Peringkat Efek Indonesia (Pefindo)|PT Pefindo|pasar surat utang|refinancing|surat utang korporasi|Penerbitan surat utang

PEFINDO: Penerbitan Surat Utang Berpotensi Tembus Rp196 Triliun, Tapi Ancaman Yield Tinggi dan Gejolak Global Mengintai

Oleh: Harry

08 Juli 2026, 13:08
PEFINDO: Penerbitan Surat Utang Berpotensi Tembus Rp196 Triliun, Tapi Ancaman Yield Tinggi dan Gejolak Global Mengintai

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memperkirakan penerbitan baru surat utang korporasi sepanjang 2026 masih akan berlangsung solid.

Nilainya diproyeksikan berada di kisaran Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan proyeksi tengah mencapai Rp175,77 triliun.

Sebagai gambaran, hingga akhir Juni 2026 realisasi penerbitan surat utang telah mencapai Rp87,35 triliun.

Jika laju tersebut berlanjut hingga akhir tahun, total penerbitan diperkirakan mencapai sekitar Rp174,70 triliun.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pemeringkatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), Hendro Utomo, dalam Media Forum PEFINDO yang digelar secara daring, Rabu (8/7).

Menurut Hendro, salah satu faktor utama yang akan menopang penerbitan surat utang pada semester II-2026 adalah besarnya kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing).

"Jatuh tempo surat utang korporasi pada semester II-2026 mencapai Rp107,51 triliun," ujarnya.

Besarnya nilai surat utang yang jatuh tempo tersebut diperkirakan akan mendorong banyak perusahaan kembali masuk ke pasar obligasi untuk memperoleh pendanaan baru.

Selain kebutuhan refinancing, PEFINDO menilai terdapat sejumlah faktor lain yang mendukung prospek penerbitan surat utang tahun ini, antara lain:

-Pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan tetap stabil, didukung kebijakan fiskal yang ekspansif serta kebijakan moneter yang menjaga stabilitas pasar keuangan.

-Minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap yang masih tinggi, seiring tekanan yang masih membayangi pasar saham sehingga obligasi menjadi alternatif investasi yang menarik.

Tantangan Masih Membayangi

Meski prospeknya positif, Hendro mengingatkan, bahwa emiten tetap menghadapi berbagai tantangan dalam menerbitkan surat utang sepanjang semester kedua tahun ini.

Beberapa risiko yang perlu diwaspadai meliputi:

-Ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih cenderung hawkish sehingga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan mendorong kenaikan yield acuan.

-Tingginya yield domestik akibat suku bunga yang masih tinggi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, besarnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), serta persaingan dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

-Investor semakin selektif dan cenderung memilih obligasi dengan peringkat A ke atas, sehingga ruang penerbitan bagi emiten dengan peringkat lebih rendah masih relatif terbatas.

-Kupon obligasi bagi emiten berperingkat single-A ke bawah dinilai kurang kompetitif dibandingkan memperoleh pembiayaan melalui kredit perbankan.

Pasar Mulai Mengkhawatirkan Perlambatan Ekonomi

Sementara itu, Kepala Divisi Riset Ekonomi sekaligus Chief Economist PEFINDO, Suhindarto, mengatakan pasar surat utang domestik mulai menunjukkan sinyal kewaspadaan terhadap perlambatan ekonomi.

Menurutnya, fenomena inversi yield mulai terlihat, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

"Terjadi inversi spread yield domestik pada awal Juni 2026. Tekanan di pasar surat utang perlu diwaspadai," kata Suhindarto.

Ia menambahkan, peningkatan premi risiko serta penyempitan selisih yield Indonesia dibanding negara sejenis (peers) membuat pasar domestik semakin rentan terhadap koreksi harga maupun arus keluar modal asing (capital outflow).

Di sisi lain, pasokan surat utang pemerintah masih tinggi, sementara SRBI semakin memperketat persaingan di instrumen bebas risiko (risk-free instrument).

"Demand memang masih ditopang Bank Indonesia, tetapi arus investor tetap sangat selektif," jelasnya.

Menurut Suhindarto, yield obligasi India yang masih menarik serta tingginya imbal hasil SRBI membuat pasar surat utang Indonesia harus menawarkan premi yang cukup besar untuk menarik minat investor asing maupun investor institusi seperti perbankan.

Selain itu, aliran dana asing ke pasar obligasi domestik masih terbatas. Investor domestik, termasuk perbankan, juga cenderung berhati-hati dalam melakukan investasi.

Meski demikian, pembelian obligasi oleh Bank Indonesia dinilai mampu membantu menyerap pasokan surat utang dan meredam kenaikan yield di tengah volatilitas nilai tukar rupiah.

Faktor yang Perlu Dicermati pada Semester II-2026

PEFINDO menilai terdapat sejumlah faktor utama yang akan menentukan arah pasar surat utang nasional pada paruh kedua tahun ini, yaitu:

-Risiko geopolitik dan suku bunga tinggi, yang berpotensi menjaga volatilitas pasar sekaligus menahan yield tetap tinggi.

-Pertumbuhan ekonomi dan inflasi domestik, karena perlambatan ekonomi yang disertai kenaikan inflasi dapat menekan aktivitas dunia usaha dan kebutuhan pembiayaan.

-Pergerakan nilai tukar rupiah, di mana penguatan rupiah akan menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi.

-Defisit fiskal pemerintah, yang apabila tetap terjaga di bawah 3% dari PDB akan meningkatkan kredibilitas fiskal sekaligus mengurangi tekanan penerbitan utang baru.

-Besarnya jatuh tempo dan penerbitan surat utang pemerintah, yang berpotensi mempertahankan yield pada level tinggi.

-Penerbitan SRBI dengan imbal hasil tinggi, yang akan terus memengaruhi kenaikan yield jangka pendek di pasar.

-Jatuh tempo surat utang korporasi sebesar Rp107 triliun pada semester II-2026, yang diperkirakan menjaga aktivitas penerbitan obligasi tetap tinggi karena kebutuhan refinancing.

-Pergerakan yield obligasi korporasi dibanding suku bunga kredit perbankan, karena kenaikan yield di tengah bunga kredit yang relatif stabil dapat mengurangi daya tarik penerbitan obligasi, khususnya bagi emiten dengan peringkat kredit lebih rendah.

Secara keseluruhan, PEFINDO menilai pasar surat utang korporasi masih memiliki peluang tumbuh pada semester II-2026, terutama ditopang kebutuhan refinancing yang sangat besar.

Namun, keberhasilan penerbitan obligasi akan sangat ditentukan oleh stabilitas pasar keuangan, arah kebijakan moneter global, serta kemampuan emiten menawarkan imbal hasil yang kompetitif di tengah meningkatnya selektivitas investor.

Berita Terkini

See More