ANALIS MARKET (23/2/2026): Antisipasi Peningkatan Volatilitas Harga dan Yield SBN Berdenominasi Rupiah
Pasardana.id – Riset harian Fixed Income BNI Sekuritas menyebutkan, harga Surat Utang Negara (SUN) ditutup mixed pada sesi perdagangan terakhir di pekan lalu.
Data PHEI menunjukkan, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0109) turun sebesar 2 bp ke level 5,74%, sementara yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0108) turun sebesar 3 bp ke level 6,43%.
Berdasarkan data Bloomberg, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) tidak berubah di level 6,46%.
Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp24,0 triliun di hari Jumat, lebih rendah dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp28,8 triliun.
FR0108 dan FR0101 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing - masing sebesar Rp2,3 triliun dan Rp2,2 triliun.
Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp4,9 triliun.
Investor asing mencatatkan beli neto di pasar saham sebesar Rp1,83 triliun pada periode 18–19 Februari 2026.
Di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk periode yang sama investor asing mencatatkan jual neto transaksi sebesar Rp1,78 triliun.
Sementara itu di pasar SBN, data settlement DJPPR menunjukkan investor asing mencatatkan jual neto sebesar Rp2,69 triliun pada periode 18-19 Februari 2026.
Dengan demikian, secara agregat total net flow investor asing pada periode 18–19 Februari 2026 diperkirakan jual neto sebesar Rp2,64 triliun.
Secara kumulatif sejak awal tahun 2026 hingga 19 Februari 2026, investor asing mencatatkan jual neto sebesar Rp14,7 triliun di pasar saham, jual neto sebesar Rp0,9 triliun di pasar SBN, serta beli neto sebesar Rp33,7 triliun di pasar SRBI. (BI, DJPPR, IDX).
Pekan lalu, Bank Indonesia menyelenggarakan satu kali lelang SRBI (20 Februari) dengan total nominal awarded Rp15,0 triliun, lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya yang dilakukan melalui dua kali lelang (11 Februari dan 13 Februari) dengan nominal penyerapan secara agregat Rp45,0 triliun.
Untuk tenor 12 bulan, WAY SRBI tercatat di 5,07% pada lelang 20 Februari, meningkat ±3bp dibandingkan lelang pada 13 Feb 2026.
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menguat sebesar 0,04%, bergerak dari level Rp16.894/US$ di hari Kamis menjadi Rp16.888/US$ di hari Jumat (20/2).
Sementara itu, per posisi Jumat (20/2), indikator global menunjukkan sinyal yang sedikit positif bagi pasar obligasi, tercermin dari penurunan Credit Default Swap (CDS) Indonesia.
CDS 5-tahun Indonesia turun sebesar 1bp dari hari sebelumnya menjadi 81bp.
Sementara itu, yield curve US Treasury (UST) 5-tahun dan 10-tahun masing-masing bertahan di 3,65% dan 4,08%.
Secara week-over-week, yield curve UST 10-tahun meningkat sebesar 4bp, CDS 5-tahun Indonesia turun sebesar 1bp, dan Rupiah melemah 0,31% terhadap US$.
Dengan kondisi di atas, yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) mencatatkan peningkatan mingguan sebesar 6bp menjadi 6,46%.
“Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, BNI Sekuritas mengantisipasi peningkatan volatilitas harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi Rupiah. BNI Sekuritas memproyeksikan weekly range untuk yield SUN 10-tahun pada periode 23 – 27 Februari 2026 di kisaran 6,23%-6,48%. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0100, FR0103, FR0108, FR0098, FR0106,” sebut Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe dalam riset Senin (23/2).

