 per pon. Harga timah naik 0,19% menjadi US$55.852 per ton, sementara harga nikel berada di sekitar US$16.920 per ton dan masih mendapat dukungan dari ekspektasi pasokan yang lebih ketat dari Indonesia.
INDONESIA: Tren resentralisasi fiskal diperkirakan berlanjut pada tahun 2027 di tengah meningkatnya belanja pemerintah pusat yang mengalir langsung ke daerah, sementara ruang fiskal melalui Transfer ke Daerah (TKD) tetap terbatas. TKD untuk tahun 2027 diproyeksikan mencapai Rp735 triliun, naik 5,5% dari perkiraan tahun 2026, namun masih jauh di bawah pagu anggaran tahun 2025 dan realisasi tahun 2023. Belanja pusat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar sekitar Rp240 triliun dan perlindungan sosial sekitar Rp550 triliun terus mendukung aktivitas ekonomi daerah, namun porsi yang semakin besar berada di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehingga ruang bagi pemerintah daerah untuk menetapkan prioritas pembangunan berpotensi menyempit. Selain itu, kapasitas fiskal daerah yang terbatas berisiko menekan belanja modal, infrastruktur, dan belanja mitigasi bencana. Sementara itu, calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menilai Indonesia perlu tumbuh di atas 7% untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045 melalui produktivitas, industrialisasi, dan pembiayaan yang lebih kuat. Calon Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa sinergi dengan pemerintah tidak akan mengurangi independensi BI. Bagi pasar, koordinasi kebijakan yang lebih kuat dipandang sebagai sentimen positif, meskipun kredibilitas independensi BI tetap menjadi kunci bagi kepercayaan investor, arus modal, dan stabilitas rupiah.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,48% di level 6.405,69 pada perdagangan hari Rabu (26/8), dengan investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp201,10 miliar di Pasar Reguler. Dana asing terutama masuk ke saham BMRI, DSSA, BBCA, MDKA, dan ICBP, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada TPIA, ISAT, AMMN, BBNI, dan ITMG. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.720 per Dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya di sekitar Rp17.650. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian pasar menjelang rencana demonstrasi besar di Jakarta, yang menambah sentimen risiko domestik.
-Secara teknikal, IHSG kembali membentuk candlestick bearish karena gagal mempertahankan kekuatannya di atas area 6.500. Indeks ditutup di bawah EMA10 (6.416), namun masih bertahan di atas EMA20 (6.355) dan EMA50 (6.315). Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual jangka pendek mulai meningkat, meskipun struktur tren jangka menengah relatif terjaga selama IHSG mampu bertahan di atas area support dinamis tersebut. RSI (14) berada di level 55,11 dan tetap di atas level netral 50, yang menunjukkan bahwa momentum bullish belum sepenuhnya hilang, meski mulai melemah. Jika IHSG gagal bertahan di atas area 6.375–6.355, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju level support berikutnya di 6.315, dengan support lanjutan di 6.186 (area gap). Sebaliknya, jika terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus EMA10 di level 6.416 sebelum menguji resistance di 6.421, lalu area 6.500–6.532.
“Kami menyarankan pendekatan wait and see sembari memantau kemampuan IHSG untuk bertahan di atas level 6.375–6.355. Akumulasi pembelian dapat dilakukan secara bertahap jika indeks menunjukkan konfirmasi rebound dan berhasil menembus area 6.416–6.421, sementara trailing stop perlu diterapkan jika IHSG turun menembus level support 6.355," sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (27/8).





