BEI dan IBCWE Bongkar Fakta: Hanya 15% Pimpinan Eksekutif Emiten Top Indonesia yang Perempuan
Oleh: Harry
foto: dok. BEI
Pasardana.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) meluncurkan temuan awal 'Census on Women in Executive Leadership Team (ELT) in IDX200 Companies 2022–2025' di Jakarta, Senin (15/6).
Acara bertema “From Disclosure to Impact: Advancing Women's Leadership in IDX200 Companies” ini dihadiri lebih dari 200 pemimpin perusahaan, regulator, dan pembuat kebijakan untuk membahas pentingnya kesetaraan gender dalam kepemimpinan korporasi sebagai bagian dari agenda ESG.
Penelitian tersebut menganalisis laporan tahunan dan keberlanjutan 200 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI selama empat tahun terakhir.
Hasilnya menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di jajaran eksekutif masih rendah dan belum mengalami kemajuan berarti.
Pada 2025, hanya 164 dari 1.094 anggota Executive Leadership Team (15%) yang merupakan perempuan, hampir tidak berubah dibandingkan 2022 yang mencatat 159 perempuan dari 1.059 anggota ELT.
Sementara itu, jumlah perusahaan yang dipimpin CEO perempuan hanya 11 dari 200 emiten, sama seperti pada 2022.
melansir siaran pers BEI, Senin (15/6), Komisaris Utama BEI, Nurhaida, menegaskan bahwa sensus ini merupakan wujud komitmen BEI untuk memperkuat transparansi dan mendorong praktik keberlanjutan yang berdampak nyata bagi pasar modal Indonesia.
Advisory Board IBCWE, Andrie Darusman, menekankan bahwa pelaporan data gender bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan instrumen strategis untuk memetakan jalur karier perempuan, mengidentifikasi hambatan, serta mengukur dampak kebijakan secara berkelanjutan.
Perwakilan Kedutaan Besar Australia, Jonathan Gilbert, menyampaikan bahwa pengukuran yang transparan menjadi dasar perubahan yang efektif. Pemerintah Australia melalui program Investing in Women turut mendukung pelaksanaan sensus ini.
Direktur BOI Research Services Indonesia, Dian Irawati, mengungkapkan bahwa kenaikan jumlah CEO perempuan dari delapan menjadi 11 dalam empat tahun masih jauh dari memadai bagi 200 perusahaan terbesar di Indonesia.
Dalam diskusi panel, para pembicara menyoroti pentingnya pelaporan gender yang lebih bermakna.
Direktur Keuangan, SDM, dan Umum BEI, Risa E. Rustam, mengatakan bahwa keberagaman gender kini menjadi sinyal penting bagi investor dan dapat meningkatkan nilai ESG perusahaan.
ESG Specialist FIHRRST, Dr. Unang Mulkhan, menilai pelaporan gender harus mampu menjawab kondisi representasi perempuan saat ini, proses pembentukan calon pemimpin perempuan, serta hambatan struktural yang masih ada.
Sementara itu, Group General Manager People and Organization PT BUMA International Group Tbk, Kanya Sjahrir, menekankan pentingnya dukungan dari pimpinan melalui sponsorship agar talenta perempuan dapat berkembang hingga level manajerial dan eksekutif.
Menutup diskusi, Direktur Eksekutif IBCWE, Wita Krisanti, menegaskan bahwa perempuan memiliki kompetensi dan kesiapan untuk memimpin.
Tantangannya adalah memastikan sistem di perusahaan mendukung mereka melalui jalur karier yang terbuka, dukungan aktif dari pimpinan, serta pelaporan yang jujur mengenai hambatan yang masih ada.
Secara keseluruhan, sensus ini menegaskan pentingnya penguatan indikator gender dalam pelaporan ESG dan keberlanjutan.
Dengan data yang lebih baik dan transparan, perusahaan dapat melacak perkembangan kepemimpinan perempuan, menetapkan target yang terukur, serta memperkuat akuntabilitas kepada investor dan pemangku kepentingan, sejalan dengan standar keberlanjutan nasional dan global.




