Menkeu Targetkan Penerbitan Panda Bonds Bisa Raup US$1 Miliar
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah RI menargetkan dari penerbitan surat utang Panda Bonds bisa mencapai 1 miliar dolar AS.
"Pertama sih kita targetnya mungkin 1 miliar dolar AS, tapi kita lihat market (pasar)-nya seperti apa, kalau market-nya bisa lebih besar, kita akan perbesar, tergantung dengan kondisi market-nya," kata Purbaya Yudhi Sadewa di Beijing, Kamis (18/6), seperti dilansir Antara.
Seperti diketahui, Indonesia segera melancarkan penerbitan surat utang dengan target khusus investor China.
Hal ini demi memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui diversifikasi sumber pembiayaan internasional.
Panda Bonds adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah, lembaga multilateral, atau perusahaan asing di pasar obligasi domestik China dalam mata uang yuan atau renminbi, sehingga dapat dijual langsung kepada investor di China daratan.
Namun, untuk menerbitkan Panda Bond, pemerintah, lembaga multilateral, atau perusahaan asing harus memenuhi ketentuan otoritas keuangan China yaitu China People’s Bank of China (PBOC) dan National Association of Financial Market Institutional Investors (NAFMII).
"Waktu pertemuan dengan PBOC, kami diminta melakukan percepatan pengeluaran izinnya tapi memang dari pihak 'underwriter'-nya belum dimasukkan dan pihak PBOC meminta agar segera dimasukkan izinnya sehingga mereka dapat segera memproses. Jadi dukungan mereka ke rencana ini amat baik," beber Purbaya.
Dengan dukungan dari PBOC tersebut, Purbaya pun optimistis bahwa "Panda Bonds" dapat diterbitkan pada tahun ini.
"Ini minggu depan sudah mulai 'book building' harusnya begitu izinnya keluar ya. Jadi dua minggu lagi sudah putus mungkin," ungkap Purbaya.
Adapun “Book building" yang dimaksud adalah masa penawaran awal dimana perusahaan dan penjamin emisi (underwriter) mengumpulkan minat dan pesanan dari investor dalam rentang harga tertentu.
"Kemudian bisa dilihat berapa sih (minat terhadap Panda Bonds), dan kami memang ingin diversifikasi sumber pendanaan pembangunan, sehingga tidak dipengaruhi oleh satu sumber mata uang saja," imbuh Menkeu Purbaya.
Sementara itu, Indonesia dan China sendiri sudah memiliki perjanjian bilateral (local currency transaction) yang mempermudah transaksi antara masyarakat kedua negara.
"Transaksi dengan Yuan bisa langsung dikonversi ke Rupiah, karena perjanjian antara bank sentral Indonesia dengan bank sentral China. Jadi saya akan coba juga, bisa tidak memakai untuk memanfaatkan langsung 'bilateral swap agreement' tadi sehingga langsung ke rupiah dan akan mengurangi tekanan terhadap rupiah juga nantinya," jelas Purbaya.
Sedangkan dalam pembicaraan dengan Menteri Keuangan Tiongkok, Lan Fo’an, Purbaya mengaku melakukan diskusi yang menarik.
"Pada dasarnya, Kementerian Keuangan China menguasai banyak BUMN termasuk calon investor-investor yang kami datangi, jadi restu dari Kementerian Keuangan China amat menentukan pada keberhasilan 'bond issue' (penerbitan obligasi) kita dan Kementerian Keuangan China amat mendukung rencana kami untuk menerbitkan 'bond' di China," tambah Purbaya.
Dengan menggunakan mata uang yuan atau renminbi, "Panda Bonds" diketahui memberi akses bagi negara atau perusahaan asing untuk memperoleh pendanaan dari pasar keuangan China yang dinilai memiliki likuiditas besar dan basis investor yang luas.
Dana hasil penerbitan "Panda Bonds" dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan anggaran, proyek infrastruktur, investasi, atau kebutuhan korporasi lain.
Ada beberapa keuntungan yang didapat dari hasil penerbitan Panda Bonds ini.
Pertama, membuka akses ke sumber pembiayaan baru di luar pasar obligasi berbasis dolar AS atau euro.
Kedua, biaya pendanaan berpotensi lebih efisien jika tingkat suku bunga di pasar China lebih kompetitif dibandingkan pasar obligasi global berbasis dolar AS dan penerbit pun memperoleh dana dengan biaya pinjaman yang lebih rendah dan struktur pendanaan yang lebih optimal.
Ketiga, "Panda Bonds" juga mengurangi risiko dalam pengelolaan nilai tukar, karena jika suatu negara memiliki kebutuhan pembiayaan atau perdagangan terkait dengan China, penggunaan yuan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menekan risiko fluktuasi kurs dan akhirnya dapat mendukung diversifikasi cadangan devisa serta memperkuat hubungan ekonomi serta keuangan dengan China.
Keempat, bagi investor domestik China, "Panda Bonds" memberi pilihan instrumen investasi yang lebih beragam mengingat investor dapat memperoleh eksposur terhadap penerbit internasional tanpa harus keluar dari pasar keuangan domestik.



