See More

20 Agustus 2026, 00:46

20 Agustus 2026, 00:27

19 Agustus 2026, 20:10

19 Agustus 2026, 18:12

19 Agustus 2026, 17:04

19 Agustus 2026, 16:52
Bapanas|bantuan beras|Gempa NTT|alokasi bansos|Perum Bulog
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id - Untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyalurkan bantuan sebanyak, 6.801,99 ton beras melalui Perum Bulog.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, mengatakan bahwa ketersediaan logistik dan anggaran untuk penanganan bencana telah dipersiapkan secara matang di dalam APBN 2026.
Karena itu, apabila terjadi bencana di suatu daerah maka pemerintah dapat langsung bergerak cepat menyalurkan cadangan pangan melalui Bulog.
“Jadi memang anggaran bencana itu, anggaran bantuan pangan, anggaran bencana alam, anggaran SPHP, anggaran gerakan pangan murah itu sudah dianggarkan. Jadi ketika ada bencana kita tinggal menyalurkan melalui Bulog,” kata Sarwo ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (19/8).
Dia mengatakan, ada lima kabupaten di NTT yang menjadi sasaran utama penerima bantuan, seperti Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.
Kelima daerah ini memang tercatat sebagai daerah yang mengalami dampak bencana terparah.
Disampaikan Sarwo, khusus untuk alokasi penanganan dampak bencana alam, total volume beras yang diusulkan mencapai 990,33 ton.
Selain paket darurat bencana, pemerintah turut menyalurkan alokasi bantuan pangan reguler atau bantuan sosial beras bagi masyarakat di kelima kabupaten tersebut.
Total volume bantuan pangan reguler ini mencapai 5.811,66 ton yang diproyeksikan untuk penyerapan selama kurun waktu tiga bulan, meliputi periode Juli, Agustus, dan September.
“Jadi jumlah bantuan pangan reguler kan sebelum ada bencana alam ini, kita bantu untuk tiga bulan. Sepuluh kilogram dikali tiga bulan, ini jumlahnya 5.811,66 ton, nanti sekalian disalurkan,” beber dia.
Sarwo menghitung, apabila dikonversikan menggunakan acuan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium di wilayah Indonesia Timur sebesar Rp 14.000 per kilogram, nilai total komoditas bantuan tersebut menyentuh angka sekitar Rp 95,23 miliar.
“Jadi kalau dengan yang sekarang, sekarang kan itu tahap pertama mengusulkan. Sekarang ada tahap kedua lagi. Ini belum ada minyak goreng, hanya beras,” imbuhnya.
Kembali dijelaskan Sarwo, dapat dipastikan bahwa proses distribusi bantuan beras tersebut telah mulai berjalan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan di lokasi terdampak.
Sementara, untuk menjamin ketepatan sasaran, Bapanas bahkan menurunkan jajaran pejabat eselon tinggi untuk mengawal langsung ke lapangan.
“Sudah mulai disalurkan. Sudah sampai di titik karena kita tugaskan satu deputi kemudian beberapa direktur ke sana untuk mengawal, termasuk dari Satgas Pangan untuk mengawal bantuan itu sampai ke titik,” ucapnya.