Dunia Makin Terbelah, DBS Ungkap Peluang Emas Indonesia! Investor Diminta Ubah Strategi Sebelum Terlambat
Oleh: Harry

Foto : dok. DBS Indonesia
Pasardana.id – Bank DBS Indonesia mengingatkan investor untuk mengubah strategi investasi di tengah meningkatnya rivalitas Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta fragmentasi ekonomi global.
Pesan itu disampaikan dalam DBS Insights Forum 2026 bertajuk A New Lens on a Multipolar World yang menghadirkan sejumlah pakar ekonomi, geopolitik, dan investasi.
Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal menilai, Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisinya sebagai middle power berkat stabilitas geopolitik dan statusnya sebagai negara G20.
Namun, menurutnya, keunggulan tersebut harus didukung kepastian kebijakan dan reformasi ekonomi untuk menjaga kepercayaan investor global.
“Kita bukan lagi negara dunia ketiga, kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas. Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan. Namun, modal geopolitik saja tidak cukup, kita tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia,” ujar Dino.
Di sisi investasi, Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo mengatakan, keputusan investasi kini harus berorientasi pada tren jangka panjang, bukan sekadar sentimen pasar.
Menurutnya, tiga kawasan yang layak menjadi perhatian adalah AS yang unggul di sektor kecerdasan buatan (AI), Tiongkok yang mempercepat adopsi AI di berbagai industri, serta Asia, termasuk Indonesia, yang diuntungkan oleh pergeseran rantai pasok global.
Indonesia juga dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang kuat berkat konsumsi domestik yang solid, kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, dan program hilirisasi.
Posisi Indonesia sebagai pemasok nikel dan mineral strategis diperkirakan akan semakin diuntungkan oleh meningkatnya investasi global di sektor AI.
"Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. Saat ini kami melihat terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia. Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI). Tiongkok berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas, sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional. Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional dan panduan investasi agar nasabah dapat mengambil keputusan secara lebih percaya diri," jelas Djoko, seperti dilansir dalam keterangan tertulis, Senin (20/7).
Di kesempatan yang sama, Executive Director Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya menegaskan daya saing Indonesia tidak hanya ditentukan oleh diplomasi, tetapi juga oleh kepastian regulasi, birokrasi yang efisien, iklim investasi yang kondusif, serta pembangunan infrastruktur.
“Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya. Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, iklim investasi kondusif, serta pembangunan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki daya saing yang semakin tinggi di tengah dinamika geopolitik global,” ujar Yunarto.
Sementara itu, Head of Market Intelligence Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry menilai, prospek ekonomi Indonesia tetap positif meski ketidakpastian global masih tinggi.
Menurutnya, fundamental ekonomi yang kuat, surplus perdagangan dengan Tiongkok, serta peluang dari industri AI menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan dan menarik investasi.
“Saat ini Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sementara Asia terus mencatat momentum pertumbuhan yang positif. Di sisi lain, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah industri nasional,” ujar Boy.
Melalui DBS Insights Forum 2026, Bank DBS Indonesia menegaskan komitmennya memberikan panduan investasi yang relevan di tengah perubahan lanskap ekonomi global.
Komitmen tersebut diperkuat dengan raihan penghargaan Best Private Bank Indonesia 2026 dari FinanceAsia dan Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance.




