Riset: Lebih Dari 15 Ribu Serangan Seluler Menyasar Pengguna Indonesia di Q1 2026
Oleh: Corri

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id - Menurut studi terbaru Kaspersky, penggunaan teknologi digital dan kesadaran akan kejahatan siber di kawasan Asia Pasifik (APAC) merupakan yang tertinggi dibandingkan wilayah lain di dunia.
Perusahaan keamanan siber dan privasi digital global ini menyoroti perlunya perlindungan yang terintegrasi (embedded protection) mengingat penggunaan teknologi digital di kawasan ini melampaui rata-rata global. Masyarakat Asia sangat aktif secara daring namun juga menyadari berbagai bahaya di dunia digital.
Hal ini terungkap dalam survei B2C Pulse terbaru yang dilakukan oleh Kaspersky Market Intelligence.
Konsumen di Asia Pasifik melampaui konsumen global dalam hal belanja daring (80% berbanding 71%), keuangan digital (72% berbanding 70%), hiburan digital (70% berbanding 62%), dan komunikasi digital (68% berbanding 61%).
Konsumen di kawasan ini juga lebih menaruh perhatian pada risiko penggunaan teknologi digital untuk kejahatan siber dibandingkan tingkat global (35% berbanding 32%).
Tingkat kesadaran tertinggi tercatat di Thailand (39%), diikuti oleh Malaysia (38%), Indonesia (35%), China (34%), India (32%), dan Vietnam (31%).
"Dengan 77% penduduk Asia Pasifik yang aktif secara daring dan dompet digital yang mencakup sekitar 70% dari pembayaran daring, keamanan siber bukan lagi sekadar pilihan. Kawasan ini diperkirakan akan memiliki 2,11 miliar pengguna layanan seluler pada tahun 2030; oleh karena itu, perlindungan data pribadi dan transaksi keuangan menjadi hal krusial untuk menjaga kepercayaan terhadap ekonomi digital kawasan yang berkembang pesat ini," ujar Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel untuk wilayah Asia Pasifik di Kaspersky, dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8).
Lanskap ancaman seluler di Asia Pasifik dan pentingnya keamanan terintegrasi pada ponsel
Seiring dengan pesatnya transformasi Asia Pasifik menjadi ekonomi digital yang mengutamakan perangkat seluler (mobile-first), Kaspersky melaporkan telah memblokir hampir 30.000 serangan seluler yang menargetkan konsumen di kawasan ini selama tiga bulan pertama tahun 2026.
India dan Indonesia mencatat jumlah serangan seluler tertinggi, masing-masing dengan 18.187 dan 15.163 insiden.
Namun, jenis ancaman ini juga meningkat tajam di negara-negara Asia Pasifik lainnya.
Secara khusus, peningkatan tajam dalam perbandingan tahun-ke-tahun (year-on-year)—antara Kuartal I 2026 dan Kuartal I 2025—tercatat oleh telemetri Kaspersky di Taiwan (+373%), Sri Lanka (132%), Thailand (+127%), Bangladesh (108%), China (69%), dan Filipina (28%).
“Lonjakan serangan seluler Asia Pasifik mencerminkan betapa cepatnya perubahan kebiasaan digital di kawasan ini. Meskipun hampir 30.000 ancaman seluler yang terdeteksi hanya dalam kuartal pertama mungkin tampak kecil dibandingkan dengan besarnya populasi digital Asia Pasifik, angka tersebut bisa jadi hanyalah puncak gunung es. India dan Indonesia mencatat volume tertinggi, namun peningkatan tajam tahun-ke-tahun yang terlihat di Taiwan, Sri Lanka, Thailand, dan Bangladesh menunjukkan bahwa ancaman seluler berkembang pesat melampaui negara-negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan ini. Berbeda dengan PC, ponsel sering kali tidak dilindungi dengan tingkat keamanan yang setara, padahal perangkat ini semakin menjadi pintu gerbang bagi kehidupan finansial, sosial, dan profesional kita. Seiring penjahat siber mengikuti pergeseran ini, tantangannya adalah memastikan bahwa keamanan seluler tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan tingkat adopsinya,” tambah Choon.
Seiring meluasnya ancaman seluler, aspek keamanan juga perlu hadir lebih dekat dengan tempat konsumen melakukan aktivitas digital mereka.
Salah satu pendekatan yang efektif adalah dengan menanamkan perlindungan langsung ke dalam aplikasi seluler, alih-alih hanya mengandalkan pengguna untuk menginstal dan mengelola solusi keamanan terpisah pada perangkat mereka.
-Kaspersky Mobile Security SDK memungkinkan organisasi—seperti bank, peritel, layanan pemerintah, dan pengembang aplikasi—untuk mengintegrasikan keamanan berlapis langsung ke dalam aplikasi seluler mereka. SDK ini menyediakan berbagai kemampuan, termasuk deteksi anti-phishing dan malware, konektivitas aman, pemeriksaan reputasi perangkat, perlindungan data, serta deteksi alat akses jarak jauh (remote access tools). SDK ini juga dapat menghasilkan peringatan ketika ancaman seperti Trojan finansial, pencuri kata sandi, dan malware phishing terdeteksi pada perangkat.
Pendekatan keamanan seluler yang terintegrasi (embedded) ini sangat relevan mengingat ponsel pintar semakin menjadi pintu gerbang utama untuk layanan perbankan, pembayaran, belanja, dan layanan digital sensitif lainnya. Dengan mengintegrasikan keamanan ke dalam aplikasi itu sendiri, organisasi dapat membantu memberikan perlindungan tanpa membebankan tanggung jawab sepenuhnya kepada konsumen untuk mengidentifikasi dan merespons ancaman seluler yang kian canggih.
-Kaspersky juga menawarkan Kaspersky Who Calls SDK, yang memungkinkan organisasi untuk mengintegrasikan fitur identifikasi penelepon dan informasi reputasi ke dalam aplikasi seluler mereka, sehingga membantu pengguna mengenali panggilan dan nomor yang mencurigakan atau tidak diinginkan.
-Untuk memberikan perlindungan tambahan terhadap situs web berbahaya dan phishing, Kaspersky juga menghadirkan Safe Web. Kaspersky Safe Web adalah solusi keamanan berbasis jaringan yang tidak memerlukan instalasi agen (agentless); solusi ini memungkinkan ISP broadband dan seluler untuk memindai lalu lintas web pengguna melalui teknologi penyaringan DNS, sehingga membantu pengguna mengenali tautan yang berpotensi berbahaya sebelum mereka mengaksesnya. Layanan ini dapat membantu melindungi pengguna saat melakukan penjelajahan web, perbankan online, belanja, serta aktivitas digital sehari-hari lainnya.





