ANALIS MARKET (16/9/2026): Risiko Koreksi Lanjutan Masih Terbuka
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Selasa (15/9/26).
Indeks S&P 500 turun 0,45% menjadi 7.585,73, Nasdaq Composite melemah 0,78% menjadi 25.981,57, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,63% menjadi 52.093,11.
Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menembus level 5% serta meningkatnya tekanan pasar menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif menjelang keputusan The Fed pada hari Rabu (16/9). Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) berada di kisaran 92%-94%, yang menjadi fokus utama para investor. Di sektor teknologi, kekhawatiran mengenai keamanan dan potensi perlambatan pengembangan AI tetap menjadi perhatian, meskipun saham-saham semikonduktor mulai stabil setelah sebelumnya mengalami tekanan yang cukup signifikan. Investor juga memantau dampak kenaikan biaya pendanaan terhadap valuasi saham teknologi dan belanja infrastruktur AI.
GEOPOLITIK: Risiko geopolitik kembali meningkat setelah gangguan pada sejumlah fasilitas minyak dan jalur distribusi di Libya serta Arab Saudi menambah kekhawatiran mengenai pasokan energi global. Di Libya, operasi di tiga ladang minyak dilaporkan terhenti dengan potensi status force majeure, sementara pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu di Arab Saudi juga dilaporkan mengalami gangguan. Kondisi ini meningkatkan risiko tekanan terhadap pasokan minyak global.
REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunganya pada hari Rabu (16/9), dengan pasar secara umum memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikan ini akan menjadi yang pertama sejak tahun 2023. Selain kebijakan moneter, perkembangan regulasi AI juga menjadi sorotan setelah sejumlah pemimpin perusahaan teknologi menyerukan pengembangan model AI yang lebih terkendali guna mengurangi risiko penyalahgunaan teknologi.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun naik 4,7 bps menjadi 5,01%, level tertinggi sejak April 2007, sementara imbal hasil tenor 2 tahun stabil di angka 4,67%. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun menembus angka 3%—tertinggi sejak September 1996—sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun naik 2 bps menjadi 1,86%. Di pasar valuta asing, indeks DXY naik melampaui level 99,6, sementara mata uang Yen melemah mendekati level JPY155 per Dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar ditutup melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun 0,4%, DAX Jerman melemah 0,2% ke level 25.402, dan CAC 40 Prancis turun 0,3% ke level 8.090. Sementara itu, indeks FTSE MIB Italia relatif stagnan di angka 51.555.
-Pasar Asia sebagian besar melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,01% ke level 63.484 dan Topix turun 0,52% ke level 4.037. Shanghai Composite turun 0,3% ke level 3.875, sedangkan Shenzhen Component naik 0,3%. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,0% ke level 24.667, KOSPI Korea Selatan turun 0,85% ke 6.627, Sensex India melemah sekitar 1% ke 74.004, dan FKLCI Malaysia turun 1,11% ke 1.679.
KOMODITAS: Pergerakan komoditas didominasi oleh kenaikan di sektor energi. Harga minyak Brent naik 2,51% menjadi US$108,34 per barel, sementara WTI menguat 3,96% menjadi sekitar US$105,5 per barel, didorong oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Harga batu bara bertahan di atas US$146 per ton, didukung oleh potensi beralihnya pembangkit listrik ke batu bara akibat kenaikan harga minyak dan gas. Sebaliknya, harga emas turun 0,12% menjadi sekitar US$4.294 per ons di tengah menguatnya dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury). Harga tembaga naik 0,98% menjadi sekitar US$6,3 per pon, sementara timah turun 2,78% menjadi US$51.879 per ton dan nikel terkoreksi 3,04% menjadi sekitar US$15.940 per ton. Harga CPO naik 0,70% ke atas MYR4.850 per ton, didukung oleh pelemahan mata uang ringgit dan kenaikan harga minyak.
AGENDA HARI INI:
-Jepang (JP): Neraca Perdagangan bulan Agustus.
-Inggris Raya (GB): Tingkat Inflasi bulan Agustus.
-Amerika Serikat (AS): Penjualan Ritel Bulanan bulan Agustus.
INDONESIA: Pergantian posisi terkait Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara telah menarik perhatian terhadap arah kebijakan restitusi pajak. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menegaskan bahwa restitusi akan terus diproses secara selektif, terukur, terencana, dan dengan arah yang jelas, khususnya bagi wajib pajak dengan rekam jejak kepatuhan yang baik, sementara wajib pajak lainnya akan tetap menjalani pemeriksaan sesuai prosedur standar. Arah kebijakan ke depan akan mengikuti arahan Suahasil, dengan mempertimbangkan kebutuhan pendanaan pembangunan dan pengelolaan defisit anggaran negara.
-Selain itu, pemerintah masih memiliki kuota penerbitan obligasi global sekitar US$2 miliar hingga akhir tahun 2026. Kementerian Keuangan menyatakan bahwa waktu dan denominasi penerbitan akan disesuaikan dengan kondisi pasar, dengan pilihan mencakup USD, EUR, RMB, atau JPY. Langkah ini merupakan bagian dari diversifikasi sumber pendanaan pemerintah setelah sebelumnya menerbitkan Panda Bond senilai CNY7 miliar, atau sekitar US$1,03 miliar.
-IHSG ditutup turun 1,13% di level 6.461,15 pada perdagangan hari Selasa (15/09/26), bergerak dalam rentang 6.461,01 – 6.549,60. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp354,16 miliar di Pasar Reguler. Aliran masuk dana asing terbesar terjadi pada saham ANTM, BUMI, TLKM, BRMS, dan AMMN, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada BMRI, BBRI, BBNI, CPIN, dan ASII. Rupiah melemah mendekati level Rp17.700 per Dolar AS, melanjutkan pelemahan selama empat sesi berturut-turut, sejalan dengan menguatnya Indeks Dolar AS menjelang keputusan kebijakan The Fed.
-Secara teknikal, IHSG kembali terkoreksi dan ditutup di bawah EMA10 (6.559) serta EMA20 (6.524), namun masih bertahan di atas EMA50 (6.430) dan sedikit di atas level Fibonacci retracement 38,20% di 6.448. Indikator RSI (14) turun ke level 47,91, kembali ke bawah level 50 dan mengindikasikan melemahnya momentum bullish, sehingga risiko koreksi lanjutan masih terbuka. Jika IHSG gagal bertahan di atas kisaran 6.448–6.430, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju level 6.377, kemudian 6.288 yang merupakan area Fibonacci retracement 61,80%. Sebaliknya, jika terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus EMA20 di 6.524 dan EMA10 di 6.559 sebelum menguji area 6.700–6.707 sebagai resistance utama.
“Kami menyarankan investor untuk bersikap wait and see sembari memantau area 6.448–6.430 sebagai support penting. Investor yang telah mencetak keuntungan dapat menerapkan trailing stop atau melakukan aksi ambil untung (profit-taking) secara bertahap jika IHSG menembus ke bawah EMA50, sementara akumulasi pembelian sebaiknya dilakukan secara selektif setelah muncul konfirmasi rebound di atas EMA20 dan EMA10,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (16/9).




