visa|Visa Value Added Services (VAS)|fraud|Visa Indonesia Client Forum 2026|ekonomi digital|ekosistem pembayaran digital

Ekonomi Digital RI Melesat, Tapi Risiko Fraud Kian Menggila! Visa Ungkap Fakta Mengejutkan

Oleh: Corri

02 Juni 2026, 19:42
Ekonomi Digital RI Melesat, Tapi Risiko Fraud Kian Menggila! Visa Ungkap Fakta Mengejutkan

Foto : istimewa

Pasardana.id - Visa (NYSE: V), pemimpin global dalam pembayaran digital, baru-baru ini mempertemukan para pemimpin dari berbagai industri, seperti perbankan, merchant, fintech, dan bagian ekosistem pembayaran lainnya dalam Visa Indonesia Client Forum 2026 di Bali.

Diskusi ini menyoroti perkembangan ekosistem pembayaran digital di Indonesia yang tumbuh pesat kini memasuki fase baru.

Di tengah pertumbuhan ini, ekspektasi terhadap layanan real-time dan risiko meningkat secara bersamaan. Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia terus menunjukkan akselerasi yang signifikan.

Hal ini tercermin dalam data Bank Indonesia yang mencatat nilai transaksi pembayaran digital mencapai Rp14,82 miliar transaksi atau tumbuh 37,69% (yoy) pada triwulan I-2026.

Pada skala ini, kemajuan tidak lagi hanya diukur dari volume transaksi.

Ekosistem pembayaran kini bergerak semakin cepat, saling terhubung, dan berlangsung secara real-time, sementara konsumen mengharapkan pengalaman transaksi yang mulus dan aman di berbagai kanal pembayaran.

Di tengah perkembangan tersebut, diskusi dalam forum tidak lagi hanya membahas pertumbuhan industri, tetapi juga tantangan dalam menghadapi sistem pembayaran yang semakin kompleks.

Saat ini, transaksi pembayaran di Indonesia berlangsung melalui berbagai jaringan, platform, dan kanal interaksi yang saling terhubung, bahkan dalam waktu yang bersamaan.

Di saat aktivitas perdagangan semakin otomatis dan berbasis data, pelaku usaha perlu mengelola transaksi di berbagai sistem sekaligus mengambil keputusan terkait risiko dan persetujuan transaksi secara real-time.

Bagi pelaku usaha yang beroperasi di tengah pesatnya ekonomi digital Indonesia, tantangan saat ini bukan lagi sekadar akses terhadap teknologi pembayaran.

Tantangan utamanya adalah memastikan infrastruktur yang dimiliki mampu mendukung kompleksitas transaksi di berbagai kanal pembayaran, platform, dan pengelolaan risiko secara konsisten serta dalam skala besar.

Dalam kondisi ini, kemampuan eksekusi menjadi pembeda utama.

“Seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, fokus kami adalah mendukung pertumbuhan tersebut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan memperkuat kepercayaan di seluruh ekosistem layanan keuangan dan pembayaran digital, sehingga pelaku usaha dapat berkembang dengan lebih percaya diri dan masyarakat dapat bertransaksi dengan aman. Ketika sistem pembayaran berjalan secara andal dalam skala besar, hal tersebut akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang lebih luas di Indonesia,” ujar Vira Widiyasari, Country Manager, Visa Indonesia, seperti dilansir dalam keterangan tertulis, Selasa (02/6).

Salah satu area yang paling terlihat dari meningkatnya kompleksitas ini adalah risiko fraud.

Meski keamanan sistem pembayaran terus diperkuat di tingkat jaringan, kejahatan finansial terus berkembang dengan berbagai modus baru, terutama di pasar yang didominasi transaksi berbasis ponsel, real-time, dan semakin terintegrasi dalam aktivitas digital sehari-hari.

Laporan Spring 2026 Biannual Threats Visa, yang disusun berdasarkan pemantauan jaringan global Visa, menunjukkan perubahan pola fraud yang terjadi secara global.

Pelaku kejahatan kini mulai beralih dari upaya membobol sistem teknologi ke praktik social engineering berbasis AI, dengan memanfaatkan manipulasi terhadap pengguna dibandingkan menyerang teknologi secara langsung.

Dalam periode Juli hingga Desember 2025, Visa mengidentifikasi hampir US$1 miliar aktivitas terkait scam, menjadikannya sebagai kategori fraud pembayaran konsumen terbesar pada periode tersebut.

Pada saat yang sama, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa langkah pengamanan yang diterapkan memberikan dampak yang terukur.

Fraud yang melibatkan token perangkat tercatat menurun 9,6% secara tahunan.

Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan di tingkat sistem terus mengalami penguatan, di tengah ekosistem pembayaran yang bergerak semakin cepat.

Peserta forum menyoroti bahwa dinamika ini turut mengubah ekspektasi pelaku usaha terhadap sistem pembayaran maupun mitra bisnis mereka.

Keandalan jaringan tetap menjadi fondasi utama, namun hal tersebut kini tidak lagi cukup.

Seiring dengan operasional yang kini berjalan di berbagai jaringan pembayaran dan kanal, perusahaan menghadapi tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.

Karena itu, pelaku usaha membutuhkan solusi yang lebih terintegrasi untuk mengelola kinerja pembayaran, pengalaman pelanggan, dan risiko secara bersamaan.

Dalam konteks ini, Visa Value Added Services (VAS) dirancang untuk mendukung kebutuhan bisnis yang melampaui sekadar pemrosesan transaksi.

VAS membantu bank dan merchant mengelola fraud, kinerja pembayaran, serta wawasan pelanggan secara lebih terintegrasi di sepanjang siklus pembayaran.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan di tengah ekosistem pembayaran Indonesia yang bergerak semakin cepat, saling terhubung, dan real-time.

Fitur manajemen risiko dan fraud berbasis real-time milik Visa membantu mengidentifikasi aktivitas mencurigakan saat transaksi berlangsung.

Teknologi ini juga membantu mengurangi penolakan transaksi yang tidak perlu terhadap pembayaran yang sah.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah ekosistem pembayaran Indonesia yang selalu aktif dan didominasi penggunaan pembayaran digital melalui ponsel.

Bahkan gangguan kecil dalam proses pembayaran dapat memengaruhi kepercayaan dan kebiasaan transaksi konsumen sehari-hari.

VAS juga membantu meningkatkan kinerja dan optimalisasi pembayaran dengan membantu perusahaan memahami titik terjadinya kegagalan atau perlambatan transaksi.

Melalui analisis pola otorisasi, performa issuer dan merchant, serta efisiensi routing, layanan ini membantu meningkatkan tingkat persetujuan transaksi.

Dengan demikian, lebih banyak transaksi yang sah dapat berhasil diproses pada percobaan pertama dengan pengalaman pembayaran yang lebih lancar bagi konsumen.

Selain itu, kemampuan analitik dan wawasan Visa memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap perilaku transaksi dan tren kinerja pembayaran.

Melalui laporan dan analisis yang disesuaikan, klien dapat memantau risiko maupun peluang yang muncul.

Wawasan tersebut juga membantu klien menyesuaikan desain pembayaran, kebijakan risiko, dan pengalaman pelanggan sesuai perubahan pola penggunaan.

Seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, pelaku industri yang mampu mengelola kompleksitas dengan baik akan berada pada posisi yang lebih kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Hal ini perlu didukung oleh fondasi yang kuat, kemampuan eksekusi yang efektif dalam skala besar, serta kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan ekosistem pembayaran yang terus berubah.

Berita Terkini

See More