ANALIS MARKET (22/6/2026): IHSG Cenderung Tertekan
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian FAC Sekuritas menyebutkan, Pada perdagangan akhir pekan lalu (19/6), IHSG ditutup menguat +4,80 poin (+0,08%) ke level 6.177,14.
Penguatan tipis ini didorong oleh dua kabar baik dari dalam negeri: (1), posisi Indonesia aman dan tetap diakui sebagai pasar berkembang (emerging market) oleh lembaga internasional MSCI; (2), keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75% dinilai tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Selain itu, pasar juga mendapat sentimen positif dari global setelah meredanya konflik antara AS dan Iran di Selat Hormuz, yang membuat harga minyak dunia ikut turun.
Sayangnya, penguatan IHSG ini agak tertahan karena mata uang Rupiah masih melemah ke kisaran Rp17.804 per dolar AS, akibat bank sentral AS (The Fed) yang diprediksi akan tetap mempertahankan kebijakan ekonomi yang ketat.
Sementara itu, Wall Street akhir pekan lalu libur memperingati Juneteenth National Independence Day.
Dari bursa Eropa mayoritas melemah, terlihat dari CAC 40 (-0,55%), FTSE 100 (- 0,35%), & DAX (-0,16%).
Pelemahan tersebut diawali oleh ketidakpastian baru seiring penundaan perundingan damai AS-Iran terkait Selat Hormuz yang sempat goyah.
Tekanan semakin diperberat oleh ambruknya saham sektor pertambangan yang terseret penguatan indeks dolar AS, serta ketidakpastian politik domestik di Inggris.
Disaat yang sama, investor di benua biru memilih bersikap defensif guna mengantisipasi bayang-bayang kebijakan suku bunga tinggi (hawkish) dari bank-bank sentral global yang diperkirakan bertahan hingga akhir tahun.
“Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, IHSG hari ini diperkirakan bergerak cenderung tertekan seiring masih tingginya tekanan Rupiah akibat arus keluar dana asing yang terus terjadi,” sebut analis FAC Sekuritas dalam riset Senin (22/6).





