Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (09/7/2026): Peluang Rebound Teknikal Masih Terbuka

Oleh: Ria

09 Juli 2026, 08:51
ANALIS MARKET (09/7/2026): Peluang Rebound Teknikal Masih Terbuka

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (08/07/26) setelah berhasil memangkas sebagian besar kerugiannya menjelang penutupan.

Indeks S&P 500 turun 0,3% menjadi 7.482,71, Dow Jones Industrial Average melemah 1,1% menjadi 52.348,39, sementara Nasdaq Composite justru menguat 0,2% menjadi 25.870,65 berkat rebound pada saham teknologi dan semikonduktor.

Pergerakan pasar awalnya tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi sentimen membaik setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak mengharapkan perang dengan Iran akan pecah lagi, ditambah dengan dukungan dari notulen rapat Fed yang menunjukkan bahwa pandangan kebijakan moneter tetap terbagi.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar didominasi oleh munculnya kembali kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 target militer Iran sebagai tanggapan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Kondisi ini sempat memicu aksi penghindaran risiko di pasar global dan menaikkan harga minyak. Namun, tekanan mulai mereda setelah Presiden Trump menyampaikan bahwa konflik tersebut kemungkinan tidak akan meningkat lebih lanjut. Di sisi lain, risalah rapat FOMC menunjukkan bahwa sebagian kecil pejabat Fed mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, sementara mayoritas masih melihat berbagai kemungkinan, mulai dari inflasi kembali mendekati target hingga tetap tinggi karena permintaan AI, konflik Timur Tengah, dan tarif perdagangan. Ketidakpastian ini membuat investor tetap berhati-hati sambil menunggu data inflasi dan perkembangan geopolitik selanjutnya.

GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah AS menyerang fasilitas militer Iran menyusul serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Iran menanggapi dengan menargetkan sejumlah fasilitas militer AS di wilayah Teluk dan mengancam akan menutup Selat Hormuz jika menghadapi serangan lagi. Meskipun demikian, pernyataan Presiden Trump bahwa ia tidak mengharapkan perang berlanjut berhasil meredakan beberapa kekhawatiran pasar menjelang penutupan perdagangan.

REGULASI & KEBIJAKAN: Risalah rapat FOMC Juni menunjukkan debat yang cukup seimbang mengenai arah kebijakan moneter. Sebagian kecil pejabat mendukung kenaikan suku bunga segera, sementara mayoritas masih menilai bahwa kebijakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, konflik Timur Tengah, serta dampak tarif perdagangan. Ketua Fed Kevin Warsh juga menekankan pendekatan baru dengan mengurangi panduan ke depan dan lebih fokus pada pengendalian inflasi.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong investor untuk kembali mencari aset safe-haven, menyebabkan dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama. Ekspektasi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi juga menyebabkan pelaku pasar mulai meningkatkan proyeksi kemungkinan kenaikan suku bunga Fed tahun ini, meskipun pasar obligasi masih cenderung berhati-hati menjelang data ekonomi selanjutnya.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup jauh lebih rendah seiring dengan meningkatnya penghindaran risiko akibat konflik Timur Tengah. DAX Jerman turun 2,2%, CAC 40 Prancis melemah 2,2%, FTSE 100 Inggris terkoreksi lebih dari 1,5%, FTSE MIB Italia turun 1,2%, sementara STOXX Europe 600 melemah 1,61%. Pelemahan dipimpin oleh sektor pertambangan dan industri yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi.

-Pasar Asia bergerak beragam. Indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 3,0% dipimpin oleh saham teknologi, sementara STI Singapura naik 0,5%. Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 2,11%, TOPIX melemah 1,37%, Shanghai Composite turun 0,49%, Shenzhen Component melemah 1,87%, Sensex India turun 2,2%, dan KOSPI Korea Selatan anjlok 5,35% karena penjualan besar-besaran saham semikonduktor.

KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas cenderung beragam dengan bias penghindaran risiko. Minyak Brent sempat melonjak hingga US$80/barel, sementara WTI naik sekitar 7% menjadi US$75,6/barel, didorong oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan akibat meningkatnya konflik di Selat Hormuz. Harga emas turun menjadi sekitar US$4.030/ounce, level terendah sejak awal Juli, setelah penguatan dolar AS mengurangi daya tarik logam mulia tersebut. Batubara termal Australia turun di bawah US$130/ton karena permintaan yang lemah dari India. Tembaga melemah menjadi sekitar US$6/lb, tertekan oleh penguatan dolar AS dan kekhawatiran atas perlambatan manufaktur global. Minyak kelapa sawit mentah (CPO) Malaysia naik di atas MYR4.550/ton didukung oleh pelemahan ringgit dan peningkatan ekspor awal Juli. Sementara itu, nikel bertahan di sekitar US$16.400/ton, mendekati level terendah sejak Desember karena ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.

AGENDA HARI INI: Amerika Serikat (AS): Klaim Pengangguran Awal (4 Juli), Penjualan Rumah yang Ada Juni, serta pidato oleh Fed Williams. Tiongkok (CN): Inflasi Juni (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Juni. Jerman (DE): Neraca Perdagangan Mei dan Ekspor Mei. Zona Euro (EA): Laporan Rapat Kebijakan Moneter ECB (risalah rapat ECB). Meksiko (MX): Inflasi Juni (MoM & YoY).

INDONESIA: Pelemahan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia berlanjut pada Juni 2026 menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei dan 123,0 pada April, menunjukkan bahwa tekanan pada daya beli masyarakat mulai dirasakan lebih tajam. Penurunan ini tercermin dalam penurunan rasio tabungan rumah tangga terhadap pendapatan menjadi 17,0% dari 17,5%, sementara proporsi pendapatan untuk konsumsi meningkat menjadi 73,0%, menunjukkan bahwa masyarakat telah mulai mengurangi tabungan untuk mempertahankan konsumsi. Kondisi ini juga disertai dengan melemahnya kemampuan untuk membeli barang tahan lama serta meningkatnya tantangan di pasar tenaga kerja. Para pelaku pasar kini menunggu rilis data penjualan ritel sebagai indikator selanjutnya dari kekuatan konsumsi domestik, sementara Bank Indonesia diperkirakan akan tetap fokus pada pengamanan stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar di tengah semakin terbatasnya ruang untuk kenaikan suku bunga.

-Di tengah tantangan terhadap konsumsi domestik, pemerintah juga terus mendorong reformasi struktural melalui pembentukan Pusat Keuangan Internasional Indonesia (PFII) yang berpotensi menarik investasi global sekitar Rp300–500 triliun pada tahap awal. PFII akan dikembangkan sebagai pusat keuangan internasional dengan regulasi yang lebih kompetitif, termasuk fleksibilitas kepemilikan asing dan implementasi kerangka hukum umum standar internasional untuk menarik bank, lembaga keuangan, dan investor global. Kehadiran PFII diharapkan dapat meningkatkan daya saing sektor keuangan nasional, memperluas arus masuk investasi asing, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat jasa keuangan regional dalam jangka panjang.

-JCI ditutup lebih rendah sebesar 1,89% ke level 5.873,37 setelah bergerak dalam kisaran 5.872,02 – 5.984,47 sepanjang perdagangan. Pelemahan ini kembali disertai dengan aksi jual investor asing, dengan penjualan bersih sebesar Rp674,26 miliar di pasar reguler dan Rp689,33 miliar di semua pasar. Akibatnya, penjualan bersih asing kumulatif sepanjang tahun 2026 (YTD) meningkat menjadi Rp89,95 triliun. Tekanan penjualan asing terutama terjadi di MAPI, BBRI, BRMS, AMMN, dan CPIN, sementara akumulasi pembelian tercatat di BBCA, TLKM, BRPT, BMRI, dan GOTO. Di sisi lain, Rupiah kembali melemah menjadi sekitar Rp18.000 per dolar AS seiring dengan penguatan dolar AS dan meningkatnya permintaan aset safe-haven akibat memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Secara domestik, pelemahan juga dipicu oleh penurunan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) selama dua bulan berturut-turut ke level terendah sejak September tahun lalu, yang mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat akibat tingginya harga pangan dan biaya bahan bakar. Secara teknis, JCI kembali menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan penguatannya di atas area resistensi 5.950 – 5.990, sehingga membentuk titik tertinggi dan kembali bergerak di bawah EMA10 (5.887). Tren utama tetap bearish karena indeks tetap berada di bawah EMA20 (5.954) dan EMA50 (6.325) serta terus bergerak dalam saluran tren menurun. RSI (14) turun menjadi 44,14, menunjukkan bahwa momentum mulai melemah meskipun belum memasuki area oversold.

“Selama JCI masih bertahan di atas level support 5.873–5.850, peluang untuk rebound teknikal menuju 5.950, diikuti oleh 5.990–6.050 tetap terbuka. Namun, jika support 5.873 ditembus, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju 5.744–5.805 (area gap), dan bahkan menguji 5.695 (area gap) sebagai area support berikutnya,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (09/7).

Berita Terkini

See More