ANALIS MARKET (21/8/2026): IHSG Masih dalam Momentum Bullish
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Kamis (20/8/26), setelah reli obligasi pemerintah AS—yang dipicu oleh langkah Departemen Keuangan meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang—berbalik arah dan imbal hasil (yield) kembali naik.
Indeks S&P 500 turun 0,87% ke level 7.641,16, Nasdaq Composite melemah 1,00% ke 26.067,17, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,32% ke 52.759,21.
Sentimen pasar juga terbebani oleh kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan kecemasan fiskal yang meningkat setelah utang pemerintah AS melampaui US$40 triliun.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif karena kenaikan kembali imbal hasil obligasi Treasury meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham, sementara laporan kinerja Walmart yang mengecewakan menambah kekhawatiran mengenai daya beli konsumen AS. Risalah pertemuan The Fed bulan Juli juga menunjukkan bahwa banyak pejabat masih melihat adanya risiko kenaikan inflasi dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menurun. Selanjutnya, investor akan mencermati data ekonomi dan perkembangan inflasi untuk mengukur arah kebijakan The Fed pada bulan September.
GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran kembali menjadi sorotan setelah Presiden Donald Trump mengancam akan memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran, sementara kebuntuan terkait Selat Hormuz tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan menjadi katalis utama kenaikan harga minyak, sekaligus memperbesar kekhawatiran inflasi global.
REGULASI & KEBIJAKAN: Departemen Keuangan AS meningkatkan nilai pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang menjadi setidaknya US$4 miliar—dari sebelumnya US$2 miliar per operasi—guna membantu meningkatkan likuiditas dan menurunkan biaya pinjaman jangka panjang. Namun, dampaknya hanya bersifat sementara karena imbal hasil kembali naik. Di sektor moneter, risalah rapat The Fed menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada bulan Juli, meskipun tiga pejabat lebih memilih kenaikan sebesar 25 basis poin (bps).
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,70%, sementara imbal hasil tenor 30 tahun meningkat menjadi 5,25% dan imbal hasil tenor 2 tahun naik 3 bps menjadi 4,20%. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun turun ke kisaran 2,83% setelah sebelumnya mencapai 2,95%, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun stabil di angka 1,68%. Di pasar valuta asing, indeks DXY berada di kisaran 98,8, Euro menguat ke level US$1,168, dan Yen bergerak di sekitar JPY158 per Dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Bursa saham Eropa sebagian besar melemah. Indeks FTSE 100 Inggris mencatat kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut, didorong oleh saham sektor pertambangan dan energi. Indeks DAX Jerman turun sekitar 0,4% menjadi 25.983, CAC 40 Prancis melemah 0,6% menjadi 8.453, FTSE MIB Italia relatif stagnan dengan kenaikan 0,01% menjadi 52.666, sementara STOXX Europe 600 turun 0,13% menjadi 650,34.
-Pasar saham Asia sebagian besar menguat. Nikkei 225 Jepang naik 1,36% menjadi 66.217, Shanghai Composite naik 0,24% menjadi 3.903,7, Shenzhen Component naik 0,59% menjadi 13.972,8, dan Hang Seng Hong Kong naik 0,8% menjadi 25.698. Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 5,89% ke level 6.853, sementara indeks Sensex India naik sekitar 0,8%, FKLCI Malaysia menguat 0,31%, dan STI Singapura turun 0,39%.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas didominasi oleh kenaikan pada sektor energi dan aset safe-haven. Harga minyak Brent naik 1,82% menjadi US$93,28 per barel dan WTI menguat 2,28% menjadi sekitar US$86,3 per barel akibat ketegangan antara AS dan Iran. Harga emas naik 0,15% menjadi sekitar US$4.524 per ons, sementara harga tembaga relatif stabil di US$6,48 per pon dan batu bara termal bertahan di kisaran US$130 per ton. Harga minyak kelapa sawit naik 1,39% menjadi 4.961 ringgit per ton dan timah menguat 1,33% menjadi US$55.550 per ton, sedangkan nikel turun 1,08% menjadi sekitar US$16.945 per ton akibat ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.
AGENDA HARI INI:
-Jepang (JP): Tingkat Inflasi (YoY) bulan Juli.
-Inggris Raya (GB): Penjualan Ritel (MoM) bulan Juli, serta data awal (flash) S&P Global Manufacturing PMI dan S&P Global Services PMI bulan Agustus.
-Jerman (DE): Data awal (flash) S&P Global Manufacturing PMI bulan Agustus.
INDONESIA: Target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mendekati 6% pada tahun 2027 menghadapi tantangan berupa ruang fiskal yang semakin terbatas dan penurunan belanja produktif. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, belanja modal dipangkas hampir 20% menjadi Rp295,2 triliun dari perkiraan tahun 2026 sebesar Rp367,4 triliun, sementara belanja pegawai naik menjadi Rp625,2 triliun dan pembayaran bunga utang meningkat menjadi Rp650,3 triliun. Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai kondisi ini menciptakan tekanan pada rancangan anggaran karena pemerintah menargetkan pertumbuhan yang lebih tinggi, namun belanja yang secara langsung meningkatkan kapasitas ekonomi justru menurun. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2027 hanya berada di kisaran 5,22%, yang berarti pemerintah perlu menjaga belanja dengan daya ungkit tinggi seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan peningkatan keterampilan.
-Selain itu, pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI telah menyelesaikan Pembahasan Tingkat I mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2025 (RUU P2 APBN), di mana seluruh fraksi sepakat untuk melanjutkan ke Pembahasan Tingkat II atau pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna DPR RI. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai RUU P2 APBN 2025 penting untuk memperkuat tata kelola dan landasan pengelolaan keuangan negara, sekaligus menjadi bahan evaluasi melalui berbagai pandangan dan rekomendasi dari fraksi-fraksi serta Panitia Kerja.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,68% di level 6.501,59 pada hari Kamis (20/8), bergerak dalam rentang 6.444,40 – 6.514,68. Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp733,69 miliar di Pasar Reguler dan Rp680,47 miliar di seluruh pasar. Arus masuk modal asing terbesar tercatat pada saham AMMN, BBRI, ANTM, BRMS, dan PSAB, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada saham DSSA, BMRI, EMAS, BBNI, dan TPIA. Di pasar valuta asing, Rupiah menguat 0,14% ke level Rp17.775 per Dolar AS, melanjutkan tren penguatan seiring indeks Dolar AS yang bergerak di dekat level terendah dalam tiga bulan setelah pemerintah AS memperluas program pembelian kembali obligasi guna menurunkan biaya pinjaman jangka panjang.
-Secara teknikal, IHSG masih menunjukkan momentum bullish setelah bertahan di atas EMA10 (6.382,13), EMA20 (6.313,92), dan EMA50 (6.294,78). Posisi indeks yang berada di atas seluruh moving average tersebut mengindikasikan bahwa tren jangka pendek hingga menengah tetap positif dan tekanan beli masih mendominasi. Indikator RSI (14) berada di level 62,47; masih dalam zona bullish namun belum memasuki area overbought, sehingga masih ada ruang untuk kenaikan lebih lanjut, meskipun investor perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung (profit-taking) setelah kenaikan yang cukup signifikan. Jika IHSG berhasil menembus dan bertahan di atas level resistansi 6.515, potensi kenaikan dapat berlanjut menuju level 6.598 dan 6.723. Sebaliknya, jika terjadi koreksi, area 6.382–6.377 menjadi level support terdekat yang perlu dipertahankan, diikuti oleh area 6.314–6.295 yang merupakan posisi EMA20 dan EMA50. Selama IHSG tetap berada di atas area 6.295, struktur bullish relatif masih terjaga.
“Kami menyarankan investor untuk mempertahankan posisi secara selektif dengan menerapkan trailing stop, sementara akumulasi pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap saat terjadi koreksi, selama indeks masih bertahan di atas level support tersebut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (21/8).




