ANALIS MARKET (17/3/2026): Antisipasi Volatilitas Harga dan Yield SBN Berdenominasi Rupiah
Pasardana.id - Riset harian fixed income BNI Sekuritas menyebutkan, tren pelemahan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berlanjut pada sesi perdagangan kemarin.
Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) naik sebesar 28 bp menjadi 6,53%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) naik sebesar 14 bp menjadi 6,90%.
Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) naik sebesar 11 bp ke level 6,91%.
Level yield curve 10-tahun telah melampaui upper bound dari weekly estimated range di kisaran 6,70%-6,90%.
Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp28,7 triliun kemarin, tidak banyak berubah dibandingkan dengan volume transaksi di hari Jumat yang tercatat sebesar Rp28,0 triliun.
FR0109 dan PBS032 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp5,2 triliun dan Rp4,8 triliun.
Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp11,5 triliun.
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah sebesar 0,23%, bergerak dari level Rp16.958/US$ di hari Jumat menjadi Rp16.997/US$ kemarin.
Per 16 Maret 2026, data Bloomberg menunjukkan harga minyak Brent tercatat sebesar US$100,9/barel atau turun sebesar 2,2% dibandingkan level penutupan sebelumnya.
Per Selasa (17/3) pagi ini, indikator global menunjukkan sentimen yang mixed.
Yield curve US Treasury (UST) 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 7bp dan 5bp menjadi 3,80% dan 4,23%.
Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia masih meningkat sebesar 1bp menjadi 93bp.
"Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi bertahannya volatilitas pada harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0082, FR0096, FR0100, FR0080, FR0103, FR0072," sebut Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Selasa (17/3).

