ANALIS MARKET (02/7/2026): Rebound!
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Rabu (01/07/26) setelah mencatat reli yang kuat sepanjang kuartal kedua.
Indeks S&P 500 turun 0,2% menjadi 7.483,23, Nasdaq Composite melemah 0,7% menjadi 26.040,03, sementara Dow Jones Industrial Average ditutup relatif datar di 52.305,24.
Pelemahan tersebut dipicu oleh aksi ambil untung pada saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, setelah mencatat kenaikan signifikan pada kuartal sebelumnya.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati menjelang rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Juni. Data ADP menunjukkan penambahan lapangan kerja sektor swasta hanya 98 ribu, lebih rendah dari ekspektasi 118 ribu, sementara Pemutusan Hubungan Kerja Challenger turun 53% menjadi 45.849, level terendah sejak Desember 2025. Di sisi lain, indeks PMI Manufaktur ISM turun menjadi 53,3 dari 54,0, tetapi komponen harga (Harga yang Dibayarkan) turun tajam menjadi 73 dari 82,1, menunjukkan bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
GEOPOLITIK: Perhatian investor tetap tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa proses denuklirisasi Iran berjalan dengan baik, sementara kedua negara dijadwalkan untuk melanjutkan diskusi di Qatar. Meskipun ketegangan mulai mereda dan aktivitas pengiriman di Selat Hormuz telah kembali normal, perbedaan pandangan mengenai pengelolaan jalur strategis ini tetap menjadi risiko bagi pasar energi global.
REGULASI & KEBIJAKAN: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan kembali pendekatan yang bergantung pada data dan tidak memberikan panduan mengenai arah suku bunga. Warsh mengakui bahwa risiko inflasi mulai menurun, tetapi menekankan bahwa FOMC akan terus memantau perkembangan data ekonomi menjelang pertemuan akhir Juli. Para pelaku pasar kini menunggu rilis NFP untuk menentukan ekspektasi kebijakan moneter selanjutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) menguat menjadi 101,3 setelah komentar Warsh, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun turun menjadi 4,47% dan imbal hasil 2 tahun turun menjadi 4,18% karena ekspektasi inflasi mereda. Yen Jepang melemah hingga menembus ¥162,5 per dolar AS, level terendah dalam empat dekade, meningkatkan spekulasi tentang potensi intervensi oleh pemerintah Jepang. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun naik di atas 2,7% karena meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral Jepang.
PASAR EROPA & ASIA: Sebagian besar pasar saham Eropa bergerak beragam. STOXX Europe 600 turun 0,38%, CAC 40 Prancis melemah 0,8%, FTSE MIB Italia turun 0,2%, dan FTSE 100 Inggris sedikit terkoreksi. Sebaliknya, indeks DAX Jerman naik sekitar 0,2% didukung oleh kenaikan saham industri dan teknologi.
-Di Asia, pergerakan juga bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,59% dan TOPIX menguat 0,42% menyusul reli teknologi global. Shanghai Composite naik 0,44%, sementara Shenzhen Component turun 0,53% di tengah kekhawatiran atas pemulihan ekonomi China yang tidak merata. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,6% karena aksi ambil untung meskipun ada dukungan kebijakan berkelanjutan dari Beijing.
KOMODITAS: Harga minyak kembali melemah seiring optimisme atas kelanjutan pembicaraan perdamaian AS-Iran dan pemulihan aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz. Minyak mentah Brent turun menjadi sekitar USD72/barel, sementara WTI melemah di bawah USD69/barel, keduanya merupakan level terendah sejak akhir Februari.
-Harga nikel turun menjadi sekitar USD16.300/ton karena rencana Indonesia untuk meningkatkan produksi pertambangan. Harga tembaga turun di bawah USD6,1/pon menjelang laporan Departemen Perdagangan AS mengenai potensi tarif impor tembaga. Batubara termal turun di bawah USD130/ton karena risiko geopolitik di Timur Tengah mereda, sementara penurunan harga energi juga mendukung ekspektasi perlambatan tekanan inflasi global.
INDONESIA: Pemerintah telah menaikkan target penyaluran KUR Perumahan dari Rp35,2 triliun menjadi Rp50 triliun setelah realisasi hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp20,3 triliun (57,7% dari target awal). Langkah ini diharapkan dapat mempercepat Program 3 Juta Rumah, meningkatkan penyaluran kredit ke sektor properti, pengembang, kontraktor, dan bahan bangunan. Selain itu, realisasi pembiayaan FLPP telah mencapai 93.339 unit senilai Rp11,6 triliun, sementara kuota BSPS ditingkatkan menjadi 400.000 unit untuk mempercepat penyediaan perumahan nasional.
-Dari sisi makro, para ekonom menilai bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026 hanya bersifat sementara karena lonjakan impor minyak dan gas serta barang modal. Seiring dengan normalisasi harga minyak, Indonesia diperkirakan akan kembali mencatatkan surplus perdagangan, meskipun dengan tren yang menyempit. Ke depan, impor diperkirakan akan tetap kuat didukung oleh kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah, sementara ekspor masih menghadapi tantangan dari melambatnya permintaan global dan ketidakpastian geopolitik, yang berarti Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan Suku Bunga BI untuk menjaga stabilitas ekonomi.
-JCI ditutup lebih tinggi sebesar 0,92% ke level 5.695,12. Sepanjang perdagangan, JCI bergerak dalam kisaran 5.607,45 - 5.737,74. Investor asing kembali mencatat penjualan bersih sebesar Rp548,44 miliar, sehingga penjualan bersih kumulatif tahun berjalan (YTD) menjadi Rp88,57 triliun. Tekanan penjualan asing terutama terjadi di BBRI, BMRI, TPIA, BBNI, dan MAPI, sementara arus masuk dana asing tercatat di BBCA, BRPT, DSSA, CUAN, dan RAJA. Rupiah melemah mendekati Rp17.940 per dolar AS, memperpanjang penurunan tiga hari sejalan dengan penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed. Sentimen domestik juga tertekan setelah Indonesia mencatat defisit perdagangan Mei untuk pertama kalinya sejak April 2020 karena penurunan ekspor dan pertumbuhan impor yang kuat, dikombinasikan dengan aktivitas manufaktur Juni yang menyusut paling dalam dalam setahun, mencerminkan melemahnya daya beli dan tekanan biaya yang tinggi.
“Dari perspektif teknis, jika tidak kembali di atas level 5.737, JCI tetap rentan untuk menguji support di 5.607, diikuti oleh support psikologis di 5.594 – 5.523. Sementara itu, jika momentum rebound berlanjut, JCI memiliki peluang untuk menguji resistance di 5.811, diikuti oleh 5.830, dan kemudian area 5.876 – 5.900. Penembusan di atas area tersebut yang didukung oleh peningkatan volume transaksi akan menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda dan membuka peluang untuk perubahan tren menuju fase konsolidasi atau pemulihan yang lebih kuat,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (02/7).





