Gelar RUPSLB, Geoprima Dapat Persetujuan Perubahan Usaha dan Private Placement
Oleh: Issa

foto: dok. Geoprima Solusi
Pasardana.id - Langkah strategis transformasi bisnis PT Geoprima Solusi Tbk (IDX: GPSO) semakin terang benderang.
Perusahaan terafiliasi Tjokro Group ini mulai mengonsolidasikan bisnisnya ke PT PIMSF Pulogadung.
Salah satu upaya Geoprima adalah dengan mengubah kegiatan usaha menjadi ke industri komponen mekanikal dan real estat non hunian.
Untuk yang satu ini, perseroan akan memiliki Kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru yang diadopsi adalah KBLI 46591 (Perdagangan Besar Mesin Kantor dan Industri Suku Cadang dan Perlengkapannya) dan KBLI 68129 (Aktivitas Real Estate Non Hunian Lainnya Milik Sendiri atau Sewa).
Lebih lanjut, Geoprima bersiap membeli aset tetap milik PT Jakarta Indah Casting (JIC), sebuah entitas yang terafiliasi dengan Perseroan.
Di sini, pwrseroan membeli aset berupa tanah seluas 15.400 m², bangunan pabrik, serta mesin peralatan pendukung senilai Rp78,5 miliar yang terletak di Kawasan EJIP (East Jakarta Industrial Park), Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Untuk merealisasikan aksi itu, Geoprima pun menyiapkan Penambahan Modal Tanpa Melaksanakan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.
Perseroan akan menerbitkan saham baru dari dalam simpanan (portepel) sebanyak-banyaknya 10,00% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, atau setara dengan 66.674.000 lembar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham.
Dengan diterbitkannya saham baru ini, pemegang saham publik (selain pengendali PIMSF) akan mengalami efek dilusi kepemilikan saham yang terdiversifikasi minimal sekitar 9,09%
Rencana-rencana tersebut telah dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Geoprima, Senin (22/6/2026).
Direktur Utama Geoprima, Dionysius Tjokro menegaskan, bahwa perubahan haluan ini merupakan bagian dari konsolidasi komprehensif setelah masuknya PIMSF sebagai pemegang saham pengendali baru menggantikan Karnadi Margaka.
"Hal ini dilakukan untuk memperkuat struktur perusahaan dengan bersinergi dengan Tjokro Group serta memperkuat permodalan untuk memenangkan persaingan di industri saat ini yang semakin ketat baik domestik maupun global," ujar Dionysius.
Ia menambahkan, bahwa melalui sinergi ini, Geoprima ditargetkan mampu mengamankan seluruh rantai pasok (supply chain) industri solusi komponen mekanikal dari hulu (upstream) hingga ke hilir (downstream).
"Sinergi tersebut akan diciptakan oleh Perseroan untuk menciptakan penguasaan logistik dan rantai pasok yang terpadu agar menciptakan efisiensi dan nilai tambah kepada para pelanggan Perseroan," kata Dionysius.
Dia juga menambahkan, berdasarkan studi kelayakan bisnis yang disusun oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Edi Andesta & Rekan, proyeksi atas perubahan usaha dan pengelolaan aset ini sangat menjanjikan.
Laba bersih Geoprima diperkirakan melesat hingga 400% di tahun pertama, dengan potensi tambahan pendapatan setelah pajak berkisar antara Rp7,9 miliar hingga Rp33 miliar per tahun.
Parameter keuangan juga menunjukkan hasil yang sehat dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 38,29% dan Payback Period selama 5 tahun 10 bulan.
Pada tahap awal operasionalnya, aset tersebut akan kembali disewakan kepada JIC dengan nilai transaksi sewa mencapai Rp9,3 miliar demi menjaga keberlanjutan produksi fasilitas pabrik.
Adapun RUPSLB Geoprima juga menyetujui perubahan data Perseroan terkait susunan pemegang saham pasca-pelaksanaan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) oleh PIMSF.
Berdasarkan Daftar Pemegang Saham (DPS) per 29 Mei 2026, peta kepemilikan saham GPSO secara resmi menjadi PIMSF (Pengendali Baru) memegang 246.369.600 lembar saham dan Masyarakat memegang 420.371.503 lembar saham.



