Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (11/6/2026): Volatilitas Tinggi Masih Mengintai, Wait and See!

Oleh: Ria

11 Juni 2026, 08:44
ANALIS MARKET (11/6/2026): Volatilitas Tinggi Masih Mengintai, Wait and See!

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street kembali mengalami koreksi tajam pada perdagangan Rabu (10 Juni 2026) karena kombinasi meningkatnya ketegangan AS-Iran, lonjakan harga minyak, dan aksi ambil untung yang berkelanjutan pada saham AI dan semikonduktor.

Dow Jones turun 1,87% menjadi 49.918,78, S&P 500 melemah 1,62% menjadi 7.266,99, Nasdaq anjlok 1,98% menjadi 25.169,50, sementara Indeks MSCI World turun 1,49%.

Sektor teknologi sekali lagi menjadi sumber tekanan utama.

Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) turun 3,6% dan telah kehilangan sekitar 13% selama seminggu terakhir.

Nvidia turun 3,8%, Broadcom menjadi salah satu saham yang paling menekan S&P 500, sementara Super Micro Computer merosot 28% setelah mengumumkan penggalangan dana sebesar USD 7 miliar untuk memenuhi permintaan server AI.

Sektor teknologi S&P 500 kini telah terkoreksi sekitar 11% dari rekor tertingginya pada 2 Juni.

-Kekhawatiran mengenai valuasi AI semakin meningkat menjelang IPO SpaceX pada hari Jumat, yang menargetkan valuasi sekitar USD 1,75 triliun dan penggalangan dana hingga USD 75 miliar, berpotensi menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar tetap didominasi oleh perkembangan di Timur Tengah setelah CENTCOM mengumumkan gelombang serangan baru terhadap Iran menyusul instruksi dari Presiden Donald Trump. Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan "membayar harga" jika terus menunda pakta perdamaian, sementara Iran menekankan bahwa mereka akan membalas setiap ancaman atau serangan yang diterimanya. Konflik yang kini memasuki bulan keempat ini kembali menimbulkan kekhawatiran atas pasokan energi global. Ketidakpastian tetap tinggi karena Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, tetap menjadi titik rawan utama bagi risiko energi global.

-Trump juga mengklaim Amerika Serikat telah menjalankan "misi rahasia" untuk membantu lebih dari 200 kapal komersial melewati Selat Hormuz dan mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar global. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Menteri Energi AS Chris Wright, yang mengakui bahwa ia tidak mengetahui operasi tersebut.

KEBIJAKAN MONETER: Bank of Canada mempertahankan suku bunga acuannya, sementara pasar sekarang menunggu keputusan ECB, data inflasi PPI AS, dan perkembangan terbaru dalam konflik AS-Iran, yang tetap menjadi pendorong utama bagi pasar global. Pasar juga terus memantau dengan cermat apakah kenaikan harga energi akibat perang Iran akan memaksa Federal Reserve, ECB, dan Bank of Japan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Data CPI AS bulan Mei menunjukkan inflasi naik menjadi 4,2% YoY dari 3,8% pada bulan April, tertinggi sejak April 2023. Namun, CPI Inti AS hanya naik 2,9% YoY dengan peningkatan bulanan sebesar 0,2%, lebih rendah dari ekspektasi 0,3%. Lebih dari 60% kenaikan inflasi berasal dari energi, dengan harga energi naik 23,5% YoY dan harga bensin melonjak 40,5%.

-Menurut CME FedWatch, pasar masih mengharapkan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan minggu depan, yang akan menjadi FOMC pertama di bawah Ketua baru Kevin Warsh. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga 25bps pada akhir tahun meningkat menjadi sekitar 43%. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik menjadi 4,55%, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun kembali menembus angka 5%.

-Indeks DXY bertahan di sekitar level 100, Euro berada di USD 1,154, sementara USD/JPY naik menjadi 160,52, mendekati level yang sebelumnya memicu intervensi Jepang.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa relatif lebih stabil dibandingkan Wall Street. STOXX 600 turun 0,08%, DAX Jerman melemah 0,9%, CAC 40 Prancis turun 0,5%, sementara FTSE 100 Inggris naik 0,3%. Fokus investor kini tertuju pada pertemuan ECB, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25bps. Barclays menilai bahwa pasar Eropa berpotensi menjadi alternatif diversifikasi di tengah berakhirnya perdagangan AI, sementara Bank of America mempertahankan sikap bearish terhadap Euro karena kesenjangan pertumbuhan ekonomi antara AS dan Zona Euro serta risiko energi yang tinggi di kawasan tersebut.

-Di Asia, KOSPI Korea Selatan anjlok 4% karena tekanan pada saham chip, Nikkei Jepang turun 1,1%, sementara CSI 300 China turun 1%. Jepang melaporkan bahwa inflasi produsen (PPI) naik 6,3% YoY, tertinggi dalam tiga tahun, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ menjadi 1,0% minggu depan. Perhatian pasar juga tertuju pada ketidakhadiran Gubernur BOJ Kazuo Ueda, yang dirawat di rumah sakit menjelang pertemuan kebijakan. Di Tiongkok, CPI yang lemah menunjukkan konsumsi domestik tetap lesu, sementara PPI melonjak ke level tertinggi hampir 4 tahun karena kenaikan harga energi dan komoditas. Pagi ini, Korea Selatan merilis angka pengangguran Mei, yang tetap stabil di level 2,8% seperti sebelumnya.

KOMODITAS: Harga minyak terus menguat seiring dengan meningkatnya risiko geopolitik. Minyak mentah Brent naik menjadi USD 93,10/barel sementara US WTI ditutup pada USD 98,03/barel. Menurut EIA, persediaan minyak mentah komersial AS turun sebesar 7,2 juta barel minggu lalu, melebihi perkiraan penurunan sebesar 3 juta barel. Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) turun menjadi 349,2 juta barel, level terendah sejak Agustus 2023.

-Sebaliknya, harga emas anjlok 4,3% menjadi USD 4.078/oz karena penguatan Dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan aksi ambil untung investor meskipun ketidakpastian geopolitik meningkat.

AGENDA EKONOMI HARI INI: Keputusan suku bunga dari ECB dan Bank Sentral Turki. Inflasi PPI AS Mei, Klaim Pengangguran Awal AS, dan Lelang Obligasi Pemerintah AS 30 tahun senilai USD 22 miliar.

INDONESIA: Survei Konsumen BI menunjukkan bahwa optimisme publik terhadap perekonomian tetap kuat pada Mei 2026, dengan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) bertahan pada level tinggi 120,9, didukung oleh ekspektasi ekonomi masa depan yang solid (IKK 129,7). Meskipun demikian, persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini mulai melunak, tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang turun menjadi 112,2 dari 116,5 pada bulan April, menunjukkan bahwa konsumen tetap optimis tentang masa depan tetapi mulai lebih berhati-hati terhadap kondisi saat ini.

-Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia membaik pada kuartal pertama tahun 2026, dengan kewajiban bersih turun secara signifikan menjadi USD 227,6 miliar dari USD 273,4 miliar pada kuartal keempat tahun 2025, terutama karena penurunan yang lebih besar pada Kewajiban Keuangan Luar Negeri (KFLN) dibandingkan dengan penurunan Aset Keuangan Luar Negeri (AFLN). Perbaikan ini menurunkan rasio kewajiban PII bersih terhadap PDB menjadi 15,5% dari 18,9%, sementara investasi langsung terus mencatat surplus dan struktur kewajiban eksternal tetap sehat, didominasi 92,5% oleh instrumen jangka panjang.

-Data Penjualan Ritel (April) akan diamati hari ini untuk menentukan apakah daya beli masyarakat (khususnya pendapatan kelas menengah) masih dapat diandalkan sebagai komponen pendorong utama pertumbuhan ekonomi. JCI menguat 155,73 / +2,71%, menembus kembali level 5.900 (tepatnya ditutup pada 5.902,38), memperpanjang rebound 2 hari setelah jatuh ke titik terendah tahun ini di 5.317. Kali ini, semua sektor menikmati keuntungan, dipimpin oleh IDX Perbankan +4,87%, Transportasi +4,51%, dan Teknologi +4,37%. Kurs Rupiah juga berhasil menguat di bawah level 18.000, tepatnya naik 0,63% menjadi 17.944/USD. Sayangnya, investor asing secara konsisten melakukan penjualan bersih besar-besaran sebesar Rp 2,93 triliun, didominasi oleh saham-saham seperti BBRI, TPIA, BBNI, ANTM, BUMI, TLKM, ASII, dan CUAN (nilai transaksi > 100 miliar); sehingga total penjualan bersih asing kumulatif YTD mencapai Rp 78,32 triliun.

“Secara teknis, Kami akan memantau apakah Resistance penting pertama: MA10, yang sejajar persis dengan posisi penutupan JCI kemarin, dapat ditembus dengan kuat hari ini (posisi penutupan). Jika demikian, TARGET selanjutnya adalah menembus level Resistance psikologis 6.000 sebelum menuju MA20/sekitar 6.250. Saran: tunggu breakout yang meyakinkan di atas Resistance sebelum melakukan Averaging Up, karena volatilitas tinggi masih mengintai,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (11/6).

Berita Terkini

See More